dsc01655_argus1.jpgSejak kaki kita melangkah masuk hutan, kita menjadi salah satu bagian dari hutan. Robinson Crusoe pada awalnya merasa seorang diri, tetapi lama kelamaan ia tak lagi sendiri. Mendirikan stasiun penelitian di tengah hutan juga mengalami proses yang serupa seperti yang dialami sebuah stasiun penelitian di Lampung. Sesuatu yang asing muncul dan terbangun di tengah hutan. Penghuninya pasti menyingkir sesaat sambil pikir-pikir apakah penghuni baru ini tak akan mengganggunya.

Biawak (Varanus salvator), hewan satu ini yang paling cuek. Dari awal-awal tahun berdirinya camp ini, biawak adalah yang paling berani menjelajahi sekitar camp. Ayam hidup dari pasar, sumber protein masyarakat camp menjadi incarannya. Hari-hari ini terhitung tak kurang dari 10 ekor mulai dari yang besar dan kecil, yang cacat maupun tidak berkeliaran di camp atau berenang-renang di sungai. Memang repotnya seperti ini, karena sisa-sisa makanan yang dibuang sulit dikontrol keamanannya. Beberapa tahun lalu, sekeluarga landak sering berkunjung di malam hari (terutama jika menu malam itu adalah ayam). Tak ada sisa makanan tak juga menyurutkan niatnya untuk memperoleh sesuatu, sebongkah kelapa raib entah didorongnya ke mana. Beberapa bajing juga termasuk yang paling berani masuk ke tempat makan mencari remah-remah makanan, atau sisa gula yang berceceran.

Three-striped ground squirrel

Stasiun penelitian ini memang tak ubahnya sebagai suatu lansekap kecil, gabungan antara lansekap manusia dan lansekap biologi. Manusia penghuni camp ini misalnya memilah-milah lansekapnya di strata bawah hutan menjadi ruang-ruang untuk kerja, makan, dan istirahat. Sementara di strata menengah hingga di antara tajuk-tajuk pohon, satu keluarga siamang terkadang tidur di atas pohon, tepat di atas sebagian manusia memakai ruangnya untuk istirahat pula. Suatu kerjasama yang cukup unik karena ‘bom-bom kotoran’ yang dijatuhkan siamang saat ia bangun di pagi buta, membangunkan manusia dan mengingatkan untuk segera bersiap kerja.

Cecah, Presbytis melalophos

Lansekap yang saling tumpang tindih ini memberikan peluang bagi manusia untuk mengamati beberapa perilaku satwa atau sekedar mendapatkan momen terbaik bagi kameranya. Beberapa manusia penghuni camp menjadi saksi hidup terbentuknya keluarga siamang tadi, sejak mulai sang jantan masih tergabung dalam ‘the lonely heart club’ hingga usaha PDKTnya ke betina. Sekelompok cecah (Presbytis melalophos), sejenis Primata pemakan daun sesekali datang saat beberapa pohon mulai menumbuhkan daun-daun mudanya. Juga anggota ‘the lonely heart club’ lain seperti seekor beruk (Macaca nemestrina). Tahun 2008 ini juga kali kedua seekor kuau jantan muda datang di camp. Namun tak pernah ada jantan dewasa yang datang yang mungkin lebih suka teritorinya tak terjamah manusia. Jadi, bisa dikatakan hewan-hewan yang telah disebut adalah mahluk-mahluk yang masuk dalam ring 1. Menduduki ring berikutnya adalah jenis-jenis mamalia besar pemalu seperti rusa Sambar (Cervus unicolor) yang memang lebih suka mendatangi padang terbuka di pinggir sungai yang penuh dengan tumbuhan-tumbuhan pioneer muda. Sekelompok gajah sesekali juga datang dan biasanya hanya di malam hari. Pernah juga seekor gajah penyendiri datang merumput di tepi sungai di pagi hari. Segenggam rumput yang dicabut dengan belalainya kemudian dikibas-kibaskan di air, dibersihkan dari sisa-sisa tanah yang ikut tercabut, baru kemudian dilahapnya. Gajah pun tahu kebersihan.

Dalam sepuluh tahun camp ini berdiri, untungnya belum ada satupun hewan yang beralih ruang. Semuanya baik manusia maupun hewan masih lebih suka berada di tempatnya masing-masing dan hidup dengan caranya masing-masing. Siamang dan cecah masih berada di strata tengah dan atas. Hewan lain datang dan pergi sesukanya. Terbayangkah kondisi yang serupa di rumah anda? Tahukah bahwa seekor musang terkadang masuk di loteng rumah atau berkeliaran di pekarangan di malam hari atau seekor codot menikmati papaya yang baru saja matang di pohonnya?