Ini benar-benar hal baru buat saya.  Biasanya saya terlalu berkutat dengan sains atau hal-hal yang sangat spesifik dengan kebutuhan kantor – perubahan iklim, solusi berkelanjutan. Bahasa-bahasa itulah….  Jadi saat ada tawaran lewat medsos untuk ikut klinik terjemahan buku, saya mendadak langsung mendaftar.

Hasil terjemahan dan suntingannya bisa dilihat di sini. 

Klinik_terjemahan_buku

Jujur, menerjemahkan buku bukan hal yang mudah.  Karena kita harus tahu dasar plot cerita tersebut, di mana lokasinya, serta bagaimana memaknai kalimat-kalimat yang kadang hanya tersirat, plus tentu saja pemahanan bahasa aslinya.  Bahasa novel bukan bahasa sains. Kalimat yang diperlukan lebih dari sekedar ‘dampak perubahan iklim bagi pulau-pulau kecil seperti kenaikan permukaan air laut’ tapi mungkin menjadi ‘pulau-pulau kecil itu makin tergerus oleh air laut akibat iklim yang berubah-ubah’.  Haha….itu cuma kalimat rekaan saya.

Mendapat kiriman penggalan buku ini, sebenarnya membawa pikiran saya ke buku-bukunya Harry Potter.  Itu mungkin gambaran paling sederhana karena saya pernah membaca versi bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya.  Bahwa ternyata jauh lebih sulit menerjemahkan kalimat-kalimat dalam novel, menggambarkan bagaimana situasi laut yang menampilkan berbagai warna hasil pantulan dengan berbagai bentukan alam.  Ini lebih dari sekedar menerjemahkan tetapi bagaimana membuat replika naskah cerita tersebut tanpa mengubah arti.  Saya ternyata masih takut-takut untuk mengubah susunan kalimat karena takut mengubah arti.  Padahal dalam tataran tertentu sah-sah saja.  Hasil suntingan yang sangat menarik.  Salah satu kalimat terjemahan saya ‘…suaka bagi jiwa-jiwa yang sakit’ mendapat apresiasi dari penyuntingnya.  Haha…saya setuju, itu juga kalimat andalan saya.  Oh iya, satu lagi yang mendapat apresiasi adalah, pemakaian kata depan “di” dan kata imbuhan “di-“.  Kalau ini sih saya menanggapi biasa-biasa saja.  Paling tidak saya masih bisa mengaku sebagai murid Alm. Boen Sri Oemarjati, pengajar bahasa Indonesia saya dulu dan kritikus sastra yang andal.  Beliau sangat spesifik membedakan kedua kata “di” tersebut.

Terakhir, saya ucapkan salut kepada para penerjemah buku karena kerja mereka yang membuat sebuah buku menjadi menarik dan ingin dibaca, dibeli, dan dimiliki….