Ini gara-gara tadi ikutan mendengarkan para mahasiswa mata kuliah biogeografi mempresentasikan proyek kecilnya. Salah satunya bicara tentang food security atau ketahanan pangan. Menarik, karena kelompok ini tak lupa menyediakan contoh makanan non-beras hasil kreasi mereka sendiri.

Ibu saya beberapa hari lalu mengeluh kalau harga beras sudah naik dari biasanya. Pun harga terigu ditengarai juga akan naik. Ketahanan pangan memang sangat terkait konservasi hingga perubahan iklim, dengan isu utama yaitu sustainability. Tersedia selalu tanpa terpengaruh krisis ekonomi dan perubahan iklim. Isu ini sangat penting bagi Indonesia yang makanan pokok utamanya adalah beras. Kelompok tadi misalnya, mengungkapkan hasil wawancara dari beberapa ibu-ibu di suatu tempat di Jakarta Selatan, yang memperlihatkan keinginan untuk menggunakan bahan makanan non-beras. Saya jadi berpikir, sampai sejauh mana keinginan tersebut dapat benar-benar diterapkan. Jadi teringat masa kecil… Sehabis makan siomay atau mie ayam misalnya, pasti tetap disuruh makan nasi juga. Padahal sebagian besar yang dimakan adalah karbohidrat. Makanya jadi kudaper…

Saya jadi teringat ‘Omnivore’s dilemma’ nya Michael Pollan yang salah satunya menceritakan bagaimana jagung meng’invasi’ pola makanan dan rantai makanan di Amerika dengan akibat yang dirasakan sekitar duapuluh tahunan kemudian dengan makin banyaknya persentase anak menderita obesitas dan diabetes. Setelah punya Helmi, saya rasa diversifikasi pangan dengan mengganti beras dengan sumber karbohidrat lainnya harus diterapkan sejak bayi mulai MPASI nya. Bagaimana tidak, pola makan dengan bubur/nasi tim beras sudah ditekankan sejak bayi dan ini tercantum pada buku catatan posyandu. Dan trend saat ini malah beralih ke gandum alias terigu, misalnya dalam bentuk mie, pasta, dan roti. Kedua-duanya, baik beras maupun terigu masih pula impor. Hasil obrolan saya dengan beberapa ibu yang telah berpengalaman punya anak (maksudnya punya anak lebih dari satu), misalnya menyatakan anaknya kemudian menolak untuk makan selain nasi sebagai menu makan utamanya karena penggunaan sumber karbohidrat non-beras tidak diterapkan sebagai menu makanan utama. Saya sendiri mengakui bahwa sejak anak saya masuk 10 bulan, saya berpreferensi memberi bubur/nasi tim beras kepadanya sebagai makanan utama untuk kemudahan memasak serta pola pikir bahwa beras lebih mengenyangkan. Padahal sebelumnya, variasi menu utama cukup lumayan. Selain bubur beras, saya juga memberinya havermout, pasta, tahu, dan roti yang biasanya saya berikan sebagai menu sarapan. Hal ini rasanya perlu dicermati juga dalam usaha melakukan diversifikasi pangan non-beras karena:

  1. Beras berbentuk bulir sehingga bentuk makanan seperti ini lebih mudah diberikan pada bayi dalam usaha melatih menguyah. Tinggal dikurangi atau ditambah airnya saja sementara bahan lain seperti havermout lebih halus (dan saat ini sudah ditolak jelas-jelas oleh Helmi)
  2. Beras telah menjadi menu makanan utama keluarga sehingga bayi pun lebih mudah mengikuti menu keluarga
  3. Beras adalah karbohidrat bebas gluten. Apalagi sekarang ada kecenderungan beberapa kondisi yang membutuhkan makanan non-gluten. Beras atau tepung beras masih jauh lebih mudah diperoleh dibanding bahan non-gluten lainnya.

Maka penanganan pengalihan sumber pakan non-beras bukan hanya pengelolaan sumber daya alam atau penggunaan teknologi yang lebih baik, namun sosialisasinya pun harus dilakukan dari unit terkecil yaitu rumah tangga. Dan ini mengingatkan saya untuk mencari ide-ide baru untuk si Helmi, apalagi si kecil ini tampaknya tidak terlalu suka makan kentang. Duh, semoga dia mau makan nugget tahu-misoa-keju kukus buatan saya…. Walah..misoanya masih dari tepung terigu juga….😛