Sebuah tim yang terjun dalam urusan ukur mengukur pohon di tahun 2004, sempat terperanjat saat pohon-pohon yang diukurnya berkurang lingkar diameternya, biarpun pengurangan kadang hanya berkisar 0.1 – 1 cm. Dua orang dalam tim ini adalah orang baru dalam bisnis ukur mengukur pohon ini, sementara 2 orang lainnya relatif bertahan dalam tim yang telah dibentuk sejak tahun 1997.

Measuring tree diameter
Measuring tree diameter

Mungkinkah pohon dapat mengerut? Kehidupan pohon tak lepas dari proses fotosintesis di mana dedaunan menyerap sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi yang diperlukannya dalam pertumbuhan. Proses ini terkait dengan penyerapan karbondioksida (+ molekul air) dan mengubahnya menjadi gula dan oksigen. Dedaunan adalah reseptor sinar matahari dan penadah karbondioksida (carbon sequester) yang ditampung dalam kayunya. Tak ada daun, proses pengubahan energi ini tentu menjadi macet dan mengganggu pertumbuhan pohon. Namun terganggunya pertumbuhan pohon tidak sesederhana dedaunannya yang berguguran.

Carbon sequestration
Carbon sequestration

Dua belas tahun mengikuti perkembangan pepohonan di salah satu hutan dataran rendah tersisa di ujung pulau Sumatra bagian Selatan tak ubahnya bagai melakukan suatu investigasi jangka panjang. Dalam beberapa tahun terakhir, isu pemanasan global yang terkait dengan peningkatan kadar karbondioksida menjadi tren dalam kehidupan dunia. Seperti menggambarkan tak cukupnya hutan dan pepohonan yang dapat menangkap kelebihan karbon ini yang menyebabkan efek rumah kaca. Suhu bumi yang kian memanas ternyata bukan asal bicara. Data yang terkumpul di Way Canguk, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, menjadi saksinya. Padahal peningkatan suhu meningkatkan proses respirasi namun menurunkan kecepatan fotosintesis. Sementara itu, kebakaran hutan yang terjadi tahun 1982 dan 1997 di lokasi yang sama pun dapat menjadi tersangka. Ya, kebakaran hutan yang berulang memperparah proses pemulihan hutan dan hutan menjadi lebih sensitif terpapar kebakaran lagi. Lantas, siapa gerangan penjahatnya?

Dua kali kebakaran hutan membuat proses suksesi tertatih-tatih. Dari anakan pohon tingkat pancang (sapling) yang diamati sejak tahun 1997, tak banyak yang telah mencapai tingkat pohon yang terukur (berdiameter lebih dari 10 cm). Dalam satu decade pasca kebakaran, memang terlihat adanya pepohonan yang cepat tumbuh (fast-growing tree) seperti pohon kenanga (Cananga odorata) atau tabu (Tetrameles nudiflora). Pertanda baik? Tidak sepenuhnya. Adanya pepohonan cepat tumbuh ini memang membuat daerah terbuka menjadi lebih cepat rimbun. Tetapi seladak-selidik, ternyata pohon jenis ini mempunyai kepadatan kayu yang rendah (kepadatan kayu di bawah 0.4 gram/ cm3) yang tak mampu menampung karbon sebesar pepohonan berkepadatan kayu tinggi (lihat di sini untuk info tentang kepadatan kayu). Padahal pepohonan yang disebut terakhir seperti jenis-jenis Dipterocarpus spp., Lithocarpus spp., Heritiera spp. tak mau bergegas membesar (kepadatan kayu di atas rata-rata di atas 0.7 gram/cm3). Kebakaran hutan tak lagi menjadi alasan satu-satunya. Suhu yang memanas secara signifikan berkorelasi positif terhadap keengganan sebagian besar pohon untuk tumbuh membesar.

Tak bisa dielakkan bahwa selama 8 hari penuh mengikuti lingkar lebih dari 2000-an pohon membuat hati termangu-mangu dan masgul. Di tengah teriknya matahari dan puasa Ramadhan, terbayang bagaimana pepohonan kehausan. Dalam dua tahun belakangan, curah hujan di tempat ini berkurang dari rata-rata per tahunnya. Sementara tren yang terbaca adalah pepohonan yang ‘mengerut’ dan meningkatnya pepohonan berkepadatan kayu rendah. Apalah artinya puasa saya, sedangkan hutan ini yang seharusnya kontributor tertinggi mengurangi efek perubahan iklim ternyata malah terseok-seok akibat iklim dan dipaksa berpuasa oleh keadaan……….

Selamat hari raya Idul Fitri. Semoga kita menjadi orang-orang yang menang, yang menyadari kemenangan itu untuk suatu kebaikan bagi dunia ini.