Perubahan iklim bisa dianggap sebagai isu baru dan lama. Isu lama karena yang namanya iklim pasti terkait dalam suatu siklus, artinya dari ice age dulu pun sudah ada perubahan iklim. Isu baru karena topic ini serasa baru terus. Yah karena memang belum ada ilmu khusus tentang perubahan iklim. Artinya, para peneliti berlatar belakang apapun mau tidak mau harus belajar dan mendalami isu ini. Barangkali baru beberapa tahun belakangan ini ada beberapa institusi pendidikan yang membuka jurusan atau keminatan khusus tentang perubahan iklim.

Itu secara umum. Belum lagi jika bicara khusus tentang Indonesia. Oh ya, seperti biasa dalam kasus saya tentunya terkait wildlife alias satwa liar dan habitatnya. Ini menjadi subtopik yang (mohon ampun) begitu minim dengan informasi. Beberapa tahun terakhir terkait dengan pekerjaan, saya pernah mencoba mengutak-atik informasi riset-riset perubahan iklim terkait satwa liar dan habitatnya di Indonesia dan daerah tropis lainnya. Hasilnya, mohon ampun lagi (karena saya belum dapat berkontribusi pula) tidak dapat dikatakan cukup untuk membangun informasi tentang respon satwa terhadap perubahan iklim dan membuat suatu prediksi resiko perubahan iklim. Secara kuantitatif, mungkin hanya 10% dari informasi yang saya kumpulkan berasal dari riset daerah tropis. Dan dari sekian ini, hanya 10 % berasal dari Indonesia. Pun ini ditambah dengan kelemahan publikasi hasil riset di jurnal internasional. Jadi, ini menjadi suatu tantangan bagi periset satwa liar untuk mencoba menggali lebih dalam tentang informasi yang satu ini. Yah, diversifikasilah….

Lantas mengapa sebegitu pentingnya melihat respon satwa terhadap perubahan iklim? Satwa dan habitatnya bisa dikatakan merasakan dampak awal dari perubahan iklim. Telaah resiko kawasan konservasi terhadap perubahan iklim tanpa informasi seberapa jauh kerentanan satwa terhadap perubahan iklim, misalnya dapat menjadi kurang lengkap. Beberapa satwa misalnya memperlihatkan kebutuhan microhabitat tertentu yang salah satunya terkait dengan suhu. Habitat alami misalnya dalam kawasan konservasi dianggap lebih sulit beradaptasi akibat keterbatasan tergantinya vegetasi alami dibanding daerah pertanian, sementara vegetasi dianggap berperan penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Vegetasi juga berperan dalam pemberi sumber daya bagi satwa misalnya untuk sumber pakan. Lebih jauh lagi, hutan tanpa satwa ya pada akhirnya akan memburuk karena terganggunya sistem alam.

Jadi saya mencoba mengutak-atik, apa sih yang membuat minimnya riset perubahan iklim terkait satwa liar atau?

  1. Studi jangka panjang. Oh ya, rata-rata riset perubahan iklim membutuhkan data jangka panjang. Masuk akal sih, karena perubahan iklim adalah siklus tentunya perlu waktu lama pula untuk memastikan respon yang terlihat adalah dampak perubahan iklim yang sesungguhnya. Pada kenyataannya di Indonesia, tidak banyak studi jangka panjang yang dilakukan karena keterbatasan dana, peneliti mungkin telah berpindah minat, atau stasiun penelitian yang terkelola dengan baik dalam jangka panjang
  2. Iklim daerah tropis yang relatif stabil. Ini membuat respon satwa mungkin menjadi tersamar. Beberapa penelitian perubahan iklim terkait satwa di daerah non-tropis biasanya memperlihatkan hasil berupa perubahan distribusi satwa, perubahan fenologi seperti siklus reproduksi, migrasi, dsb., yang umumnya diakibatkan karena kenaikan suhu. Nah, pada kondisi seperti Indonesia dengan 2 musim saja, perubahan suhu secara ekstrim tidak mudah terlihat.
  3. Dampak perubahan iklim tidak seragam dan dapat memperlihatkan variabilitas

Jadi menurut saya (boleh diikuti boleh tidak), deforestasi seharusnya dapat menjadi kata kunci dalam mengembangkan riset peruhan iklim. Dan barangkali yang dapat dikembangkan dalam riset adalah:

  1. Cari parameter lain terkait perubahan iklim, seperti bentuk-bentuk gangguan. Ingat, untuk Indonesia deforestasi dianggap sebagai penyumbang terbesar bagi peningkatan emisi gas rumah kaca. Jadi coba cek dampak gangguan terhadap satwa. Setidaknya satwa-satwa ini mungkin cukup rentan terhadap faktor pemicu perubahan iklim
  2. Buat catatan observasi secara reguler dan standar. Yang biasa jalan-jalan, misalnya untuk pengamatan burung, coba buat catatan secara teratur dengan informasi yang standar. Contohnya, migrasi burung pemangsa misalnya dapat dicek setiap tahun tanggal kedatangan, jumlah individu atau jenis yang terlihat, serta jangan lupa catat kondisi iklimnya. Oh ya, btw soal kondisi iklim mungkin dapat dicek dari stasiun klimatologi terdekat yang infonya dapat diperoleh di BMKG atau bahkan dari NOAAA.
  3. Berkolaborasi dengan disiplin ilmu lain. Oh ya, perubahan iklim menyentuh berbagai pihak, berbagai latar belakang, jadi perlu usaha multidisipliner untuk mengembangkan riset ini.

Dan, pada akhirnya kesemuanya berujung ke konservasi…… Konservasi hutan, air, tanah, energi, konservasi kehidupan umat manusia….