DSC_0773Lebaran selalu menyisakan banyak hal. Selain cucian menumpuk, kadang masih ada pula sisa opor ayam, ketupat, putih telur sisa membuat kue kering, dan masih banyak lagi.  Saya jadi ingat ibu saya yang tiap pasca lebaran selalu melakukan daur ulang opor ayam nya menjadi abon ayam.  Opor ayam tinggal digoreng sangrai hingga kering.  Atau sisa tape ketan diubah menjadi madu mongso.  Tahun ini ibu saya sudah tak banyak memasak lagi selain karena sudah mulai dikurangi keterlibatannya di dapur, tetapi juga karena kali ini saya juga lebih banyak masuk dapur.  Opor pun pesan jadi.  Eh nyatanya tetap saja sisa lebaran selalu masih ada.  Jadi kali ini saya melakukan pembadaian otak sendiri, melakukan re-use dan re-cycle.  Sisa saus sate, saya olah lagi, dicampur dengan cuka sedikit, saos tomat, dan mayonnaise, jadilah saus gado-gado fusion.  Sisa putih telur kadang saya tambahkan di campuran tahu telor.  Bosan dengan Angel Food Cake, kali ini saya browsing resep brownies dengan putih telur.  Judulnya Crisps brownies.  Hasilnya crispy outside, chewy inside.  Selama anak suka, selamat lah…..

My son with white egg brownies
My son with white egg brownies

Reduce, reuse, dan recycle adalah konsep yang konon muncul pada hari bumi pertama kali di tahun 1970.  Konsep ini yang banyak dikaitkan dengan waste management atau pengelolaan limbah. Yah tentu saja, daripada sisa opor dibiarkan menjadi basi lalu dibuang, kan mending diolah kembali.  Tetapi buat saya, konsep ini di rumah tangga sangat terkait ketahanan pangan.  Ingatlah eyang-nenek kita dahulu.  Sisa kulit dan kepala udang diolah menjadi terasi.  Sisa nasi masih bisa jadi rengginang.  Pada masa lalu yang tidak semudah sekarang mendapatkan variasi makanan, pemanfaatan ini tentu menjadi penting.  Di lapangan pun, saya juga mengalami dan melihat sendiri mbak Tun, chefnya stasiun penelitian Way Canguk di Bukit Barisan Selatan, Lampung pada waktu itu, memanfaatkan ulang daun pisang pembungkus tempe yang masih terdapat sisa-sisa tempenya (bagian putihnya) yang notabene masih mengandung ragi, untuk dijadikan tempe kembali.

Pikir-pikir, konsep 3R yang muncul jauh sebelum gaung perubahan iklim ini sebenarnya adalah dasar pemikiran berkelanjutan.  #ThinkSustain.  Saya lagi suka kata-kata ini.  Tidak mudah kita melakukan awareness bahkan lewat medsos tentang perubahan iklim, bagaimana melakukan mitigasi dan adaptasinya.  Itu seperti kalimat di awang-awang buat orang kebanyakan.  Kalimat yang terlalu ‘tinggi’ yang hanya orang-orang tertentu yang dapat menggapainya.  Males lah baca gituan…..  Padahal banyak dari kita-kita sering tak sadar bahwa kita sendiri sudah melakukan bentuk-bentuk adaptasinya. Yah, macam opor jadi abon tadi….

Secara lebih serius 3R tadi bahkan dapat diterapkan ke sumber pakan baru.  Bagian dasar daun bawang yang berakar direndam saja di dalam sedikit air, akan tumbuh daun bawang baru.  Bagian dasar seledri bisa ditanam ulang untuk mendapatkan tunas-tunas baru.  Saya sendiri juga sering melakukan ini, meskipun lebih banyak tidak berhasilnya karena tikus-tikus di rumah ternyata juga suka tunas-tunas mudanya.  Inilah ketahanan pangan tingkat rumah tangga yang paling dasar.  Jadi, siapa bilang kita gak bisa kontribusi mengatasi perubahan iklim?