Sungguh suatu karunia terbesar, suatu keajaiban merasakan adanya kehidupan dalam kehidupan, adanya kehidupan dalam rahim. Perasaan campur aduk menyelimuti, gado-gado informasi membanjir, dan banyaknya perhatian yang mampir pada si empunya perut yang makin membesar ini. Bekerja pada bidang konservasi yang banyak terkait dengan satwa menimbulkan banyak pemikiran. Yang cukup unik adalah seringkali jadi pembanding dengan pengalaman teman-teman yang bermain dengan satwa. “Kalo di sapi, bla….bla….bla…..” “Kalau di kelelawar, bayinya pun melakukan rooting instinct mencari puting susu ibunya”.

Ya, kehidupan dalam kehidupan membuat kita belajar kembali akan natural history dari kita sendiri sebagai manusia. Bagaimana jalinan sistem hormon saling bekerja sama. Yang satu menginduksi yang lain, atau yang satu menghambat yang lain. Manusia adalah suatu sistem kehidupan. Ada sesuatu yang berubah, maka sistem pun akan berubah yang adaptasinya pun belum tentu menyenangkan. Tetapi sistem kehidupan ini pun ada yang mencipta.

Salah satu pelajaran yang saya dapati adalah keunikan setiap individu. Secara teori memang ada gejala-gejala dasar misalnya tanda-tanda awal kehamilan, keluhan-keluhan pada setiap trimester dsb. Namun ternyata tetap setiap calon ibu memperlihatkan jalinan tanda-tanda yang berbeda, yang menurut saya banyak dipengaruhi oleh sikap, perilaku kita terhadap tubuh kita sendiri pra-nikah atau pra-kehamilan. Misalnya saja, you are what you eat. Apa yang kita makan dapat menjadi bekal pada masa-masa awal ‘H’ ini. Bagaimana kita memperlakukan tubuh dan postur di pekerjaan pun dapat pula dikaitkan. Seperti misalnya keseleo, salah urat saat keluar-masuk hutan kelihatannya berpengaruh juga terhadap beban pada kaki sebelah kanan.

Terkait dengan keunikan inilah maka tidak pernah mudah melakukan pendugaan jenis kelamin si calon bayi ini jika hanya didasarkan pada tampilan luar si ibu. Prediksi seperti ini ternyata dikenal juga di luar negeri seperti misalnya bentuk perut atau dari hitungan detak jantung. Kebudayaan Cina kuno (http://pregnancy.about.com/od/boyorgirl/l/blchinesegenderchart.htm) sendiri misalnya menggunakan umur ibu dan waktu saat terjadinya pembuahan. Ada juga yang menggabungkan beberapa prediksi ini menjadi suatu tes (http://pregnancy.about.com/od/boyorgirl/l/blchinesegenderchart.htm) yang rasa-rasanya malah makin membingungkan. Dari pengalaman teman-teman sendiri, ternyata tetap tidak ada prediksi yang cukup standar. Saya sendiri tidak pernah tahu apakah dokter-dokter kandungan yang sudah terlalu seringnya melihat ibu hamil punya cara pendugaan kelamin ini. Di luar bentuk fisik, tampilan luar si ibu rasa-rasanya banyak dipengaruhi hal-hal lain seperti lingkungan kerja, sifat dasar, selain si hormon sendiri. Jadi, saya sendiri tidak mempromosikan kelamin calon bayi saya pada teman-teman kantor. Dengan tujuan, salah satunya untuk mencari tahu bagaimana prediksi mereka dan tingkat kebenarannya. Beberapa alasan yang disampaikan misalnya:

Bayi saya bakal perempuan karena:

  1. Saya berpakaian lebih stylish — kenyataan: saya kesulitan mencari baju hamil sesuai selera saya dan akhirnya memilih baju hamil dengan aksen smok, berpita, atau malah berpikir keras memadukan baju-baju lama yang ukurannya cukup besar
  2. Saya menjadi lebih berdandan – kenyataan: sebenarnya saya makin malas berurusan dengan perawatan kulit dan tubuh

Bayi saya bakal laki-laki karena:

  1. Tubuh saya dari belakang tampak tidak berubah, atau bisa dibilang bentuk kehamilan saya ke arah depan
  2. Rujak 7 bulanan saya tidak pedas dan tidak jelas rasanya

Prediksi yang bervariasi sekali ya… Untungnya, saya cukup malas untuk membuat angket sehingga tidak dapat saya hitung persentasi kebenaran setiap alasan. Pun saya rasa lebih baik menikmati keajaiban Tuhan ini. Oh ya…., jadi terjawab sudah ya, bayi saya laki-laki, entah dengan alasan-alasan di atas atau tidak. Cukuplah saya bersyukur Alhamdulillah atas keajaiban ini….