Kembali lagi ke Sulawesi… Tetapi kali ini sedikit menjauh dari daratan utama, yaitu Pulau Butung alias Buton. Saat menginjak pulau ini pertama kali di ibukotanya Bau-bau, saya segera merasakan jejak-jejak historis yang telah dialami kepulauan ini. Kota yang begitu ramai, simpang-siur kendaraan bermotor roda dua, angkot, hingga taxi, rasanya cukup menakjubkan untuk kota sekecil ini. Buton melalui Kesultanannya memang telah dikenal dalam sejarah bangsa kita sejak abad ke 13, bahkan sejak jaman Kerajaan Majapahit dan tercatat dalam naskah Negarakertagamanya Mpu Prapanca.

Salah satu hutan yang relatif tidak terganggu

Maka tak heran pula jika hutan-hutan pulau ini telah mendapat sentuhan manusia sejak lama, seperti yang dialami hutan Lambusango (35.000 ha) di bagian tengah pulau ini. Bagian hutan yang terletak di bagian selatan, misalnya seakan telah menjadi lokasi utama para pencari rotan dan pencari kayu. Di salah satu lokasi ini misalnya, ada banyak simpangan jalan-jalan setapak dengan potongan rotan atau kayu yang diletakkan melintang jalan setapak, untuk mempermudah para perotan menarik kumpulan rotannya keluar hutan. Sementara di bagian hutan lainnya, air sungai terasa berserbuk kayu sebagai akibat dari kayu-kayu yang dialirkan melalui sungai. Sentuhan-sentuhan manusia ini tercermin dari struktur hutannya. Hutan-hutan dengan gangguan tinggi di Lambusango dicirikan oleh dengan tajuk yang jauh lebih terbuka sementara pada hutan dengan gangguan yang rendah, lebih dipenuhi oleh tumbuhan seperti pandan, palem, dan paku-pakuan. Hutan dengan gangguan rendah juga cenderung terletak di daerah yang berundak-undak. Tingkat gangguan ini ternyata tak membedakan status hutannya yang sebagian berstatus kawasan konservasi, sementara sebagian lainnya berstatus hutan produksi.

Lantas bagaimana dampaknya terhadap kedua jenis Rangkong Sulawesi?  Kedua jenis rangkong ini mempunyai penampakan dan kebutuhan-kebutuhan hidup yang sedikit berbeda. Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix) yang bertubuh lebih besar dan berjelajah luas, biasa menggantungkan makanan pokoknya pada buah-buahan terutama ara atau beringin (Ficus spp.). Bahkan ketergantungannya pada buah-buahan disinyalir menjadi penentu kelimpahannya. Jenis lainnya, kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus) adalah rangkong bertubuh kecil yang bersifat territorial dan berjelajah lebih sempit. Makanannya pun kebanyakan terdiri dari buah selain ara.

Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix). Photo by M. Kinnaird

Efek gangguan manusia ternyata memperlihatkan dampak yang berbeda pada kedua rangkong yang mempunyai kebutuhan dan kebiasaan hidup yang berbeda ini. Mari kita lihat 3 situasi:

  1. Sumber daya. Dengan uji T sederhana, kedua jenis hutan memperlihatkan dukungan sumber daya yang berbeda. Pada hutan dengan gangguan rendah, jumlah pepohonan berdiameter besar (lebih dari 50 cm) jauh lebih banyak dibanding hutan dengan tingkat gangguan tinggi. Jumlah ara pun juga lebih banyak meskipun tidak terlalu nyata bedanya.
  2. Kelimpahan rangkong. Melalui perhitungan dengan metode Distance Sampling, kedua jenis rangkong lebih banyak pada hutan terganggu rendah, meskipun hanya Julang Sulawesi yang nyata-nyata lebih banyak jumlahnya pada hutan terganggu rendah dibanding Kangkareng Sulawesi.
  3. Proporsi keberadaan (okupansi). Proporsi keberadaan yang dikalkulasi menggunakan analisa okupansi dengan memasukkan beberapa kovariat seperti tingkat gangguan, status hutan, jumlah pohon berukuran besar, dan jumlah ara memperlihatkan bahwa okupansi Julang Sulawesi di hutan Lambusango dipengaruhi oleh tingkat gangguan dan status hutan, sementara pada Kangkareng Sulawesi, okupansinya dipengaruhi oleh jumlah pohon berukuran besar.

Lalu, apa artinya? Beberapa situasi ini memperlihatkan bahwa tingkat gangguan berpengaruh jumlah pohon berukuran besar dibanding jumlah ara. Ini artinya, hutan-hutan Lambusango dengan gangguan rendah memberikan kesempatan pohon-pohon untuk tumbuh besar sehingga menyediakan sumber daya bagi sarang rangkong. Pohon-pohon yang tumbuh besar juga menjanjikan makanan yang lebih banyak bagi rangkong.

Kedua jenis rangkong juga memperlihatkan kebutuhan yang berbeda. Julang Sulawesi yang meskipun bertubuh besar dan mampu menjelajahi kawasan yang lebih luas ternyata tetap memilih hutan-hutan yang relatif tidak terganggu, sementara Kangkareng Sulawesi yang bersifat teritorial tampaknya lebih memilih hutan-hutan yang menyediakan sumberdaya bersarang.

Lambusango sendiri perlahan-perlahan menjadi suatu habitat ‘pulau’ yang makin lama akan makin terisolasi dari hutan-hutan tersisa lainnya di Pulau Buton akibat aktivitas manusia. Suatu hal yang sulit dihindari. Padahal, Julang Sulawesi dengan kemampuan jelajah yang cukup luas, dapat membantu mempertahankan hutan lewat biji-biji yang disebarkan dan disemaikannya. Hmmm…. Kasihan juga ya kalau si Julang Sulawesi ini harus bekerja keras sendirian…..