Teaching can be boringTeachers are sometimes boring.  Berbagai pelatihan dan kelas, selalu berkutat dengan pemikiran ‘bagaimana materi dapat dipahami’. Dan ini tentu saja harus disesuaikan dengan latar belakang peserta.

Dari pelatihan-pelatihan yang biasanya merupakan bidang pemahaman saya seperti teknik monitoring satwa liar dan analisanya, kali ini saya kembali ke kelas yang pesertanya adalah mahasiswa, anak-anak sekarang yang relatif melek teknologi, yang  jiwanya seharusnya dipenuhi oleh kegairahan intelektual.

Mari masuk ke kelas Ilmu Perilaku Hewan (Behavioral Ecology) saya bersama Dr Jatna Supriatna.  Ini ilmu yang membahas dasar evolusi dari perilaku hewan dalam menghadapi tekanan-tekanan ekologi. Dalam mata kuliah ini dipelajari keputusan-keputusan ekonomi yang dibuat oleh hewan, evolusi persaingan predator dan mangsa, persaingan untuk sumber daya, hidup dalam kelompok, perkelahian, konflik seksual, sistem perkawinan, altruisme dan signaling. Mengapa jantan-jantan muda Enggang klihingan misalnya tidak segera pergi mencari teritori baru, namun justru membantu pasangan Enggang dewasa, mencarikan makanan bagi induk betina yang menyekap diri di dalam lubang sarangnya?  Mengapa bayi-bayi jantan singa dikorbankan (infanticide) oleh jantan dominan di dalam kelompoknya?  Mengapa individu bahkan mengorbankan survivalnya demi kesuksesan survival dari individu lainnya?

Kadang sisi antroposentris kita berpikir bahwa variasi-variasi perilaku pada manusia sangatlah besar.  Tentu saja dengan berkah akal yang ada pada manusia.  Tetapi hewan pun ternyata sangat kompleks.  Perlu kehati-hatian dengan riset mendalam untuk memastikan mengapa altruism terjadi.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, mahasiswa pengampu dibagi dalam beberapa kelompok dan ‘menerjemahkan’ buku “Behavioral Ecology” karangan Krebs dan Davies ke dalam bentuk presentasi.  Beberapa mata kuliah yang pernah saya ikuti di masa lampau menggunakan bentuk ini (tentu saja dulu dilakukan dengan OHP atau bicara saja di depan kelas). Mungkin belum tentu sistem terbaik tetapi ini memaksa otak kita memahami isi buku dibanding dengan mendengarkan dosen berbicara.  Foto dibawah ini misalnya, adalah salah satu kekreatifan kelompok dalam menerjemahkan “game theory”.

Di luar bentuk presentasi kelompok ini, kali ini saya tidak menerapkan ujian tertulis.  Ujian tertulis untuk mata kuliah ini rasanya kurang tepat, karena Ilmu Perilaku Hewan merupakan mata kuliah pilihan.  Mahasiswa pengampu pun bervariasi.  Selain mahasiswa biologi, kali ini menjadi menarik karena diikuti mahasiswa Sastra Arab, Sastra Perancis, dan Psikologi. Jadi pilihan saya kali ini adalah membuat meme dan menulis blog.  Bisa mudah, tetapi bisa pula sulit.

Sedikit kesimpulan saya dari meme dan blog:

  • Pemahaman konservasi mahasiswa biologi sudah sangat baik, namun kadang masih membelenggu pemikiran.  Ini tentang upaya memahami suatu bentuk perilaku, bukan bagaimana manusia menambah tekanan-tekanan terhadap populasinya.
  • Ilmu ini atau penyampaian materi (termasuk saya) mungkin masih sulit menyentuh mahasiswa bidang non-sains (kecuali Psikologi).  Ini terutama karena banyak istilah biologi dasar tidak dipahami seperti spesies, populasi, habitat, ekologi, dll.  Namun tentunya saya sampaikan penghargaan bagi mereka yang selalu hadir saat kuliah serta telah berusaha sebaik-baiknya.  Diskusi pun menjadi lebih kaya
  • Bagi saya, blog posting should be in popular writing style, otherwise nobody reads.  Cukup banyak yang sudah berhasil mengatasi kekakuan dan kebiasaan menulis artikel ilmiah.

Favorite blogs this year….  Enjoy!