Kematian Belon masih misteri yang tak terpecahkan, berhubungan dengan politik sang raja….”

belon_comparativeItulah sepenggal presentasi mahasiswa siang ini. Siapakah yang pernah mengenal Pierre Belon? Kalau saja Mochammad Rizky Al Ryzal tidak mengupas buku the Great Naturalist, kita tentu tak tahu siapa Pierre Belon.  Pionir anatomi komparatif ini ternyata adalah seorang naturalis tumbuhan yang pernah menjadi tentara Perancis pada masa Raja Francis I.  Secara sederhana, Belon membandingkan kerangka manusia dengan burung, dan memperkenalkan ide homologi, kesamaan sruktur seperti pada tangan manusia dan sayap burung.

Membangkitkan minat baca memang seharusnya dari kecil.  Tapi rasanya tak salah lah untuk menggugah dinamika suatu kajian ilmu.  Ornitologi adalah ilmu yang cukup spesifik. Burung… Ya benar, burung yang terbang itu ya, burung yang mempunyai sayap.  Meskipun tidak semua burung terbang dan tidak semua burung bersayap untuk terbang, seperti penguin yang sayapnya berubah fungsi sebagai propeller, pengayuh di dalam air saat menyelam mencari ikan.

Sejak memegang kelas Ornitologi, saya kerap berpikir keras bagaimana membangkitkan kelas ini dari sekedar teori dan sains dalam bidang perburungan.  Jadi kali ini saya mencoba menyentuh dunia literasi.  Namun literasi apakah yang menyentuh ilmu tentang burung ini?  Literasi dunia biologi dan biodiversitas tidak bisa lepas dari para naturalis masa lalu.  Kalau ingat film “The Commander and the Sea”, itu menceritakan penjelajahan-penjelajahan masa lalu (termasuk invasi) selalui disertai oleh naturalist.  Charles Darwin menumpang HMS Beagle yang melakukan survey di Amerika Selatan.  Bahkan Thomas Stamford Raffles pun seorang naturalist.  Tiga buku pilihan saya menjadi menu setiap minggu.  Mahasiswa mendapat tugas baca dan menceritakannya kembali dalam presentasi.  Mereka diperbolehkan berkreasi dengan menambahkan informasi lain yang mereka dapatkan terkait topik.

Alfred Russel Wallace, the Malay archipelago, menjadi pilihan pertama.  Ini tokoh yang sangat penting dalam dunia biodiversitas.  Kisah perjalanannya menjadi penyumbang ketenaran Indonesia sebagai negara mega-biodiversitas.  Beliau melihat perbedaan keragaman antara pulau-pulau di Indonesia.  Dan semua diceritakan dalam bentuk diari/catatan perjalanan.  Menceritakan kisah perjalanannya terkesan sederhana namun bukan hal mudah.  Pertama, banyak penamaan spesies sudah jauh berubah saat ini sehingga rekonstruksi spesies yang ditemukan sulit tanpa membaca karakter dan morfologi jenisnya.  Kedua, tanpa didasari dengan ilmu bigeografi cukup sulit membayangkan mengapa terdapat perbedaan jenis di pulau-pulau tertentu atau pengaruh Asia atau Australia pada spesies tertentu.

Mengikuti perjalanan Wallace seperti mempelajari biogeografi itu sendiri.  Aditya Rama menceritakan perjalanan Wallace di Kepulauan Aru dan menggambarkan bagaimana kepulauan ini terbagi menjadi 4 pulau besar yang dipisahkan oleh kanal-kanal mirip sungai.  Kepulauan ini terbentuk akibat 3 teori utama, elevation, subsidence, dan separation.  Peningkatan permukaan daratan, banjir yang menutupi tepi-tepi sungai, serta pemisahan dari daratan Papua.  Yang mungkin menjelaskan mengapa burung-burung seperti kasuari ditemukan Wallace di Kepulauan Aru.

Siapa sangka bahwa Passaros de Sol atau si burung Cendrawasih ternyata dikenal para naturalis Eropa.  Silvi Dwi Anasari menceritakan bahwa John van Linschoten atau Jan Huygen van Linschoten pernah membahas burung ini dari perjalanannya menumpang kapal Portugis tahun 1598 yang disebutnya sebagai Avis paradiseus atau burung surga. Dia bilang tidak ada satupun yang melihat burung itu hidup karena selalu terbang mengarah ke matahari.

E.O Wilson, In Search of Nature.  Hanya satu karya yang saya pilih yaitu, “The Bird of Paradise, the Hunter and the Poet” karena kebetulan satu-satunya yang menyentuh burung.  Seperti banyak karya-karyanya, tulisan E.O Wilson adalah dalam bentuk esai.  E.O. Wilson adalah bapak sosiobiologi dari riset-risetnya tentang semut.  Pemahaman Rolliska tentang karya ini menarik karena E.O Wilson menggunakan kata-kata indah seperti “insensitive to art” dalam mengartikan metafora burung Cendrawasih di Huon Peninsula di Nugini.

whatsapp-image-2016-12-08-at-14-29-38Terakhir adalah The Great Naturalists, yang diedit oleh Robert Huxley.  Buku ini merupakan kumpulan biografi singkat para Naturalist.  Kami membahas Aristotle yang menyusun buku Historia Animalium sebagai peletak dasar penulisan ilmiah.  Phalacrocorax aristoteles, si burung pecuk Eropa, dinamakan berdasarkan Aristotle. Juga John James Audubon, naturalis Amerika yang di satu pihak meletakkan kakinya di ilmu-ilmu alam dan kaki satu nya di seni, menentang kategorisasi.  Publikasinya “The Birds of America” buku berukuran besar yang kini hanya dipamerkan di perpustakaan tertentu.

The Great Naturalists dikompilasi oleh Robert Huxley, kepala koleksi dari Botany Department, Natural History Museum of London.  Saya tertarik dengan bab pendahuluannya yang diberi judul Unity in Diversity, yang diambil dari salah satu kata-katanya Alexander von Humboldt,

the unity in diversity, and of connection, resemblance and order, among created things most dissimilar in their form, one fair harmonious whole…

Mungkin memang menggambarkan keseluruhan spesies yang ada di bumi.  Namun kata-kata ini adalah gambaran konektivitas dari koleksi-koleksi para naturalis masa lalu yang menjadi peletak dasar ilmu alam modern dengan ilmu-ilmu yang berkembang saat ini. Para naturalis dari berbagai bangsa ini menyatukan keberagaman spesies di muka bumi ke dalam bentuk tulisan, sketsa, serta gambar-gambar yang kemudian digunakan oleh berbagai ilmuwan, mahasiswa, dan peminat ilmu alam lainnya. Keberagaman yang disatukan dalam literasi inilah yang membuat ilmu berkembang yang selanjutnya dimanfaatkan untuk kemaslahatan bumi ini.

wallace1Tepuk tangan kepada para mahasiswa saya.  Usaha menerjemahkan tulisan para naturalis bukan hal yang mudah dan banyak pula yang terjerat pada keterbatasan mata kuliah ini (meskipun tidak dibatasi sebenarnya).  Lucu juga mendengar para mahasiswa menceritakannya dalam gaya bahasa mereka, seperti menganggap para naturalis ini tetangga sendiri….  Ah, pada akhirnya penerjemahan literasi adalah seni.  Sama seperti yang dikatakan E.O. Wilson,

But science is not also analytic, it is also synthetic.  It uses artlike intuition and  imagery” – E.O. Wilson