Cari

Noon at home, at anywhere

An infuse to lively mind…..

Literasi Ornitologi, menyintas keberagaman…

Kematian Belon masih misteri yang tak terpecahkan, berhubungan dengan politik sang raja….”

belon_comparativeItulah sepenggal presentasi mahasiswa siang ini. Siapakah yang pernah mengenal Pierre Belon? Kalau saja Mochammad Rizky Al Ryzal tidak mengupas buku the Great Naturalist, kita tentu tak tahu siapa Pierre Belon.  Pionir anatomi komparatif ini ternyata adalah seorang naturalis tumbuhan yang pernah menjadi tentara Perancis pada masa Raja Francis I.  Secara sederhana, Belon membandingkan kerangka manusia dengan burung, dan memperkenalkan ide homologi, kesamaan sruktur seperti pada tangan manusia dan sayap burung. Lanjutkan membaca “Literasi Ornitologi, menyintas keberagaman…”

Menjadikan cencorang untuk anakku…

Tugas ananda:  membuat kostum bersama ayah bunda.  Kelas B1 bertema serangga….

kostum_mantisGubraaaak….  Kenapa gak dapat yang burung atau mamalia sih? Kali ini dapatnya malah serangga.  Tugas kali ini membawa kembali memori saya ke permukaan. Lanjutkan membaca “Menjadikan cencorang untuk anakku…”

Mencerna ilmu…

Teaching can be boringTeachers are sometimes boring.  Berbagai pelatihan dan kelas, selalu berkutat dengan pemikiran ‘bagaimana materi dapat dipahami’. Dan ini tentu saja harus disesuaikan dengan latar belakang peserta.

Dari pelatihan-pelatihan yang biasanya merupakan bidang pemahaman saya seperti teknik monitoring satwa liar dan analisanya, kali ini saya kembali ke kelas yang pesertanya adalah mahasiswa, anak-anak sekarang yang relatif melek teknologi, yang  jiwanya seharusnya dipenuhi oleh kegairahan intelektual.

Lanjutkan membaca “Mencerna ilmu…”

Indonesia, surganya gajah purba?

Helmi, anak saya yang berumur 4 tahun dan sedang panas-panasnya menyukai satwa-satwa purba, mungkin harus kecewa jika ia berkeinginan menjadi paleontolog.  Apa daya, Indonesia baru terbentuk pada masa Kenozoikum, sesudah era dinosaurus.Fosil gajah di museum geologi

Demi memenuhi keinginannya melihat fosil, satu-satu museum yang terdekat dan mudah dijangkau adalah Museum Geologi Bandung.  Untungnya di sini masih ada replika fosil Tyrannosaurus rex, si kadal tiran.  Tentunya sih replika karena T-rex ini, fossilnya ditemukan di China.  Namun, yang membuat saya kagum adalah beberapa fosil gajah. Lanjutkan membaca “Indonesia, surganya gajah purba?”

Mengikuti klinik terjemahan buku: saatnya masuk klinik kontemplasi

Ini benar-benar hal baru buat saya.  Biasanya saya terlalu berkutat dengan sains atau hal-hal yang sangat spesifik dengan kebutuhan kantor – perubahan iklim, solusi berkelanjutan. Bahasa-bahasa itulah….  Jadi saat ada tawaran lewat medsos untuk ikut klinik terjemahan buku, saya mendadak langsung mendaftar.

Hasil terjemahan dan suntingannya bisa dilihat di sini. 

Klinik_terjemahan_buku

Jujur, menerjemahkan buku bukan hal yang mudah.  Karena kita harus tahu dasar plot cerita tersebut, di mana lokasinya, serta bagaimana memaknai kalimat-kalimat yang kadang hanya tersirat, plus tentu saja pemahanan bahasa aslinya.  Bahasa novel bukan bahasa sains. Kalimat yang diperlukan lebih dari sekedar ‘dampak perubahan iklim bagi pulau-pulau kecil seperti kenaikan permukaan air laut’ tapi mungkin menjadi ‘pulau-pulau kecil itu makin tergerus oleh air laut akibat iklim yang berubah-ubah’.  Haha….itu cuma kalimat rekaan saya.

Mendapat kiriman penggalan buku ini, sebenarnya membawa pikiran saya ke buku-bukunya Harry Potter.  Itu mungkin gambaran paling sederhana karena saya pernah membaca versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya.  Bahwa ternyata jauh lebih sulit menerjemahkan kalimat-kalimat dalam novel, menggambarkan bagaimana situasi laut yang menampilkan berbagai warna hasil pantulan dengan berbagai bentukan alam.  Ini lebih dari sekedar menerjemahkan tetapi bagaimana membuat replika naskah cerita tersebut tanpa mengubah arti.  Saya ternyata masih takut-takut untuk mengubah susunan kalimat karena takut mengubah arti.  Padahal dalam tataran tertentu sah-sah saja.  Hasil suntingan yang sangat menarik.  Salah satu kalimat terjemahan saya ‘…suaka bagi jiwa-jiwa yang sakit’ mendapat apresiasi dari penyuntingnya.  Haha…saya setuju, itu juga kalimat andalan saya.  Oh iya, satu lagi yang mendapat apresiasi adalah, pemakaian kata depan “di” dan kata imbuhan “di-“.  Kalau ini sih saya menanggapi biasa-biasa saja.  Paling tidak saya masih bisa mengaku sebagai murid Alm. Boen Sri Oemarjati, pengajar bahasa Indonesia saya dulu dan kritikus sastra yang andal.  Beliau sangat spesifik membedakan kedua kata “di” tersebut.

Terakhir, saya ucapkan salut kepada para penerjemah buku karena kerja mereka yang membuat sebuah buku menjadi menarik dan ingin dibaca, dibeli, dan dimiliki….

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑