Alfred Russel Wallace…. Pada umur yg sama dengan saya saat ini, Wallace telah menyelesaikan penjelajahannya di Malay Archipelago selama 8 tahun. Pulang ke Inggris membawa beratus-ratus specimen hewan dan tumbuhan dan menangkap fenomena keunikan flora fauna di kepulauan ini.

Dibandingkan Charles Darwin yang telah dikenal di dunia persilatan para naturalist, Wallace saat itu tak ada apa-apanya. Sesaat setelah terserang malaria, Wallace mengirimkan buah pikirannya akan kesintasan yang terbugar alias survival of the fittest pada Darwin, yang ujung-ujungnya memacu Darwin untuk mempublikasikan “the Origin of Species“. Ya, Wallace yang 14 tahun lebih muda, masih terlalu rendah hati.

Siapakah Wallace, barangkali tertuang pada puisi yang dikarang oleh putra Ternate, Zainuddin M. Arie, yang dibacakan pada “International Conference on Alfred Russel Wallace and Wallacea” di Makasar baru-baru ini.

puisi_wallace

toma tala na nena tosidagi ri futu se wange toma sanang madaha” (di rumah ini kuhabiskan siang dan malamku nan bahagia)

Di usia yang sama saat Wallace telah menyelesaikan ekspedisinya di kawasan ini, baru 40% dari daftar tempat pada puisi ini yang saya singgahi, dan hanya 3 tempat yang khusus saya datangi untuk penelitian. Wallace mengungkapkan tentang variasi spesies dan individu berdasarkan pengamatannya pada kupu-kupu Papilionidae, yang dipublikasi 3 tahun setelah perjalanannya sementara baru 3 tahun pula saya belajar tentang kupu-kupu.

conference_dsc03155

Ya, konferensi ini harusnya memang menjadi suatu evaluasi.  Kegigihan dan semangat Wallace memang harus ditiru oleh peneliti-peneliti muda negeri ini.  Dan Wallace masih akan ada selama masih ada jiwa-jiwa yang selalu penasaran akan fenomena alam dan keunikan kawasan Wallacea…..