Sekolah ini bagiku adalah sekolah Totto-chan untuk anakku….

Sekolah ini tentunya jauh dari sebuah gerbong kereta.  Hanya menempati lantai terbawah dari suatu gedung pendidikan tiga lantai.  Tapi bagiku tampak sebagai sekolah Totto-chan.

Tarhib_ramadhan1

Sewaktu saatnya mencarikan TK untuk anakku, saya pernah bertanya pada teman, seorang pendidik, adakah TK bagus di lingkungan kita ini? Dia hanya menjawab, hubungan guru dan muridnya adalah hubungan yang unik.  Haha….ini bukan solusi pastinya, tetapi membuat saya berpikir ulang, apa yang ingin aku lihat dari anakku?  Yang terbayang pertama adalah aku ingin menciptakan suatu ‘neighborhood’ untuk anakku, sama seperti yang dulu ibuku berikan kepadaku.  Sekolah yang tidak jauh dari rumah, teman-teman masa kecil yang tidak jauh dari rumah, yang bisa saling menyambangi, bermain bersama, dan belajar bersama.

Main_kelereng2

Beberapa pilihan mungkin ada, tetapi sekolah ini selain berbasis Islam, juga menawarkan sisipan ‘science’ dalam sistem pengajarannya. Hehe…ini gue banget yak…..  Jadi, kalau boleh menuliskan beberapa pointers kelebihannya:

  • Sistem penekanan biaya yang menarik. Dengan uang pangkal yang relatif tidak mahal, sekolah ini mengatasi penekanan biaya dengan mengurangi jumlah seragam.  Anakku hanya punya 2 seragam, sepasang jas lab dan topinya, serta sepasang baju olah raga.  Sisanya baju bebas dan hari jumat dipersilakan memakai baju koko untuk laki-laki dan gamis untuk perempuan.  Uang POMG per bulan juga cukup minim, dan cukup untuk menu sehat bagi anak-anak setiap bulannya, serta kegiatan outing setidaknya dua kali dalam setahun masa belajar dan kegiatan terjadwal lainnya.  Pada setiap kegiatan, hadiah untuk anak-anak juga sederhana dan tidak pernah dalam bentuk piala.  Mungkin ini juga mengurangi sifat kompetisi antar anak-anak dan mengutamakan kebersamaan dan usaha.  Apresiasi keberhasilan anak disampaikan dalam bentuk hadiah-hadiah sederhana seperti stiker, mainan-mainan murah dan sederhana, dan tidak dalam bentuk ‘nilai’ seperti bintang atau senyuman.
  • Sisipan science diberikan dalam bentuk tematik yang berubah-ubah setiap bulan. Tema tentang ‘aku’ misalnya adalah pengenalan tubuh manusia dengan sisipan hal-hal menarik seperti ‘spa day’ buat anak-anak.  Tema ‘air’ diisi dengan pengenalan siklus air.  Anakku suatu hari membawa sebotol aqua yang sudah diisi air berwarna biru dan gurita buatan sendiri yang bisa naik-turun botol dengan perlakuan tertentu.  Tema ‘hewan’ selalu paling menarik. Di kelas A dulu, anakku dapat bagian membuat maket hewan peternakan sementara di kelas B sekarang, kami mendapat tugas membuat kostum serangga.  Gurunya bahkan melakukan bedah ikan dan ayam untuk memperlihatkan anatominya dan di akhir hari, mereka bersama-sama makan ikan bakar dan ayam bakar.  Saya rasa pemberian tema juga membuat anak-anak lebih mudah mengingat karena dalam sebulan diberikan materi yang sama berulang-ulang.  Penghargaan sebesar-besarnya untuk guru-guru di sini karena sistem tematik seperti ini tentu menuntut daya kreativitas dan inovasi yang cukup tinggi.
  • A school in the neighborhood. Halaman kecil di depan sekolah mungkin cukup untuk sekitar 40-an anak PG, TK A, dan TK B.  Nyatanya tidak berhenti hingga di sini.  Sekolah ini beruntung berada dalam suatu lingkungan kompleks perumahan yang masih ada masjid, pepohonan, dan rerumputan sehingga masih ada interaksi dengan lingkungan.  Suatu saat pernah diadakannya hari bersepeda.  Semua anak dan guru membawa sepeda dan bersepeda keliling kompleks.  Kebersamaan bersepeda ini pula yang memicu si anak untuk belajar bersepeda.  Di lain waktu, pada tema hewan, anak-anak diajak berjalan keliling kompleks untuk mencari dan menemukan hewan yang ada.  Dan si mulut kecil ini sibuk bercerita tentang pertemuannya dengan ulat, telur kupu-kupu, dan si laba-laba…  Tema keislaman seperti umroh dan haji tentu saja dilakukan di halaman masjid. Tarhib Ramadhan barusan juga dilakukan keliling kompleks perumahan.  Anak-anak dibawakan bendera-bendera kecil bertuliskan ajakan berpuasa dengan tambahan 2 buah permen, yang dibagikan ke tetangga, supir yang sedang mencuci mobil, tukang sayur yang mangkal di sudut jalan, ibu-ibu yang sedang berjalan, siapa saja… Inilah interaksi komunitas yang menurut saya jarang dilakukan oleh institusi pendidikan rendah.  Bahkan mungkin lebih tepat disebut interaksi ekosistem yang sebenar-benarnya, hubungan timbal balik antara manusia – mahluk hidup lain – lingkungan, biotik – abiotik.

Cabut singkong

Pengalaman menyekolahkan anak tentu saja minim, karena anak saya cuma satu.  Tapi dari mulutnya, ia selalu bercerita apa yang dialami di sekolah.  Kadang kami bersama-sama mengulang eksperimen di rumah.  Saya bahkan pernah disuruhnya bertanya ke gurunya tentang bagaimana melakukan eksperimen balonnya hanya karena saya kurang paham ceritanya.  Ia juga kenal dan hafal semua anak-anak di sekolahnya karena semua adalah teman, sama seperti teman-temannya, sama seperti guru-gurunya.  Kalau boleh saya simpulkan, inilah sekolah mungil yang dibangun dengan kesederhanaan dan keilmuan berbasis Islam.  Semoga dari sini lahir cendekiawan-cendekiawati muslim berikutnya…..

Kebahagiaan adalah saat ia berangkat dan pulang sekolah dengan ceria, serta mau bercerita. Bagi saya sudah cukup…..

Iklan