Beberapa tahun lalu saya pernah menempati studio apartment di Athens, GA, seorang diri untuk jangka waktu 6 bulan. Namanya juga tinggal 6 bulan karena hanya tinggal menyelesaikan thesis saja, maka perlengkapan makan dan masak betul-betul hanya untuk kebutuhan pribadi (plus untuk mengundang satu orang saja). Jadi teringat, ada teman pernah berkunjung dan ingin membuat teh sendiri. Saat mencari gula di lemari, Ia berkomentar bahwa dari semua isi kaleng yang ada di situ, tak satupun sesuai dengan judul kalengnya. Ia menemukan gula di dalam kaleng mantan biskuit. Saya memang tak pernah membeli tempat khusus untuk gula, kopi, dan bumbu-bumbu. Hanya memanfaatkan mantan-mantan wadah saja. Sayang dibuang….. hemat pula.

Barangkali ini memang suatu kebiasaan yang diturunkan. Dari mulai ibu saya hingga keponakan boleh dibilang kolektor (nyusuh…. :P). Semua barang dikumpulkan. Mantan kotak makanan, wadah makanan take-away, wadah es krim, hingga pita penghias bingkisan lebaran, kertas bungkus kado…. semuanyaaaaaa…. mantan. Semuanya dicuci (kalau bisa dicuci), dibersihkan, dipak atau disimpan baik-baik untuk suatu saat digunakan kembali… re-use gitu loh. Kalau buat keponakan, tentu saja para mantan koleksinya berubah menjadi bahan mainan baru. Continue reading “Para mantan yang berguna…. (re-using the ex’s)”