Cari

Noon at home, at anywhere

An infuse to lively mind…..

Mencerna ilmu…

Teaching can be boringTeachers are sometimes boring.  Berbagai pelatihan dan kelas, selalu berkutat dengan pemikiran ‘bagaimana materi dapat dipahami’. Dan ini tentu saja harus disesuaikan dengan latar belakang peserta.

Dari pelatihan-pelatihan yang biasanya merupakan bidang pemahaman saya seperti teknik monitoring satwa liar dan analisanya, kali ini saya kembali ke kelas yang pesertanya adalah mahasiswa, anak-anak sekarang yang relatif melek teknologi, yang  jiwanya seharusnya dipenuhi oleh kegairahan intelektual.

Lanjutkan membaca “Mencerna ilmu…”

Indonesia, surganya gajah purba?

Helmi, anak saya yang berumur 4 tahun dan sedang panas-panasnya menyukai satwa-satwa purba, mungkin harus kecewa jika ia berkeinginan menjadi paleontolog.  Apa daya, Indonesia baru terbentuk pada masa Kenozoikum, sesudah era dinosaurus.Fosil gajah di museum geologi

Demi memenuhi keinginannya melihat fosil, satu-satu museum yang terdekat dan mudah dijangkau adalah Museum Geologi Bandung.  Untungnya di sini masih ada replika fosil Tyrannosaurus rex, si kadal tiran.  Tentunya sih replika karena T-rex ini, fossilnya ditemukan di China.  Namun, yang membuat saya kagum adalah beberapa fosil gajah. Lanjutkan membaca “Indonesia, surganya gajah purba?”

Mengikuti klinik terjemahan buku: saatnya masuk klinik kontemplasi

Ini benar-benar hal baru buat saya.  Biasanya saya terlalu berkutat dengan sains atau hal-hal yang sangat spesifik dengan kebutuhan kantor – perubahan iklim, solusi berkelanjutan. Bahasa-bahasa itulah….  Jadi saat ada tawaran lewat medsos untuk ikut klinik terjemahan buku, saya mendadak langsung mendaftar.

Hasil terjemahan dan suntingannya bisa dilihat di sini. 

Klinik_terjemahan_buku

Jujur, menerjemahkan buku bukan hal yang mudah.  Karena kita harus tahu dasar plot cerita tersebut, di mana lokasinya, serta bagaimana memaknai kalimat-kalimat yang kadang hanya tersirat, plus tentu saja pemahanan bahasa aslinya.  Bahasa novel bukan bahasa sains. Kalimat yang diperlukan lebih dari sekedar ‘dampak perubahan iklim bagi pulau-pulau kecil seperti kenaikan permukaan air laut’ tapi mungkin menjadi ‘pulau-pulau kecil itu makin tergerus oleh air laut akibat iklim yang berubah-ubah’.  Haha….itu cuma kalimat rekaan saya.

Mendapat kiriman penggalan buku ini, sebenarnya membawa pikiran saya ke buku-bukunya Harry Potter.  Itu mungkin gambaran paling sederhana karena saya pernah membaca versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya.  Bahwa ternyata jauh lebih sulit menerjemahkan kalimat-kalimat dalam novel, menggambarkan bagaimana situasi laut yang menampilkan berbagai warna hasil pantulan dengan berbagai bentukan alam.  Ini lebih dari sekedar menerjemahkan tetapi bagaimana membuat replika naskah cerita tersebut tanpa mengubah arti.  Saya ternyata masih takut-takut untuk mengubah susunan kalimat karena takut mengubah arti.  Padahal dalam tataran tertentu sah-sah saja.  Hasil suntingan yang sangat menarik.  Salah satu kalimat terjemahan saya ‘…suaka bagi jiwa-jiwa yang sakit’ mendapat apresiasi dari penyuntingnya.  Haha…saya setuju, itu juga kalimat andalan saya.  Oh iya, satu lagi yang mendapat apresiasi adalah, pemakaian kata depan “di” dan kata imbuhan “di-“.  Kalau ini sih saya menanggapi biasa-biasa saja.  Paling tidak saya masih bisa mengaku sebagai murid Alm. Boen Sri Oemarjati, pengajar bahasa Indonesia saya dulu dan kritikus sastra yang andal.  Beliau sangat spesifik membedakan kedua kata “di” tersebut.

Terakhir, saya ucapkan salut kepada para penerjemah buku karena kerja mereka yang membuat sebuah buku menjadi menarik dan ingin dibaca, dibeli, dan dimiliki….

#ThinkSustain Ingat emak-emak kita dulu

DSC_0773Lebaran selalu menyisakan banyak hal. Selain cucian menumpuk, kadang masih ada pula sisa opor ayam, ketupat, putih telur sisa membuat kue kering, dan masih banyak lagi.  Saya jadi ingat ibu saya yang tiap pasca lebaran selalu melakukan daur ulang opor ayam nya menjadi abon ayam.  Opor ayam tinggal digoreng sangrai hingga kering.  Atau sisa tape ketan diubah menjadi madu mongso.  Tahun ini ibu saya sudah tak banyak memasak lagi selain karena sudah mulai dikurangi keterlibatannya di dapur, tetapi juga karena kali ini saya juga lebih banyak masuk dapur.  Opor pun pesan jadi.  Eh nyatanya tetap saja sisa lebaran selalu masih ada.  Jadi kali ini saya melakukan pembadaian otak sendiri, melakukan re-use dan re-cycle.  Sisa saus sate, saya olah lagi, dicampur dengan cuka sedikit, saos tomat, dan mayonnaise, jadilah saus gado-gado fusion.  Sisa putih telur kadang saya tambahkan di campuran tahu telor.  Bosan dengan Angel Food Cake, kali ini saya browsing resep brownies dengan putih telur.  Judulnya Crisps brownies.  Hasilnya crispy outside, chewy inside.  Selama anak suka, selamat lah….. Lanjutkan membaca “#ThinkSustain Ingat emak-emak kita dulu”

Review blog saya di tahun 2014

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Kereta bawah tanah New York City mengangkut 1.200 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 7.100 kali di 2014. Jika itu adalah kereta bawah tanah NYC, dibutuhkan sekitar 6 perjalanan untuk mengangkut orang sebanyak itu.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

This is interesting.  Di masa sekarang ini rasanya blog sudah berkurang kepopulerannya dan orang lebih suka menggunakan sesuatu yang lebih instan tanpa persiapan khusus seperti instagram atau path.  Tetapi blog masih menjadi sumber informasi bagi banyak orang.  Posting saya tentang statistik masih dibaca hingga sekarang….  Haruskah saya menulis lagi tentang statistik seperti saran review blog saya? Haha…..🙂

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑