Cari

Noon at home, at anywhere

An infuse to lively mind…..

Kategori

Komunitas burung

Waktu yang lama untuk kembali

Dari 10 tahun lalu hingga sekarang, S-1000 selalu menjadi tempat favorit untuk mengamati burung-burung. Sepuluh tahun lalu, 165 ha hutan seputaran Way Canguk yang pernah terbakar di tahun 1997 baru saja mulai menggeliat dari debu dan abu sisa-sisa kebakaran hutan. Pepohonan mengering, tetapi semai-semai bermunculan dan tumbuh menjadi semak bercampur tepus (jahe-jahean) dan alang-alang.

Pemandangan di S-1000
Pemandangan di S-1000

Lanjutkan membaca “Waktu yang lama untuk kembali”

Kompleksitas suatu komunitas

Sebuah keluarga yang selama ini stabil ternyata mengalami gonjang-ganjing. Berkurangnya seorang anggota keluarga, tak bisa dipungkiri cukup menjungkir balikkan suatu tatanan hierarki yang telah ada berikut dengan kegalauan pikiran dan perasaan. Semua yang tertinggal berusaha menyesuaikan dan menempatkan diri pada posisi baru dengan tanggung jawab baru. Bukan proses yang mudah…. Jika semua ini bisa terjadi pada suatu keluarga, maka bayangkan pergolakan yang terjadi pada suatu komunitas. Lanjutkan membaca “Kompleksitas suatu komunitas”

Main-main dengan PCA

pca1.jpgYa, ini memang mainan saya beberapa bulan terakhir. PCA atau Principal Component Analysis adalah salah satu bentuk analisa multivariate. Jika penelitian anda misalnya mengukur banyak variable dan anda ingin mengelompokkan variable-variable tersebut, maka PCA dapat menjadi salah satu alat bantu (ya, masih banyak cara lain….).

Dalam wildlife ecology, Lanjutkan membaca “Main-main dengan PCA”

Cempaka, berbagi untuk dirinya, beo, dan manusia

Michelia champaca, nama yang cantik untuk sebatang pohon. Di hutan, tanaman ini termasuk pohon yang cukup tinggi. Saya sendiri bukan termasuk orang yang mudah mengenali jenis pepohonan di dalam hutan. Namun, dari perjalanan saya ke hutan di bagian Selatan Sumatra, saya tahu ada pohon cempaka di sekitar saya dari ramainya suara burung-burung beo (Gracula religiosa). Betul kan, beberapa langkah kemudian saya pasti mendapati buah-buah cempaka yang berjatuhan di lantai hutan. Buahnya yang merekah akan menampilkan sederetan biji yang terselaput daging buah tipis berwarna merah muda.

Buah Cempaka

Peminat cempaka rupanya tak hanya beo, tetapi juga manusia. Lanjutkan membaca “Cempaka, berbagi untuk dirinya, beo, dan manusia”

Beda lokasi, beda pula komunitasnya

Mengamati ekologi komunitas burung di Sulawesi ternyata tidak semudah di Sumatra atau Kalimantan. Kalau di dua pulau besar tersebut, masa aktifnya burung-burung cukup lama. Mulai jam 6 pagi hingga jam 10 pagi, masih cukup ramai burung-burung berkicau. Nah, kondisi ini ternyata tidak sama dengan Sulawesi.

p8160104_editcrop.jpg

Mengapa? Pada beberapa daerah di Sulawesi, masa burung-burung ramai berkicau ternyata hanya sebentar. Jam 8 pagi pun kicauan burung mulai sepi. Komunitas burung Sulawesi memang berbeda dengan saudara-saudaranya di bagian barat Wallacea. Sulawesi dilimpahi jenis burung endemik yang begitu tinggi hingga 33%. Bandingkan dengan Kalimantan yang hanya 10%. Tetapi menariknya, persentase jenis burung yang menempati lantai hutan jauh lebih sedikit (understory birds). Contohnya aja, jenis burung bulbul yang cuma 3 species padahal tetangganya Kalimantan mencapai 24 jenis. Atau juga jenis burung dari keluarga Timaliidae (babbler) yang juga hanya 3 jenis tetapi sangat melimpah di Sumatra (42 jenis) dan Kalimantan (36 jenis). Lanjutkan membaca “Beda lokasi, beda pula komunitasnya”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑