Tahukah bahwa burung rangkong punya bulu mata? Yang konon berfungsi dalam mencari pasangan……..

Burung rangkong (family Bucerotidae) telah menjadi perhatian Carolus Linnaeus pula sejak tahun 1758 pada waktu ia mempublikasi Systema Naturae. Sementara kapan rangkong ini muncul, diduga sejak Jaman Oligocene sekitar 30-35 juta tahun yang lalu. Didominasi warna dasar hitam pada sebagian besar jenisnya, ternyata ada hal-hal menarik yang membedakan rangkong dengan burung lainnya. Rangkong punya balung (casque) di kepalanya yang kadang berwarna-warni yang menjadi aksentuasi pada paruh panjangnya.

Ini adalah sebagian cerita dari Margaret Kinnaird dan Timothy O’Brien dalam “the Ecology and Conservation of Asian Hornbills: Farmers of the forest” dari pengalamannya selama lebih kurang 17 tahun meneliti burung-burung ini di Indonesia. Dari sini, saya juga baru tahu ginjalnya berlobus 2 (sementara burung lainnya berlobus 3) yang menjadikannya suatu kelompok yang unik di antara burung-burung lainnya. Ah, tapi betapa isengnya jika membahas ini….

Beruntunglah negeri ini mempunyai 13 jenis rangkong yang tersebar di hampir seluruh kepulauannya. Tetapi apa artinya? Rangkong memang tepat dikatakan sebagai petani hutan. Jarak terbang dan jelajah yang jauh membawa biji buah-buahan yang ditelannya ke tempat-tempat lain, jauh dari pohon induknya. Nongkrong di bawah sarang rangkong misalnya, bagai membaca cerita hidup si petani ini. Betina yang semasa bertelur dan menunggui piyiknya, tak sekalipun keluar dari sarang, menggantungkan hidup dari pasokan makanan dari sang jantan, apalagi kalau bukan buah-buahan. Betina yang memperhatikan kebersihan sarangnya, mengeluarkan dan membuang biji-bijinya melalui lubang sarang dan berjatuhan di bawah pohon. Jadi, biji-biji yang jatuh cukup bercerita bagaimana jauh asalnya dari pohon sarang. Biji yang melewati proses metabolisme dalam tubuh rangkong maupun yang tidak, tumbuh menjadi semai-semai dan kalau beruntung, ada pula yang menjadi pohon. Sementara di saat-saat tak bersarang pun, banyak jenis rangkong yang mampu terbang jauh hingga berkilo-kilometer untuk mencari pohon-pohon yang berbuah. Bahkan pada situasi tertentu, mereka pun dapat terbang lintas hutan.

Jangan dikira bahwa hutan yang aman dari penebangan dapat bertahan. Sementara antar manusia pun tak dapat menahan keinginan yang lain untuk berburu. Hutan bisa saja aman dari penebangan, namun hutan tanpa satwa dapat menyebabkan sindrom hutan kosong (empty forest syndrome). Sekilas, hutan nampak masih asli dan rimbun. Namun, buah-buahan yang berjatuhan tak dapat bertunas dan membusuk karena tak ada agen yang menyemainya. Tak ada regenerasi, tak ada masa depan.

Rangkong adalah salah satu agen penyebar dan penyemai biji paling efektif di antara banyak satwa di hutan dan menjadi petani di lahannya sendiri. Bahkan di antara bangsa burung penyebar biji lainnya, rangkonglah yang menyebarkan biji-biji berukuran besar seperti jenis pala hutan (Myristicaceae). Pada Rangkong Sulawesi (Red-knobbed hornbill atau Aceros cassidix) misalnya, setidaknya 52 jenis pohon yang mewakili 12 familia ikut terbantu dalam perbanyakan keturunannya. Rangkong pun membutuhkan hutan bersumber daya tinggi dengan pepohonan besar untuk bersarang, pohon berbuah yang beragam, serta beringin, makanan yang paling disukainya. Jadilah suatu hubungan yang manis antara Rangkong dan hutan.

Didasari cerita ini serta para teman dan kolega saya yang begitu intens nya meneliti rangkong, ditambah keisengan tingkat tinggi, saya hanya bisa menerjemahkannya menjadi bentuk di bawah ini……..

“An empty forest goes nowhere. A pair of forest farmers let it grow…………”