Michelia champaca, nama yang cantik untuk sebatang pohon. Di hutan, tanaman ini termasuk pohon yang cukup tinggi. Saya sendiri bukan termasuk orang yang mudah mengenali jenis pepohonan di dalam hutan. Namun, dari perjalanan saya ke hutan di bagian Selatan Sumatra, saya tahu ada pohon cempaka di sekitar saya dari ramainya suara burung-burung beo (Gracula religiosa). Betul kan, beberapa langkah kemudian saya pasti mendapati buah-buah cempaka yang berjatuhan di lantai hutan. Buahnya yang merekah akan menampilkan sederetan biji yang terselaput daging buah tipis berwarna merah muda.

Buah Cempaka

Peminat cempaka rupanya tak hanya beo, tetapi juga manusia. Kayunya banyak diminati karena berpola menarik dan sering digunakan sebagai bahan furniture, serta bunganya diekstrak untuk bahan parfum. Beberapa kolega dan teknisi bahkan sudah berhasil mendapat kebaikannya. Buah cempaka yang telah jatuh dikumpulkan. Biji-bijinya dijemur dan daging buahnya dikupas untuk kemudian disemaikan. Semai-semai cempaka ini laku dijual Rp. 2000 per batang. Salah seorang kolega bahkan mau membeli 1 kg biji untuk harga Rp. 50.000. Demam tanam cempaka menjadi ramai di seputaran Lampung Barat ini. Sayangnya bayangan kemudahan mendapat penghasilan tambahan tampaknya mulai menimbulkan ketidak sabaran untuk memperoleh bijinya. Jangankan bagi-bagi dengan burung beo, beberapa orang rela memanjat pohon yang lumayan tinggi ini untuk menebang sebagian cabangnya.

Buah dan biji cempaka

Kalau manusia telah mampu menyemaikan, di alam germinasi atau perkecambahan cempaka tidak semudah yang ia inginkan. Konon, untuk jenis yang sama di India, perlu waktu 6-12 tahun untuk menghasilkan bunga dan biji yang produktif. Cempaka adalah tumbuhan zoochory. Artinya germinasinya hanya berhasil jika telah melewati saluran pencernaan hewan alias telah dimakan dan dikeluarkan lewat kotoran hewan. Kalau dicermati di bawah pohon induknya, memang jarang sekali ada semaian atau anakan cempaka. Proses melewati pencernaan hewan ini membantu membersihkan biji dari daging buahnya yang mungkin menghambat germinasi atau berefek abrasif sehingga pelindung biji menjadi lebih mudah dilewati air atau gas-gas yang berfungsi bagi germinasi. Burung frugivora atau pemakan buah termasuk si beo ini adalah agen penyebarnya. Burung-burung ini yang mampu menjelajahi hutan-hutan, berkunjung ke kebun, bekas hutan, hutan yang pernah terbakar membantu menyemaikannya yang kemudian diserahkan kepada alam untuk melanjutkan prosesnya. Ada yang berhasil tumbuh, ada pula yang tidak. Namun yang berhasil akan menjadi calon pohon induk yang akan berbaik hati dengan beo untuk menikmati bijinya. Proses alam terus berlangsung ada atau tanpa campur tangan manusia. Semoga saja beo dan burung-burung lainnnya masih cukup mendapat buah-buah cempaka di rumahnya sendiri…..