Hutan terdegradasi tidak melulu perlu diubah menjadi sawah….

011312_0552_Foodsecurit1.jpgSeluruh bagian kehidupan manusia mempunyai interkonektivitas. Yang satu terkait dengan yang lain. Mari kita lihat sepenggal saja…. Kehadiran satwa polinator membantu menyerbuki bunga hingga menjadi buah, menjadi mak comblang antara putik dan benang sari sehingga kita dapat menikmati kopi, durian lokal, atau sambel goreng ati yang dimasak dengan pete.  Kopi diserbuki lebah, sementara duren dan petai diserbuki kelelawar.  Ini semua adalah karunia Tuhan. Subhanallah…. Para satwa ini seperti lebah, kupu-kupu, kelelawar, dan burung adalah provision dari ecosystem services, penyedia layanan lingkungan.  Adanya mereka membantu memperbaiki hasil panen petani. Nah, namun hutan punya peran pula. Satwa-satwa ini lebih suka tinggal di hutan. Riset juga mengatakan bahwa semakin dekat jarak kebun dengan hutan, makin baik produksi panen petani. Makin dekat dengan hutan, makin banyak pula jenis satwa polinator yang hadir.

DSC07913_editLantas bagaimana dengan hutan yang terdegradasi? Haruskah hutan yang rusak berserah diri dan menyerah pada kehendak manusia? Belum tentu… Hutan sebenarnya mampu beregenerasi secara alami. Angin membawa biji-biji yang ringan, menyebarkannya untuk tumbuh pada tempat-tempat lain. Burung-burung pemakan buah, selama ada tempat bertengger pun akan membawa biji dan menyebarkannya, memberi kesempatan hutan rusak untuk pulih kembali. Begitu pula banyak jenis primata lainnya. Semua memang perlu waktu. Lihat Krakatau… Si burung kutilang yang biasa kita lihat di perkotaan ikut berperan lho menghijaukan Krakatau.

Masih mau minum kopi lokal Indonesia? Masih mau makan duren lokal yang ranum mewangi? Mari beramal untuk alam, niscaya alam akan membalasmu dengan limpahan bahan makanan berlimpah bagi anak cucumu. Di sini kita bicara tentang ketahanan pangan. Prof Emil Salim pernah mengatakan bahwa 21% dari GDP Indonesia berasal dari jasa lingkungan. Contoh nyata dari kelangkaan satwa polinator adalah Colony collapse disorder, kelangkaan lebah-lebah pekerja yang terjadi di Amerika pada tahun 2006-2007. Kalau tak ada lebah pekerja, tentu tak ada madu yang dihasilkan, karena tak ada yang beterbangan mencari madu, pun berakibat pula pada banyak bunga-bunga yang gagal menjadi buah. Ini berdampak kerugian ekonomi dari hasil pertanian Amerika hingga USD 8-12 bilyun. Sistem pertanian Amerika yang sudah sangat tergantung dengan insektisida memang punya peran besar dalam menyebabkan kelangkaan ini. Ini jelas contoh keterkaitan satu dengan yang lain.

Pun kita juga harus berhati-hati dengan yang disebut-sebut GMO (Genetically Modified Organism). Ini adalah rekayasa genetika dengan memasukkan materi genetis organisme lain pada tumbuhan atau hewan untuk ketahanan terhadap hama, atau perolehan hasil panen yang lebih besar. Beberapa link berikut cukup menarik untuk dibaca (di sini dan sini). Tentu banyak kontroversi tetapi kehati-hatian tetaplah perlu. WHO sendiri mengeluarkan daftar tentang hal-hal yang yang perlu dicermati dalam implementasi GMO dari soal dampak bagi kesehatan dan lingkungan. Gen rekayasa dapat saja lepas dan mempengaruhi populasi spesies liar di alam. Tidak saja bagi spesies tumbuhannya tapi juga bagi satwa terkait seperti serangga non-hama.

Masih banyak kok tumbuhan asli Indonesia yang perlu dikembangkan. Kultivar pisang Indonesia sangat beragam tapi malah Costa Rica yang dikenal sebagai produsen pisang dunia dari pisang Cavendish nya. Ayo jaga hutan, dan tingkatkan pangan lokal. Itu baru food security…..

“Helps our nature, and nature will service us….