Pada masa-masa sekarang ini, entah kenapa saya menjadi lebih menyukai perjalanan-perjalanan terkait sejarah. Museum kali ini jauh lebih menarik dibanding mengunjungi aneka tipe hutan di dunia. Barangkali karena yang terakhir terlalu berkaitan dengan pekerjaan. Sejarah dan museum membuat saya berpikir tentang bagaimana saya ada di dunia ini, relasi saya terhadap bumi dan Penciptanya. Mulai dari tanah suci hingga Manchester, hal itu menjadi magnet yang cukup kuat bagi saya untuk melakukan refleksi.

Saya baru saja berada di negeri yang telah banyak melahirkan banyak ilmuwan, sastrawan, dan pemikir lainnya. Ini negerinya Charles Darwin, Edward Jenner, juga J.R.R. Tolkien dan Oscar Wilde. Edward Jenner yang sedang menginjeksi anak lelaki pasien pertamanya dengan vaksin cacar, tergambar jelas lewat detil-detil patungnya di Manchester Museum. Rumitnya alat penunjuk kiblat yang diciptakan cendekiawan muslim abad ke 15 yang ada pada Museum History of Science di Oxford, tampaknya tetap tak akan dapat kulakukan dengan kadar otak seperti sekarang ini.

Negeri ini juga negeri para naturalist. Meskipun Aristotle dapat dikatakan sebagai peletak dasar natural history lewat bukunya ‘Historia Animalium’ sementara cendekia muslim mengisi bidang alkemi dan farmakologi pada masa Renaissance, masa-masa ‘Pencerahan’ dan penjelajahan abad 19 banyak menyertakan para naturalis bangsa Inggris. Tak dapat dipungkiri ilmu botani dan zoology berkembang seiring dengan penjelajahan bangsa ini di dunia. John Ray yang disebut sebagai Aristotle nya Inggris (1627-1705), misalnya membuat klasifikasi tumbuhan berdasarkan observasi struktur dan biologi tumbuhan, dan memastikan adanya dua kelompok besar tumbuhan Monocotyl dan Dicotyl. Robert Hooke (1635-1703) dengan mikroskop temuannya, membuka berbagai kesempatan lebih dalam untuk menggali kedua ilmu ini. Alfred Russell Wallace menghadapi masa-masa sulit dalam hidupnya dan bahkan harus ditopang oleh keluarga Darwin. Namun ia meninggalkan teori seleksi alamnya yang dikenal oleh hampir semua mahasiswa ekologi di dunia. Charles Darwin sendiri, dengan keluarganya yang cukup berada, tak pernah kesulitan menempatkan dirinya dalam komunitas para naturalists Inggris.

Hasil diskusi saya dengan seorang teman, misalnya, sepakat bahwa refleksi dari sebuah perjalanan bukanlah perjalanan itu sendiri, namun capaian pasca perjalanan. Naik haji bukanlah sekedar bagaimana kita survive dalam perjalanan selama 40 hari itu, namun bagaimana kita merefleksikan apa yang kita dapat selama perjalanan ke masa kini dan masa depan. Sekolah pun begitu. Empat tahun jatuh bangun di pedalaman hutan plus air mata dan luka-luka yang diperoleh selama berjuang menempuh tekanan dalam membaca, mencari, dan menulis thesis hanyalah awal ke kehidupan berikut. Mampukah kita menerapkannya?

Dalam kereta api di antara sepotong perjalananku dari Cheadle Hulme menuju Oxford, mataku memandangi hamparan padang rumput luas. Dan air mataku menetes…dan..menetes tak mampu kutahan. Dalam perjalanan menghampiri temanku yang baru saja menyelesaikan sekolah S2 nya, sementara aku sendiri baru menyelesaikan S3 ku, oh ya…, this is the time of my life’ nya David Cook serasa tepat mengiringi jalan-jalan ini, tetapi sekaligus juga mengingatkanku pada mendiang kakakku. Dua puluh empat tahun lalu, kami semua mengantarkan ia ke bandara Halim Perdanakusuma untuk melanjutkan sekolahnya di Amerika. Tanpa ragu ia merebahkan tubuhnya di pelataran untuk dilangkahi sebanyak 3 kali oleh ibuku. Ini salah satu falsafah Jawa agar sang anak kembali dengan selamat. Kakakku ini meninggalkan ‘jejak’ yang tanpa kusadari juga kulalui. Langkah kaki ibuku adalah doa dan petuah yang kujalani dan menjadi resep manjur bagiku untuk menghasilkan banyak tarikan garis senyum di wajah.

Kami ini cuma benih-benih yang baru menampakkan rekahan keping lembaganya. Kami ini benih-benih baru yang segera tumbuh menjulang dan terpaksa meninggalkan sejumput kulit di lantai tanah yang lembab. Sinar mentari di antara tajuk pepohonan membuat kami meliuk mencari ruang. Namun, pohon indukku meninggalkanku akar yang kuat, yang membuatku ada dan mampu bertahan.