Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, lebih baik memberi daripada menerima. Begitu kata orang-orang tua kita. Dengan kata lain, memberi adalah memindahkan suatu kebaikan. Fungsi tangan dalam memindahkan sesuatu, pada hewan, tidak serta merta dilakukan oleh tangan mereka. Seperti pada kelelawar, burung, dan kupu-kupu, fungsi tangan kita tak bisa dianalogikan dengan sayapnya.

Iyalah, semua orang juga tahu kalau sayap burung atau sayap kupu-kupu digunakan untuk terbang, sementara kita, manusia tidak dapat terbang (kecuali numpang di dalam pesawat terbang). Di manakah letak fungsi ‘memindahkan’ pada burung atau kupu-kupu?

Kupu-kupu Euploea camaralzeman dan belalainya
Kupu-kupu Euploea camaralzeman dan belalainya

Sekilas kita perhatikan bahwa banyak tanaman hanyalah sumber makanan enak bagi para herbivore, mulai dari ulat-ulat yang mengunyah dedaunan secara perlahan hingga kambing yang rasa-rasanya mau makan daun apa saja. Tetapi banyak tanaman juga tak bisa jauh-jauh dari hewan seperti serangga, burung, dan kelelawar dalam menjalankan proses penyerbukannya. Kesengajaan para penerbang ini dalam mencari nektar, secara tidak sengaja membuat serbuk-serbuk sari menempel dan membawanya pindah ke bunga yang lain. Kadang tidak perlu jauh-jauh, kehadiran para penerbang mengoyak suatu bunga sudah cukup untuk membantu melekatkan serbuk sari ke tujuannya. Proses memindahkan serbuk-serbuk sari (pollen) dari satu bunga ke kepala putik (stigma) bunga yang sama atau berbeda inilah yang disebut penyerbukan atau polinasi.

Betul, jangan sepelekan mereka. Tiga jenis penerbang ini banyak sekali menjalankan fungsi-fungsi ekologis pada lingkungan, salah satunya penyerbukan (polinasi) pada bunga-bunga yang bersifat entomophily (hanya dapat diserbuki oleh serangga) atau zoophily (hanya dapat diserbuki hewan vertebrata seperti burung dan kelelawar). Coba lihat foto mahluk bersayap sisik alias si kupu-kupu di atas. Pada situasi tak terpakai, belalai kupu-kupu akan menggulung dan hanya dijulurkan jika sedang mencari manis-manisnya madu. Ini adalah potongan gambaran belalai kupu-kupu Euploea camarelzeman yang sedang berlama-lama pada bunga tumbuhan air Sagittarius spp. yang saya temui di Kebun Raya Bogor minggu lalu. Belalai yang dijulur ke sana ke mari di antara benang-benang sari pada bunga menyebabkan serbuk-serbuk sari menempel pada belalai dan kaki-kakinya. Pada saat si kupu-kupu Euploea berpindah ke bunga lainnya, maka serbuk sari turut pula berpindah. Tidak seefisien lebah memang.

Pada kelelawar pemakan buah juga begitu. Beberapa teman saya pernah pula menangkap kelelawar jenis ini untuk mengambil serbuk sari yang menempel pada moncongnya. Eonyteris spelaea, kelelawar yang tinggal di gua-gua di Way Canguk, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan tertangkap basah di sekitar tempat tinggalnya membawa serbuk sari beberapa jenis bakau (Sonneratia spp) yang banyak di rawa mangrove, yang dihitung secara kasar berada sekitar 5 km dari gua-gua itu. Jarak yang cukup jauh ya untuk mencari nectar. Kelelawar jenis ini bersama dengan kelelawar lain seperti Cynopterus spp. juga dikenal menyerbuki bunga-bunga durian.

Seekor kelelawar Cynopterus
Seekor kelelawar Cynopterus

Penerbang yang paling terkenal, bangsa burung, juga menjalankan fungsi ‘memindahkan’ serbuk sari ini. Fungsi ini di antaranya dilakukan oleh burung-burung jenis sesap madu atau sunbird (Nectarinidae), cabean atau flowerpecker (Dicaeidae), dan burung kacamata atau white-eye (Zosteropidae). Cabean bahkan dikenal menyerbuki bunga tumbuhan benalu yang biasa ada di pohon-pohon jambu dan memakan buahnya. Jadi, cabean pun ikut ‘memindahkan’ biji-biji benalu ini ke pepohonan lain.

Cabe Jawa (Dicaeum trochileum) di balik dedaunan benalu
Cabe Jawa (Dicaeum trochileum) di balik dedaunan benalu

Serbuk sari dapat berpindah melalui apa saja, bahkan angin pun dapat turut membawanya. Jadi, rasa-rasanya gak terlalu susah lah memindahkan kebaikan. Bahkan kadang telinga yang ‘mendengar’ pun cukup membawa kesegaran. Wah, kalau ini jadinya dari tangan pindah ke telinga…😛