Dalam setiap riset, langkah awal yang harus dilakukan adalah mengumpulkan informasi. Bahkan riset pun idenya adalah mengumpulkan informasi yang terserak dan menyusunnya menjadi sesuatu yang berarti. Di sinilah pentingnya organisasi informasi. Contoh paling mudah adalah penamaan dan penyusunan folder dokumen-dokumen dalam computer. Meskipun rasanya sudah punya sistem yang cukup baik, tetap saja kadang-kadang lupa disimpan di mana. Betul kan?😛

Sayangnya, keengganan mengorganisasikan informasi seringkali melanda karena alasan-alasan seperti: 1. Duh, emangnya ada yang mau bayarin?; 2. Gak punya waktu; 3. Metodenya terlalu sulit dan tidak dapat dipelajari dengan cepat; 4. Gak ada yang mau mengajarkan; 5. Gak punya dana untuk membayar orang yang mau mengerjakan ini. Padahal, cukup banyak waktu yang dapat diselamatkan dengan melakukan proses ini.

Informasi tentu dapat dalam bentuk apapun. Seperti kumpulan paper atau publikasi yang direkam dan disusun dalam Endnote. Saya memulainya sekitar tahun 2000 untuk buku-buku teks dan terus menambahkannya dengan publikasi elektronik hingga saat ini. Awalnya memang repot dan terkesan menghabis-habiskan waktu. Tetapi dalam proses penulisan thesis seperti sekarang ini, entah berapa jam keuntungan saya dengan tidak perlu menuliskan satu-per-satu semua referensi yang saya pakai. Tinggal download saja sitasi lengkapnya. Kalau program word kita sudah terintegrasi dengan Endnote malah lebih mudah lagi. Tetapi setidaknya cara sederhana dengan copy-paste referensi yang sudah terformat sesuai bentuk penulisan yang kita inginkan sudah lebih dari cukup.

Setelah mengalami pergolakan menghadapi kelima alasan tadi (alasan ke 3 paling sering saya gunakan), dalam sebulan terakhir ini, proses pembuatan database sedang menjadi proyek main-main saya. Apalagi kalau bukan kupu-kupu. Fotonya tentu saja, bukan spesimennya. Perjalanan saya belajar, mengamati, dan ‘menangkap’ kupu-kupu dengan kamera membuat saya menyadari bahwa mahluk satu ini yang menurut saya sangat cantik dengan seluruh komplikasi hidupnya, ternyata masih belum cukup ‘seksi’ bagi kita, orang Indonesia pada umumnya. Bagaimana mau seksi, sementara tak ada panduan cukup komprehensif untuk kupu-kupu Indonesia. Kupu-kupu saat ini cuma menjadi komoditi perdagangan (itupun tak semua orang tahu) atau dianggap sebagai hama lewat ulatnya.

Panduan yang cukup handy masih sangat jarang. Proses identifikasi mahluk cantik ini masih ekslusif pada orang dengan bidang tertentu saja. Pola venasi sayap dan bentuk alat reproduksi biasanya menjadi kunci pengenalan pada beberapa jenis kupu-kupu. Tak terelakkan memang, tetapi bukan tak mungkin bahwa sebagian besar jenis kupu-kupu dapat dikenali di lapangan melalui pola sayap, cara terbang, habitat, dan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Pada perjalanan saya ke Way Canguk beberapa minggu lalu, misalnya, saya menemukan 2 jenis Pachliopta, Pachliopta coon dan P. aristolochiae. Keduanya adalah Papilionidae ‘berekor’. Sekilas nampak sama, namun P. aristolochiae ternyata lebih kecil ukurannya dan jarang sekali mau hinggap lama. Ini pun baru saya pastikan setelah beberapa hari menunggui dan mengejarnya di sesemakan Lantana di depan camp, dan kembali ke rumah seminggu kemudian untuk dicek dengan buku panduan.

Menghabiskan waktu di habitat asli kupu-kupu memang satu-satunya cara untuk memahami kebiasaan-kebiasaannya. Dari hutan Lambusango hingga ke hutan Way Canguk, kupu-kupu Faun atau Faunis spp. selalu menempati lapisan terendah dari hutan. Suka sekali hinggap di serasah yang kering tetapi tak mau didekati. Jarang pula keluar dari naungan. Foto pun kadang merekam jenis bunga yang didatangi seperti Lantana camara dan Chromolaena odorata, keduanya tanaman invasif dan sangat popular bagi kebanyakan kupu-kupu. Sementara bunga-bunga rumput didatangi oleh jenis yang lain lagi.

Inilah yang menjadi obsesi saya saat ini. Fungsinya? Berhubung saya pun masih dalam tahap belajar, makanya fungsinya jelas membantu saya mengingat, mencatat, dan mengenali kembali kupu-kupu yang saya temukan. Database ini memudahkan saya merevisi informasi. Dengan sulitnya identifikasi kupu-kupu dan variasi pola atau warna, hingga kini masih tetap ada jenis-jenis yang harus saya perbaiki. Terus… dan terus….

Jadi barangkali saya harus menambah alasan ke-5 dalam daftar keengganan tadi: kalau sudah terjun takut tak bisa berhenti…….. 😀