sdcempakawangiDi awal 70-an, perguruan ini membangun Taman Kanak-Kanak pertama di kawasan Cempaka Putih, suatu kawasan pemukiman yang tengah berkembang. Di kawasan ini aku dilahirkan dan dibesarkan, belajar menaiki sepeda pertama kali hingga berhadapan dengan banjir pertama kali. Tetapi di sekolahku inilah aku mulai ‘menjelajah dunia’.

Saat-saat aku tak tahan menunggu jemputan seorang diri di TK yang sudah mulai sepi, membuatku berani ‘ngelayap’ ke rumah teman di belakang sekolah dan membuat Yu Miranti kalang kabut takut kena marah ibuku. Kadang pula kuberanikan diriku berjalan pulang seorang diri karena sekali lagi tak sabar menunggu jemputan. Dua kejadian yang membuatku dimarahi ibuku tentunya karena tak mau bersabar dan menyusahkan orang lain. Aku masih ingat ruang kelas O kecil dan O besar yang terang dan ceria dengan gambar-gambar, sementara ruang kelas satu di sebelahnya yang begitu besar dan gelap.

Kalau Andrea Hirata bangga dengan Laskar Pelanginya, aku cukup bangga dengan sekolahku ini. Perguruan Cempaka Wangi membangun kelas 2 hingga kelas 6 SD nya di sisi kawasan yang berjauhan dengan TKnya. Bangunannya menempati suatu bidang berbentuk segitiga di ujung jalan. Nyaris menyisakan lapangan kecil yang juga berbentuk segitiga yang hanya cukup untuk upacara bendera murid-murid kecilnya. Sejalan dengan kebutuhan kawasan pemukiman yang tengah berkembang, lapangan olahraga kami pun berpindah-pindah. Ada masa-masa di mana kami semua saling memberi informasi bagi guru olahraga yang tak lain tentang tanah-tanah kosong yang belum dibangun di seputar sekolah, hanya untuk dapat bermain kasti. Entah kenapa, kebutuhan lari-lari ini seakan wajib terpenuhi. Bahkan di sela-sela istirahat dan waktu pulang, masih pula diisi dengan bermain benteng, atau minimal galah asin. Biarpun untuk dampak yang ditimbulkan, kami selalu mendapat marah dari Guru. Bermain di dalam halaman sekolah yang secuil itu jelas membuat keributan, sementara bermain di jalanan dianggap berbahaya. Di saat-saat tak dapat berlarian karena hujan, sepanjang koridor penuh dengan kelompok-kelompok bermain karet, lompat tali atau putaran.

jali2Bersekolah di kawasan yang tengah berkembang saat itu menyediakan cukup lahan penjelajahan bagi murid-murid yang selalu penasaran. Salah satunya adalah pabrik kerupuk skala rumahan di dekat sekolah. Itu pertama kalinya aku melihat pembuatan kerupuk, dari adonan yang dibentuk memanjang kemudian dipotong-potong tipis dan dijemur. Lain waktu, kami ke belakang sekolah yang sedikit berawa dan mengumpulkan bulir-bulir jali-jali (Coix lacryma-jobi). Tahu kan langgam Betawi ‘Ini dia si Jali-jali’? Bulirnya yang berbentuk air mata, mirip dengan padi dengan ukuran sedikit lebih besar. Bagian atas bulir adalah tempat keluar serabut-serabut sarinya. Pada bulir yang telah tua dan berwarna keunguan, serabut-serabut ini telah mengering sehingga bagian atas bulir ini dapat dengan mudah ditusuk dengan jarum dan benang untuk kubuat kalung.

Guru kami jelas bisa dihitung dengan jari. Salah satunya tinggal di samping sekolah. Aku masih ingat, murid-murid kelas 6 tak pernah pulang lebih awal karena wajib melewati pertanyaan-pertanyaan beliau yang kebanyakan diambil dari Himpunan Pengetahuan Umum. Yang mampu menjawab dengan benar tentu boleh pulang lebih dahulu. Ini membuat aku dan beberapa teman membuat grup cerdas cermat sendiri. Saling membaca dan saling menguji diri sendiri. Nama gubernur 27 propinsi di masa itu, negara-negara di dunia dan ibukotanya hingga lagu kebangsaannya, hapal pleg. Soal-soal yang membawa kami menjelajah ‘dunia’.

Saat ini, telah berminggu-minggu Pak Yos dirawat di rumah sakit karena penyakit jantungnya. Seminggu lalu aku bermimpi berada dalam kelasnya sambil berusaha menjawab pertanyaan yang beliau ajukan sama seperti saat kami di kelas 6. Bagiku, sekolah yang kini berlantai dua tingkat adalah sekolah beliau. Bagiku, beliau adalah kekuatan sekolah ini yang barangkali percaya bahwa dari sekolah yang nyaris tak punya halaman apalagi lapangan olahraga ini, dapat melahirkan penjelajah-penjelajah dunia yang sebenarnya. Doaku selalu bersamanya…..

Updated 11 Maret 2009: siang ini pukul 14.00, beliau meninggalkan kita semua, kembali kepada Sang Khalik. Tak kuasa aku menahan air mata.  Kepergiannya serasa seperti kehilangan anggota keluarga… Semoga amal ibadah beliau diterima dan beliau mendapat tempat terbaik di sisiNya..