Dari 10 tahun lalu hingga sekarang, S-1000 selalu menjadi tempat favorit untuk mengamati burung-burung. Sepuluh tahun lalu, 165 ha hutan seputaran Way Canguk yang pernah terbakar di tahun 1997 baru saja mulai menggeliat dari debu dan abu sisa-sisa kebakaran hutan. Pepohonan mengering, tetapi semai-semai bermunculan dan tumbuh menjadi semak bercampur tepus (jahe-jahean) dan alang-alang.

Pemandangan di S-1000
Pemandangan di S-1000

Pemandangan yang terbuka memang cukup tepat untuk mengamati burung-burung yang berseliweran mulai dari pelatuk, kutilang, hingga alap-alap capung (Microhierax fringillarius). Tahun ini, saya kembali berkunjung ke titik ini, S-1000. Jika sepuluh tahun lalu, teman-teman saya berpakaian lengkap lengan panjang, topi, bahkan kadang-kadang ditambah payung untuk menghindar dari teriknya matahari untuk menelusuri tempat ini, kali ini kerindangan mulai terasa. Pada banyak tempat, pohon-pohon kenanga (Cananga odorata) tumbuh cepat menjulang. Sementara, pohon-pohon kelandri (Bridelia monoica) yang juga tumbuh cepat di tempat terbuka banyak memberi andil akan perubahan ini. Pohon dari keluarga Phyllanthaceae ini berbuah kecil-kecil dan sangat disukai banyak burung seperti kutilang.

Pycnonotus melanicterus di pohon kelandri
Pycnonotus melanicterus di pohon kelandri

Progresif atau tidak, ada dua proses yang berlangsung pada daerah bekas kebakaran ini. Ya, perubahan menjadi rindangnya S-1000 bisa dikatakan menandakan terjadinya proses suksesi habitat. Di sisi lain, perubahan sepuluh tahun kelihatan tidak membawa perubahan berarti bagi penghuninya alias para burung tadi. Dari dulu hingga sekarang saya masih melihat beberapa jenis kutilang seperti Merbah corok-corok (Pycnonotus simplex), Merbah kacamata (P. erythropthalmos), dan cucak kuning (P. melanicterus) yang berjambul hitam dan berbulu kekuningan. Ini burung-burung yang setengah makan buah dan setengah makan serangga yang tentu saja membuat kesempatan untuk bertahan menjadi lebih baik seiring dengan tumbuhnya sesemakan dan perdu. Beberapa burung pemalu seperti babblers yang menempati ruang bawah hutan ini jelas perlu waktu untuk kembali singgah. Yang tak bisa dipungkiri, kedua proses berlangsung lambat dan tak pasti. Pepohonan yang me-rindang tak memastikan petak kawasan ini telah kembali seperti dulu.

Kebakaran hutan, apalagi yang merusak hingga ke perakaran dan tumbuhan lantai hutan menyebabkan ‘luka’ yang serius. Petak-petak dengan sejarah kebakaran di masa lalu memperparah ‘luka’ ini memperlambat proses kembalinya hutan.

Chloropsis sonneratii betina
Chloropsis sonneratii betina

Renungan saya di bawah pohon kelandri di tepi sungai Canguk memastikan kepositifan perubahan ini (ya, tentunya merenung di tepi sungai jauh lebih mendingan dibanding di S-1000 dan membuat tentu saja pikiran menjadi lebih positif). Hanya di sebatang pohon kelandri yang berbuah ini paling tidak saya mendapat kunjungan dari si burung cica daun (Chloropsis sonneratii), 5 jenis Pycnonotidae alias keluarga kutilang tadi (ditambah P. eutilotus dan Alophoixus bres), dan 2 jenis takur atau barbet (Megalaima mystacophanos dan Calorhamphus fuliginosus). Kedatangan mereka pun memastikan bahwa mereka masih melanglang ke sana ke mari mencari buah-buah kelandri masak di daerah bekas kebakaran dan menyebarkan biji-bijinya. Namun tentunya untuk jenis semai pohon lain yang tak suka matahari, perlu waktu lama untuk berhasil menaungi petak ini dan barangkali perlu burung jenis lain untuk menyebarkannya. Semuanya perlu waktu………….

Takur ampis (Caloramphus fuliginosus)
Takur ampis (Caloramphus fuliginosus)