Cari

Noon at home, at anywhere

An infuse to lively mind…..

Kategori

Burung

Rangkong Sulawesi, masih dapatkah memilih tempat hidup?

Kembali lagi ke Sulawesi… Tetapi kali ini sedikit menjauh dari daratan utama, yaitu Pulau Butung alias Buton. Saat menginjak pulau ini pertama kali di ibukotanya Bau-bau, saya segera merasakan jejak-jejak historis yang telah dialami kepulauan ini. Kota yang begitu ramai, simpang-siur kendaraan bermotor roda dua, angkot, hingga taxi, rasanya cukup menakjubkan untuk kota sekecil ini. Buton melalui Kesultanannya memang telah dikenal dalam sejarah bangsa kita sejak abad ke 13, bahkan sejak jaman Kerajaan Majapahit dan tercatat dalam naskah Negarakertagamanya Mpu Prapanca.

Salah satu hutan yang relatif tidak terganggu

Maka tak heran pula jika hutan-hutan pulau ini telah mendapat sentuhan manusia sejak lama, seperti yang dialami hutan Lambusango (35.000 ha) di bagian tengah pulau ini. Bagian hutan yang terletak di bagian selatan, misalnya seakan telah menjadi lokasi utama para pencari rotan dan pencari kayu. Di salah satu lokasi ini misalnya, ada banyak simpangan jalan-jalan setapak dengan potongan rotan atau kayu yang diletakkan melintang jalan setapak, untuk mempermudah para perotan menarik kumpulan rotannya keluar hutan. Sementara di bagian hutan lainnya, air sungai terasa berserbuk kayu sebagai akibat dari kayu-kayu yang dialirkan melalui sungai. Sentuhan-sentuhan manusia ini tercermin dari struktur hutannya. Hutan-hutan dengan gangguan tinggi di Lambusango dicirikan oleh dengan tajuk yang jauh lebih terbuka sementara pada hutan dengan gangguan yang rendah, lebih dipenuhi oleh tumbuhan seperti pandan, palem, dan paku-pakuan. Hutan dengan gangguan rendah juga cenderung terletak di daerah yang berundak-undak. Tingkat gangguan ini ternyata tak membedakan status hutannya yang sebagian berstatus kawasan konservasi, sementara sebagian lainnya berstatus hutan produksi. Lanjutkan membaca “Rangkong Sulawesi, masih dapatkah memilih tempat hidup?”

Rangkong, si petani berlahan hutan

Tahukah bahwa burung rangkong punya bulu mata? Yang konon berfungsi dalam mencari pasangan……..

Burung rangkong (family Bucerotidae) telah menjadi perhatian Carolus Linnaeus pula sejak tahun 1758 pada waktu ia mempublikasi Systema Naturae. Sementara kapan rangkong ini muncul, diduga sejak Jaman Oligocene sekitar 30-35 juta tahun yang lalu. Didominasi warna dasar hitam pada sebagian besar jenisnya, ternyata ada hal-hal menarik yang membedakan rangkong dengan burung lainnya. Lanjutkan membaca “Rangkong, si petani berlahan hutan”

Intip mengintip dengan sang Kuau

Berikut secuplik gambar yang sempat terekam pada saat saya berkunjung ke arena tarian (dancing ground) si Kuau raja jantan alias Great argus alias Argusianus argus yang kisah hidupnya pernah saya ceritakan di sini.

Burung yang sensitif ini Lanjutkan membaca “Intip mengintip dengan sang Kuau”

Udang dan udang

Ada apa di balik sebuah nama? Ini ada dua jenis udang berbeda morfologi. Yang satu bisa terbang dan lainnya di dalam laut. Dua alam yang bersentuhan tetapi tak saling memberi kesempatan hidup.

Si Udang merah Sulawesi (Ceyx fallax)
Si Udang merah Sulawesi (Ceyx fallax)

Lanjutkan membaca “Udang dan udang”

Waktu yang lama untuk kembali

Dari 10 tahun lalu hingga sekarang, S-1000 selalu menjadi tempat favorit untuk mengamati burung-burung. Sepuluh tahun lalu, 165 ha hutan seputaran Way Canguk yang pernah terbakar di tahun 1997 baru saja mulai menggeliat dari debu dan abu sisa-sisa kebakaran hutan. Pepohonan mengering, tetapi semai-semai bermunculan dan tumbuh menjadi semak bercampur tepus (jahe-jahean) dan alang-alang.

Pemandangan di S-1000
Pemandangan di S-1000

Lanjutkan membaca “Waktu yang lama untuk kembali”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑