The Grouchy Ladybug nya Eric Carle menjadi bintang hari ini.  Sejak “the Very Hungry Catepillar”, saya jatuh cinta pada buku-bukunya Eric Carle.  Buku “the Grouchy Ladybug” oleh-oleh saya keluar kota itu membuat saya yang malam itu baru tiba harus membacakannya ke Helmi padahal waktu hampir menunjukkan pukul 12 malam.

grouchyladybug

Si kepik penggerutu yang tak mau berbagi aphids, menu sarapan pagi para kepik, dengan temannya membuatnya terpaksa menantang berbagai hewan lainnya yang jauh lebih besar, dari tawon hingga paus. Gak kecewa rasanya membeli buku ini karena di dalamnya termasuk belajar membaca jam dan aneka satwa.

Tapi bukan aneka satwa ataupun jam yang membuat Helmi tertarik. Kali ini adalah Aphids.  Makanan si kepik.  Helmi, 3 tahun, sudah pernah melihat kepik di sekitar rumah.  Sudah pernah melihat pula bahwa kepik punya sayap dan bisa terbang. Tapi Aphids adalah hewan baru, nama baru yang didengarnya. Saya sendiri baru tahu serangga itu beberapa tahun setelah saya lulus perguruan tinggi.  Pun itu diberitahu oleh bos saya yang orang Amrik.  Jadi hari ini kami berdua belajar Aphids dan sore ini kami berdua mencari-cari Aphids di halaman.

Camera 360 Camera 360

Aphids adalah serangga mungil yang sering ada di daun-daun tanaman.  Tak perlu jauh-jauh mencarinya.  Aphids suka sekali menyerang tanaman di halaman kita seperti yang menimpa daun-daun mangga apel di rumah.  Kutu daun ini dapat berwarna putih, kuning, coklat, merah, hingga hitam dan suka bergerombol di balik daun atau tangkai daun.  Aphids yang putih kadang terlihat seperti benang-benang wool.  Aphids dapat menginjeksi daun dengan racunnya sehingga daun menjadi melengkung keriput dan dapat menghambat pertumbuhan, Dan ternyata tanaman yang daun-daunnya sudah melengkung keriput ini menjadikan tameng terhadap pestisida dan musuh alami lainnya sehingga sulit dibasmi.  Kepik adalah salah satu musuh alami Aphids sementara semut justru saling bersimbiose mutualisme dengan Aphids.  Semut-semut suka sekali makan cairan yang dikeluarkan Aphids (disebut honeydew).  Honeydew ini membuat daun dan tangkainya menjadi kehitaman.  Dan sebagai balasannya, semut akan melindungi para Aphids dari para musuh alaminya.  Jadi, tepat sekali bahwa di akhir buku, si daun berterima kasih pada para kepik yang membantu membersihkannya dari para Aphids.

Sayang sekali kami tak menemukan kepik sore itu.  Bagi Helmi, “the Grouchy Ladybug” membuatnya tahu tentang makanan si kepik.  Bagi Helmi, berkenalan dengan si Aphids menjadi bahan percobaan baru menawarkan daun yang penuh Aphids untuk si kucing garong kalau-kalau ia mau memakannya. Bagi saya, “the Grouchy Ladybug” adalah bukti bahwa buku adalah jendela penjelajahan dunia.  Karena lewat buku, kami berdua sore itu menjelajahi halaman rumah…..

Camera 360
Ayo kucing, maukah kau makan aphids ini?