Bertahun-tahun burung satu ini saya amati. Dari mulai mencermati populasinya naik-turun, sampai mengikuti kemana jalannya jantan-jantan berekor panjang ini. Tapi tak satupun pernah terekam dengan baik oleh kamera. Pasalnya, antara penelitian dan pegang kamera menjadi ambigu yang keduanya punya arti buat saya. Pada akhirnya sih penelitian yang saya dahulukan. Jadi, antara tahun 1998-2001, biarpun saya tak juga berhasil mendapatkan fotonya, Kuau raja atau Argusianus argus telah mengantarkan saya mendapatkan jenjang pengetahuan yang lebih mendalam. Dan baru tahun ini, 2008 (10 tahun nih sejak saya beredar di Way Canguk, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan), seekor jantan muda kerap menjadi pendatang di camp.

dsc01633_argus2.jpg

Sejak melakukan survey transek pertama kali di Way Canguk tahun 1998, burung ini memang dari awal menarik perhatian saya. Sama seperti ayam yang masih satu keluarga Phasianidae, Kuau raja adalah raja bagi burung penghuni

lantai hutan di tempat ini. Besar, bersuara keras (yang masih terdengar dari jarak 1 km) serta dengan anggunnya namun waspada melintasi jalur-jalur survey di Canguk. Rehat yang tepat bagi leher kita yang terlalu sering menengadah ke atas dengan binokuler mencari burung-burung rangkong yang terbang. Saya mulai mencari-cari info tentang Kuau raja ini dan berhasil memasukkannya ke DPS (Daftar Pencarian Sensus) wajib di Canguk selain para Mamalia besar dan rangkong. Cihuiiii…….😀

Beberapa karakter pentingnya pernah saya ceritakan di “Ayam dan urusan kawin-mawin“. Penjejakan saya di tahun 2001, memperkenalkan saya dengan perangkat radio telemetry yang menggunakan 3 perangkat utama, radio transmitter yang dititipkan di leher kuau jantan, receiver atau penerima gelombang radio yang dipantulkan radio transmitter yang ditangkap oleh antenna yang tersambung dengan receiver. Jadi kalau kuaunya punya kalung tambahan sebuah radio kecil (yang beratnya tak lebih dari 3% berat tubuhnya), saya juga punya kalung receiver (yang beratnya lebih sedikit dari 3% berat tubuh saya). Hitung-hitung, senasiblah dengan si Kuau…..

Pekerjaan tracking atau menjejak ini (mengingatkan saya pada Winnetou yang jago membaca jejak tapi saya jelas kalah jauh) membuat saya mengikuti kemana si jantan pergi sejak matahari terbit hingga terbenam. Di masa breeding, si jantan tak mau jauh-jauh dari dancing ground alias arena tarian untuk menarik betina. Sementara oleh si jantan muda yang belum punya arena sendiri, saya dibawa berjalan jauh. Saya juga dibawanya serta melongok arena tarian jantan-jantan dewasa saat yang empunya tak ada di tempat, seolah-oleh sedang berpikir untuk menguasai atau mencontek kualitas arenanya (buat masa depan…..). Total penjelajahan si jantan muda hingga 32 ha, padahal jantan dewasa rata-rata hanya 14.5 ha. Tampaknya memang yang muda-muda harus berusaha lebih banyak untuk mencapai kesuksesan.

Para jantan juga pilih-pilih tempat untuk rumahnya. Pilihan utama adalah habitat tak terganggu dengan banyak pohon besar, terutama untuk meletakkan arena tarian. Arena tarian juga tak sembarang pilih, harus di tempat-tempat dengan lantai hutan yang cukup bersih yang jarang liananya (tanaman merambat) serta pepohonan sekitarnya berdaun kecil. Ini tak lain untuk memudahkan pekerjaannya membersihkan arena sementara habitatnya harus cukup aman baginya. Repot ya…. Tapi saya jadi tahu, bahwa burung-burung penghuni lantai hutan seperti si Kuau ini sensitif terhadap gangguan. Lah, bagaimana lagi? Kalau burung-burung yang dapat terbang jauh mampu menghindar dan cari tempat hidup baru pada saat terjadi deforestasi, para penghuni lantai hutan hanya dapat menggunakan kakinya untuk pergi.

Nah, penjejakan saya belum berakhir. Sebab seekor jantan muda wara-wiri di camp, celingak-celinguk mencari makan. Sayangnya, kualitas foto belum bagus. Saat jenjang pengetahuan saya makin bertambah, kamera saya justeru menurun. Dasar manusia tak pernah puas, tetapi ini juga membuat penjejakan saya tak pernah berakhir….