Cari

Noon at home, at anywhere

An infuse to lively mind…..

Kategori

Science of cooking

#ThinkSustain Ingat emak-emak kita dulu

DSC_0773Lebaran selalu menyisakan banyak hal. Selain cucian menumpuk, kadang masih ada pula sisa opor ayam, ketupat, putih telur sisa membuat kue kering, dan masih banyak lagi.  Saya jadi ingat ibu saya yang tiap pasca lebaran selalu melakukan daur ulang opor ayam nya menjadi abon ayam.  Opor ayam tinggal digoreng sangrai hingga kering.  Atau sisa tape ketan diubah menjadi madu mongso.  Tahun ini ibu saya sudah tak banyak memasak lagi selain karena sudah mulai dikurangi keterlibatannya di dapur, tetapi juga karena kali ini saya juga lebih banyak masuk dapur.  Opor pun pesan jadi.  Eh nyatanya tetap saja sisa lebaran selalu masih ada.  Jadi kali ini saya melakukan pembadaian otak sendiri, melakukan re-use dan re-cycle.  Sisa saus sate, saya olah lagi, dicampur dengan cuka sedikit, saos tomat, dan mayonnaise, jadilah saus gado-gado fusion.  Sisa putih telur kadang saya tambahkan di campuran tahu telor.  Bosan dengan Angel Food Cake, kali ini saya browsing resep brownies dengan putih telur.  Judulnya Crisps brownies.  Hasilnya crispy outside, chewy inside.  Selama anak suka, selamat lah….. Lanjutkan membaca “#ThinkSustain Ingat emak-emak kita dulu”

Hidup seimbang = sistem alam bekerja semestinya

makanan siamangSiamang-siamang yang makan buah dan daun pasti sehat. Burung rangkong pun makan buah, dan mengatur kebutuhan tubuhnya dengan sesekali makan hewan-hewan kecil lainnya pada saat musim berbiak. Tak lain sebagai pasokan protein bagi calon maupun rangkong-rangkong kecil yang lahir. Setiap mahluk hidup telah diatur agar mempunyai sistem metabolisme sedemikian rupa untuk bertahan hidup. Manusia juga begitu. Tetapi kelebihan akal yang dipunyai seringkali juga membuat sistem tubuhnya berjalan tak semestinya. Lanjutkan membaca “Hidup seimbang = sistem alam bekerja semestinya”

‘Mango sorbet’ di musim mangga

Bagus juga kalau kebetulan punya pohon mangga harum manis atau Indramayu. Tapi kalau di halaman adanya mangga apel? Betul. Disebut mangga apel karena bentuknya yang mirip apel, bulat. Pohonnya tidak tinggi dan buahnya berlimpah saat tiba musimnya, seperti bulan Desember ini. Menurut yang menanam, jika dalam satu untaian buahnya dikurangi, maka buah yang tersisa dapat menjadi jauh lebih besar. Duh, sayangnya rasanya segitu-gitu aja. Banyak orang menganggap mangga apel cuma bagus untuk menjadi pohon peneduh saja. Buahnya dengan daging buah yang kekuningan bisa cukup manis jika matang betul. Tetapi rasanya seperti peralihan antara kweni. Tidak terlalu tepat untuk dimakan mentah tetapi cukup lumayan jika ditambah gula dan dibuat jus atau punch. Bosan juga lama-lama. Padahal banyak orang sudah ikut mendapat pelimpahannya.

mango_sorbet.jpg

Terinspirasi dari es krim bebas lemak, sorbet menjadi salah bentuk aplikasi dessert dari mangga apel ini. Kata sorbet sendiri dianggap berasal dari sherbet, minuman dingin tradisional dari Timur Tengah. Dalam perkembangannya, sherbet ini dimodifikasi menjadi sorbet yaitu frozen fruit dessert yang dibuat dari buah yang dihaluskan dengan tambahan gula atau madu yang kemudian dibekukan. Ya betul, dengan kata lain jus buah beku. Jadi, sorbet ini bebas dari produk hewan seperti susu dan telur. Lanjutkan membaca “‘Mango sorbet’ di musim mangga”

Jika tubuh kepingin coklat

Craving for chocolate? Gimana jika sewaktu-waktu otak mengirimkan pesan akan kebutuhan coklat…banget? Konon kabarnya, pada perempuan kebutuhan coklat ini gabungan antara kultur dan kandungan kimia (http://archives.cnn.com/2000/HEALTH/diet.fitness/02/02/chocolate.wmd/).

choc_pudding.jpg

Nisa dan tantenya punya kegemaran yang sama. Kalau ke supermarket selalu mengunjungi gerai makanan dari susu olahan dan mencari ‘chocolate pudding’. Puding coklat yang ini tidak termasuk puding coklat bertekstur kaku seperti yang dikenal di Indonesia (yang dimakan dengan vla), tapi cenderung bertekstur seperti emulsi. Ini karena tidak ada kandungan agar2 di dalamnya. Kekentalannya diperoleh dari tepung maizena yang memang fungsinya sebagai agen pengental jika suhu meningkat melalui pemanasan. Jadi, di antara browsing scientific journal dan resep, yang didapat ternyata malah resep ‘chocolate pudding’ ini. Rasa dan warna coklatnya diperoleh dari Dutch processed cocoa (bubuk cacao) dan chocolate chips. Btw, Dutch processed cocoa itu biji cacao yg bersifat asam dimasak dengan campuran alkali sehingga sifatnya menjadi netral, dan berwarna coklat kemerahan. Akibat proses ini, bubuk cacao menjadi lebih mudah larut dan rasanya tidak terlalu pahit.

Gampang banget buatnya. Campur gula, cacao, tepung maizena, dan garam di panci. Aduk rata sambil dicampur dengan susu. Masak sambil diaduk (ingat, susu yang dimasak di atas api harus terus diaduk supaya tidak ‘pecah’) hingga kental. Sementara itu, kocok telur sebentar di wadah tahan panas. Masukkan cairan susu yang masih panas ke dalam kocokan telur sambil diaduk. Masukkan chocolate chips dan aduk hingga leleh. Masukkan ke dalam cup atau wadah2 berukuran kecil, tutup dengan plastic wrap. Ini untuk mencegah timbulnya lapisan tebal di bagian permukaannya pada saat adonan dingin. Dinginkan di lemari es.

Rasa ‘rich-chocolate’ dari pudding ini sebenernya berasal dari chocolate chipsnya, sementara rasa cairan susu+cacao sendiri tak lebih seperti minum susu coklat. Resep ini sendiri memakai’ounce’ untuk mengukur kebutuhan chocolate chipsnya. Tapi repot juga musti kalkulasi ounces ke dalam gram berhubung Indonesia pakai sistem metric yang berbeda dengan Amerika. Ada juga sih beberapa situs metric calculator kalau mau tepat banget. Tapi kalau saya sendiri banyaknya chocolate chips tidak tergantung resep, tapi tergantung rasa. Masukkan chocolate chipsnya sedikit2 sambil sesekali dirasakan hingga rasanya coklatnya sudah pas di lidah kita.

Jadi daripada susah2 cari chocolate pudding di supermarket, mending buat sendiri aja. Cocok banget deh untuk memenuhi chocolate intake di kala stress melanda 😛

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑