Rambutan adalah pohon asli Indonesia and Malaysia. Rambutan adalah buah yang hanya mau matang di pohon. Artinya, jika dipanen sebelum matang, ia tak akan berubah menjadi matang karena tidak ada agen pematangnya (hormon ethylene). Bunga rambutan diserbuki oleh lalat, lebah, dan semut. Pohonnya membutuhkan drainase yang baik. Jadi tak heran juga jika pohon ini selalu dipenuhi semut-semut sehingga cukup merepotkan jika dipanjat.  Rambutan ternyata juga sudah diintroduksi di Amerika Latin. Masuk Mexico tahun 1950.

Rambutan yang tengah dikunjungi kupu-kupu Polyura athamas
Rambutan yang tengah dikunjungi kupu-kupu Polyura athamas

Saya suka sekali rambutan. Sayangnya dulu sewaktu kecil, rumah kami tak punya pohon rambutan. Satu-satunya kesempatan makan rambutan adalah jika pohon rambutan di rumah Opa sedang berbuah. Hingga saat ini keluarga bapak saya sudah beberapa kali pindah rumah dan permintaan saya setiap pindah adalah menanam pohon rambutan. Di rumah kami di Kebayoran Lama, pohon rambutan kami tepat berada di teras belakang. Saat musim berbuah, kami tinggal membuka pintu teras untuk memetik rambutan pelepas dahaga saat pulang sekolah. Pohonnya mudah pula dipanjat. Saat pindah ke Depok (ya…keluarga kami memang lama kelamaan pindah dari kota ke pinggiran kota), pohon rambutan binjai pula yang ditanam dan selalu berbuah lebat.

Pohon rambutan ini terus bertahan dari tahun ke tahun. Hingga suatu masa di empat tahun yang lampau, ia terpaksa berkorban. Saat saya menikah, lahan tempat si pohon rambutan terpaksa ditutupi oleh tenda yang membuat hanya sebagian kecil dari tajuknya yang masih bertemu angin dan sang sinar matahari. Hampir seminggu penuh batang pohon dan rumput-rumput di bawahnya tak terkena sinar matahari. Dan ternyata dampaknya sangat terasa. Tahun itu, ia hanya berbuah sedikit, kecil-kecil, tak sehat….. Tahun berikutnya begitu pula. Tak semua cabang-cabangnya menghasilkan buah. Kalau melihat fenologinya (pola periodik yang terjadi pada tumbuhan dan hewan), skor 4 bunga dan buahnya dapat menurun hingga skor 2 saja. Tahun lalu, sempat berharap sang rambutan kembali seperti semula. Sayangnya tahun lalu terlalu banyak hujan. Baru tahun ini tampak harapan yang lebih baik. Bunganya mencapai skor 4, yang artinya 75-100% dari tajuknya menghasilkan kuncup-kuncup bungaTiga tahun saya menikmati buahnya dengan bersedih karena produksi yang berkurang dan kualitas buah yang menurun.

Pohon rambutan ini masih bertahan. Salah satu cabangnya kadang masih menjadi penyangga ayunan anak lelakiku. This is the legacy of my late father. Ia menjadi contoh nyata bagaimana selain iklim yang berubah, kita, manusia pun mengganggu keseimbangannya.

“If you do that, I’ll do this and you take it…. The consequences will never be the same….”