“It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.” (Charles Darwin)

cempakawngi_1Saya tak hendak berbicara soal teori evolusi. Tapi tak pelak menjadi banyak berkaca pada beberapa pertemuan yang saya ikuti akhir-akhir ini baik itu formal maupun tidak formal. Yang formal asalnya dari suatu seminar memperingati 200 tahun eyang Charles Darwin. Kekaguman saya meningkat pada para filosof di seminar ini yang memandang teori ini sebagai suatu perayaan akan keunggulan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ditambah proses penalaran induktifnya Francis Bacon, tidakkah kita melihat suatu perkembangan pada diri manusia terutama pada pemikiran dan budaya?

Sekali lagi, bukan teorinya sendiri yang saya ingin kemukakan. Fenomena Facebook dalam beberapa bulan terakhir, telah meningkatkan daftar teman dalam kecepatan yang tak pernah terbayangkan oleh saya. Seorang teman pernah berkata, bahwa Facebook adalah melihat ke masa lalu, dalam artian fungsinya mencari konco-konco lawas. Dan dalam beberapa bulan terakhir pula, terjadi reuni di segala lapisan, di tiap tingkat sekolah yang pernah dijalani.

Yang terutama terlihat dari pengikut reuni tentunya adalah muka-muka ceria yang telah bebas dari beban masa wajib belajar. Fluktuasi naik-turunnya nilai, resah karena belum bikin PR, dipulangkan ke rumah karena tidak membawa tugas, bikin pusing guru, kebanyakan main, dsb., tentunya sudah tak menjadi pikiran lagi kecuali bagi yang saat ini telah menjadi orang tua yang punya anak usia sekolah. Yup, kebanyakan kita telah berubah. Permasalahan dan kebutuhan hidup membawa kita pada tahap yang lain. Konco-konco ini bertransformasi bagai ulat menjadi kupu-kupu. Cantik-cantik (sebab memang baru perempuan yang saya temui) dengan kehidupan yang kelihatan cukup baik. Masing-masing dengan cara transformasi yang berbeda-beda.

Baru kemarin setelah 26 tahun terputus, saya mengunjungi sebagian dari teman masa kecil. Pernyataan yang keluar kurang lebih adalah, “we are what we are expected.” Betulkah demikian? Saya sebagai ‘pengangguran banyak acara’ datang dengan tote bag, yang menurut saya cukup sesuai dengan status (sebagai mahasiswa lagi….) dan kondisi bepergian dengan kendaraan umum. Tapi tote bag belian ini ternyata dicap sebagai ciri khas saya yang tak berubah sejak jaman SD yang bersekolah dengan tas buatan diri sendiri (gabungan dengan tangan ibu saya tentunya), membuat prakarya-prakarya yang lain daripada yang lain, dan selalu memakai baju jahitan ibu. Sama seperti seorang teman yang dari dulu begitu mudahnya menggoreskan pinsil warna dan kuasnya, dan sekarang menjadi seorang designer. Serupa pula dengan teman lain yang rumahnya selalu terbuka untuk kami kunjungi yang hingga sekarang pun menjadi ajang kumpul bocah-bocah teman putranya.

Di luar transformasi yang dialami masing-masing individu, ternyata ada hal-hal yang tak berubah. Inikah yang disebut imprinted behavior? Apakah masa SD adalah fase kritis belajar dari orang tua? Entah juga…. Status saya hari ini di fesbuk saya adalah: “I was amazed that childhood’s life affects current thoughts and lifestyle

Evolusi tetap terjadi, tapi tanpa kedua tangan dan pemikiran orang tua saya, saya tak mungkin menjadi seperti saya sekarang ini. And I am so grateful with my parents….