Helmi, anak saya yang berumur 4 tahun dan sedang panas-panasnya menyukai satwa-satwa purba, mungkin harus kecewa jika ia berkeinginan menjadi paleontolog.  Apa daya, Indonesia baru terbentuk pada masa Kenozoikum, sesudah era dinosaurus.Fosil gajah di museum geologi

Demi memenuhi keinginannya melihat fosil, satu-satu museum yang terdekat dan mudah dijangkau adalah Museum Geologi Bandung.  Untungnya di sini masih ada replika fosil Tyrannosaurus rex, si kadal tiran.  Tentunya sih replika karena T-rex ini, fossilnya ditemukan di China.  Namun, yang membuat saya kagum adalah beberapa fosil gajah.

Gajah purba dari famili Proboscidea pertama kali muncul sekitar 25 juta tahun setelah dinosaurus punah.  Jadi tentu saja Ice Age, dawn of the dinosaurs, yang mempertemukan Manny si Mammot Sh dengan T-rex tentu saja cuma rekaan film saja (dan bikin pusing saya menjelaskan ke anak karena dia sudah tahu mereka hidup pada masa yang berbeda).  Menariknya tidak cuma satu spesies gajah purba di musium ini, namun ada beberapa.  Apalagi jika dibandingkan dengan spesies gajah di Indonesia yang cuma satu ini, Elephas maximus, tentu saja pikiran kita menjadi terbawa ke masa lalu.  Apa yang terjadi dengan gajah-gajah purba ini?  Apa yang terjadi dengan Indonesia di masa lalu?

Dwarf elephant atau gajah kerdil dari genus Stegodon ternyata cukup merajai kepulauan Indonesia.  Jenis lainnya dahulu menghuni kepulauan Mediterania.  Menariknya bentuk kerdil ini diduga akibat insular dwarfisme.  Tinggal di pulau-pulau yang kondisi habitatnya miskin membuat gajah pun mengerdil.  Kasus yang serupa diduga terjadi pada Homo florensis, manusia Flores yang juga kerdil, sama seperti yang dialami Stegodon sondarii. Beberapa jenis stegodon yang ditemukan di Indonesia di antaranya S. sondarii, S. florensis (keduanya ditemukan di Flores namun hidup pada masa yang berbeda), S elephantoides dan S. trigonocephalus di Jawa yang berasal dari Pliosen akhir saat Jawa masih bersambungan dengan daratan Asia, dan S. sompoensis (Sulawesi). Dan  tahun 2014 lalu, ditemukan fosil S. semedoensis, juga di Jawa.  Gajah kerdil purba diduga merupakan perenang ulung.  Namun akhirnya punah pula mereka karena diburu, serta akibat letusan gunung berapi.  Dengan demikian, para gajah kerdil ini bukanlah nenek moyang  gajah modern kita si Elephas maximus.

Namun, tidak hanya gajah kerdil yang pernah menempati negeri ini.  Masih ada Sinomastodon bumiajuensis yang juga ditemukan di Jawa, dan kemudian Elephas hysudrindicus yang ditemukan di Blora.  Baru pada Pleistosen akhir saat hutan tropis mulai muncul, Elephas maximus tiba di Jawa untuk kemudian punah di pulau ini pada periode Holosen.  Sila baca sendiri di sini.

Lantas, bagaimana bisa sekian banyak spesies Proboscidea ini hanya tertinggal 1 spesies saja kini yang hanya ada di Sumatra?  Inilah kisah biogeografi, lempeng tektonik, dan pergerakan benua, plus masih ada lagi pengaruh antropogenik. Sayangnya, masih banyak benang yang belum tersambung.  Apakah mereka punah di Jawa murni karena perburuan megafauna?  Ataukah akibat perubahan  iklim pada masa glasial akhir yang membuat kondisi menjadi lebih kering? Mungkinkah kita harus menunggu Helmi menjadi paleontolog? Hehehe……