Cari

Noon at home, at anywhere

An infuse to lively mind…..

Masih memakai lembar data? Pindah dong ke apps

Survey-survey ekologi tentunya membutuhkan lembar data. Saya sendiri hingga saat ini, masih memastikan mahasiswa membuat lembar data sebelum terjun ke lapangan mengambil data. Yaps, lembar data yang baik akan memastikan data kita juga terkumpul dan tercatat dengan baik. Namun, lembar data menggunakan kertas mempunyai beberapa kendala seperti mudah basah kalau kena hujan. Rasanya saya juga pernah menulis bahwa pencatatan pun harus menggunakan pulpen karena jika menggunakan pensil, data akan mudah terhapus. Belum lagi kemungkinan pemindahan data ke komputer yang salah akibat tulisan tidak atau sulit terbaca atau efek kelelahan pelakunya. Bahkan ada juga pengamalan teman yang lembar datanya dibawa kabur tikus untuk dijadikan sarang. Dan katanya ini terjadi setelah teman ini menancapkan kapak peperangan terhadap tikus yang merajalela di stasiun risetnya….

Survey di lapangan dengan apps

Pilihan saya kali ini ada menggunakan ODK Collect yang datanya disimpan dalam bentuk google sheet melalui google drive. Ini pun bolak-balik otak-atik terus menerus karena kadang terjadi kegagalan. Memang, inginnya menggunakan google form saja karena hampir semua orang rasanya sudah cukup paham mengisinya. Namun, google form mempunyai kelemahan seperti lokasi survey tidak bisa dengan mudah dihubungkan dengan google map untuk mendapat koordinat utm nya. Sementara, jika full menggunakan ODK atau Kobo, saya terkendala masalah server untuk penyimpanan data.

Jadi saya merasa sudah waktunya migrasi ke lembar data virtual. Sebenarnya sudah cukup lama juga fasilitas-fasilitas lembar data virtual ada. Bahkan google pun menawarkan lewat google formnya yang sebenarnya dapat pula dimanfaatkan sebagai lembar data virtual. Beberapa yang terkenal adalah Open Data Kit (ODK) dan Kobo Toolbox. Pun dapat dicari pula cara-caranya melalui google dan youtube yang sudah banyak diposting orang. Nah, tapi bagi saya yang bukan generasi milenial, tidak mudah juga memahami dari kulit hingga ke dalam-dalamnya. Ada saja error yang terjadi.

Jadi, ini kira-kira langkah yang saya lakukan:

  1. Siapkan daftar pertanyaan untuk survey anda
  2. Buat form anda melalui ODK Build (https://build.getodk.org/)
  3. Siapkan folder pada google drive anda
  4. Buat google sheet baru pada folder tersebut. Copy (shareable) link nya
  5. Kembali ke form anda di ODK Build, dan di form properties, paste link tersebut di submission url nya
  6. Save dan export form ke bentul XML file
  7. Tambahkan file XML anda ke folder anda di google drive
  8. Buka google sheet anda, namai worksheet anda (misal, data), serta tambah worksheet baru. Penambahan worksheet ini penting jika form yang anda buat terdiri dari 2 set (misal 1 set info dasar seperti nama pengamat, tanggal, dsb, dan 1 set data inti yang berisikan info survey lainnya)
  9. Install ODK Collect pada perangkat selular anda dari Apps Store
  10. Buka ODK Collect, klik pengaturan umum, dan pilih google drive/google sheet pada tipe
  11. Unduh formulir kosong dengan memilih folder dan XML file yang sudah dishare
  12. Jika sudah berhasil diunduh, anda siap mengisi form tersebut
  13. Setelah diisi, save form tersebut dan kirim formulir terfinalisasi
  14. Silakan buka google sheet yang ada di folder google drive untuk memastikan data anda sudah tersimpan

Begitulah kira-kira. Memang harus coba-coba sendiri. Saya mencoba membuat videonya. Semoga membantu…..

Sekolah Totto-Chan bagi anakku…

Sekolah ini bagiku adalah sekolah Totto-chan untuk anakku….

Sekolah ini tentunya jauh dari sebuah gerbong kereta.  Hanya menempati lantai terbawah dari suatu gedung pendidikan tiga lantai.  Tapi bagiku tampak sebagai sekolah Totto-chan.

Tarhib_ramadhan1

Sewaktu saatnya mencarikan TK untuk anakku, saya pernah bertanya pada teman, seorang pendidik, adakah TK bagus di lingkungan kita ini? Dia hanya menjawab, hubungan guru dan muridnya adalah hubungan yang unik.  Haha….ini bukan solusi pastinya, tetapi membuat saya berpikir ulang, apa yang ingin aku lihat dari anakku?  Lanjutkan membaca “Sekolah Totto-Chan bagi anakku…”

Negeri Rahwana, sekelumit kultur hingga biodiversitas

P1020980 (2)Ingat Sri Lanka adalah ingat Rahwana, sang raja raksasa dari kisah Ramayana. Pulau di selatan India ini menampilkan keunikan-keunikan yang berbeda dari benua di utaranya. Lanjutkan membaca “Negeri Rahwana, sekelumit kultur hingga biodiversitas”

Literasi Ornitologi, menyintas keberagaman…

Kematian Belon masih misteri yang tak terpecahkan, berhubungan dengan politik sang raja….”

belon_comparativeItulah sepenggal presentasi mahasiswa siang ini. Siapakah yang pernah mengenal Pierre Belon? Kalau saja Mochammad Rizky Al Ryzal tidak mengupas buku the Great Naturalist, kita tentu tak tahu siapa Pierre Belon.  Pionir anatomi komparatif ini ternyata adalah seorang naturalis tumbuhan yang pernah menjadi tentara Perancis pada masa Raja Francis I.  Secara sederhana, Belon membandingkan kerangka manusia dengan burung, dan memperkenalkan ide homologi, kesamaan sruktur seperti pada tangan manusia dan sayap burung. Lanjutkan membaca “Literasi Ornitologi, menyintas keberagaman…”

Menjadikan cencorang untuk anakku…

Tugas ananda:  membuat kostum bersama ayah bunda.  Kelas B1 bertema serangga….

kostum_mantisGubraaaak….  Kenapa gak dapat yang burung atau mamalia sih? Kali ini dapatnya malah serangga.  Tugas kali ini membawa kembali memori saya ke permukaan. Lanjutkan membaca “Menjadikan cencorang untuk anakku…”

Mencerna ilmu…

Teaching can be boringTeachers are sometimes boring.  Berbagai pelatihan dan kelas, selalu berkutat dengan pemikiran ‘bagaimana materi dapat dipahami’. Dan ini tentu saja harus disesuaikan dengan latar belakang peserta.

Dari pelatihan-pelatihan yang biasanya merupakan bidang pemahaman saya seperti teknik monitoring satwa liar dan analisanya, kali ini saya kembali ke kelas yang pesertanya adalah mahasiswa, anak-anak sekarang yang relatif melek teknologi, yang  jiwanya seharusnya dipenuhi oleh kegairahan intelektual.

Lanjutkan membaca “Mencerna ilmu…”

Indonesia, surganya gajah purba?

Helmi, anak saya yang berumur 4 tahun dan sedang panas-panasnya menyukai satwa-satwa purba, mungkin harus kecewa jika ia berkeinginan menjadi paleontolog.  Apa daya, Indonesia baru terbentuk pada masa Kenozoikum, sesudah era dinosaurus.Fosil gajah di museum geologi

Demi memenuhi keinginannya melihat fosil, satu-satu museum yang terdekat dan mudah dijangkau adalah Museum Geologi Bandung.  Untungnya di sini masih ada replika fosil Tyrannosaurus rex, si kadal tiran.  Tentunya sih replika karena T-rex ini, fossilnya ditemukan di China.  Namun, yang membuat saya kagum adalah beberapa fosil gajah. Lanjutkan membaca “Indonesia, surganya gajah purba?”

Mengikuti klinik terjemahan buku: saatnya masuk klinik kontemplasi

Ini benar-benar hal baru buat saya.  Biasanya saya terlalu berkutat dengan sains atau hal-hal yang sangat spesifik dengan kebutuhan kantor – perubahan iklim, solusi berkelanjutan. Bahasa-bahasa itulah….  Jadi saat ada tawaran lewat medsos untuk ikut klinik terjemahan buku, saya mendadak langsung mendaftar.

Hasil terjemahan dan suntingannya bisa dilihat di sini. 

Klinik_terjemahan_buku

Jujur, menerjemahkan buku bukan hal yang mudah.  Karena kita harus tahu dasar plot cerita tersebut, di mana lokasinya, serta bagaimana memaknai kalimat-kalimat yang kadang hanya tersirat, plus tentu saja pemahanan bahasa aslinya.  Bahasa novel bukan bahasa sains. Kalimat yang diperlukan lebih dari sekedar ‘dampak perubahan iklim bagi pulau-pulau kecil seperti kenaikan permukaan air laut’ tapi mungkin menjadi ‘pulau-pulau kecil itu makin tergerus oleh air laut akibat iklim yang berubah-ubah’.  Haha….itu cuma kalimat rekaan saya.

Mendapat kiriman penggalan buku ini, sebenarnya membawa pikiran saya ke buku-bukunya Harry Potter.  Itu mungkin gambaran paling sederhana karena saya pernah membaca versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya.  Bahwa ternyata jauh lebih sulit menerjemahkan kalimat-kalimat dalam novel, menggambarkan bagaimana situasi laut yang menampilkan berbagai warna hasil pantulan dengan berbagai bentukan alam.  Ini lebih dari sekedar menerjemahkan tetapi bagaimana membuat replika naskah cerita tersebut tanpa mengubah arti.  Saya ternyata masih takut-takut untuk mengubah susunan kalimat karena takut mengubah arti.  Padahal dalam tataran tertentu sah-sah saja.  Hasil suntingan yang sangat menarik.  Salah satu kalimat terjemahan saya ‘…suaka bagi jiwa-jiwa yang sakit’ mendapat apresiasi dari penyuntingnya.  Haha…saya setuju, itu juga kalimat andalan saya.  Oh iya, satu lagi yang mendapat apresiasi adalah, pemakaian kata depan “di” dan kata imbuhan “di-“.  Kalau ini sih saya menanggapi biasa-biasa saja.  Paling tidak saya masih bisa mengaku sebagai murid Alm. Boen Sri Oemarjati, pengajar bahasa Indonesia saya dulu dan kritikus sastra yang andal.  Beliau sangat spesifik membedakan kedua kata “di” tersebut.

Terakhir, saya ucapkan salut kepada para penerjemah buku karena kerja mereka yang membuat sebuah buku menjadi menarik dan ingin dibaca, dibeli, dan dimiliki….

#ThinkSustain Ingat emak-emak kita dulu

DSC_0773Lebaran selalu menyisakan banyak hal. Selain cucian menumpuk, kadang masih ada pula sisa opor ayam, ketupat, putih telur sisa membuat kue kering, dan masih banyak lagi.  Saya jadi ingat ibu saya yang tiap pasca lebaran selalu melakukan daur ulang opor ayam nya menjadi abon ayam.  Opor ayam tinggal digoreng sangrai hingga kering.  Atau sisa tape ketan diubah menjadi madu mongso.  Tahun ini ibu saya sudah tak banyak memasak lagi selain karena sudah mulai dikurangi keterlibatannya di dapur, tetapi juga karena kali ini saya juga lebih banyak masuk dapur.  Opor pun pesan jadi.  Eh nyatanya tetap saja sisa lebaran selalu masih ada.  Jadi kali ini saya melakukan pembadaian otak sendiri, melakukan re-use dan re-cycle.  Sisa saus sate, saya olah lagi, dicampur dengan cuka sedikit, saos tomat, dan mayonnaise, jadilah saus gado-gado fusion.  Sisa putih telur kadang saya tambahkan di campuran tahu telor.  Bosan dengan Angel Food Cake, kali ini saya browsing resep brownies dengan putih telur.  Judulnya Crisps brownies.  Hasilnya crispy outside, chewy inside.  Selama anak suka, selamat lah….. Lanjutkan membaca “#ThinkSustain Ingat emak-emak kita dulu”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑