Kebun Raya Bogor yang saya ingat adalah pohon kenari dengan akar banirnya yang besar-besar di dekat gerbang utama. Dan ternyata masih tetap begitu. Namun kedatangan saya kali ini tak hendak mengamati orang-orang yang duduk di atas banir atau mengamati burung-burung koak malam di pulau kecil di tengah danaunya. Kali ini saya ‘mengejar kupu-kupu’.

Gara-gara postingan saya sebelumnya, saya jadi berpikir untuk cari tempat sesuai untuk melaksanakan ‘butterlfy walking’ dengan lebih serius dan menambah koleksi foto kupu-kupu. ‘Jalan-jalan kupu-kupu’, kenapa tidak? Peralatan kurang lebih sama dengan pengamatan burung, teropong, dengan tambahan jaring kupu-kupu. Persyaratan juga kurang lebih sama, warna baju yang tidak mencolok dan tidak banyak berulah. Sedikit bedanya, penganut pengamatan kupu-kupu boleh bangun sedikit lebih siang dibanding para penganut burung dan mau berpanas-panas ria sebab pengamatan kupu-kupu dianjurkan antara pukul 9:00 – 15:00, pada saat matahari sedang teriknya.

Kebun Raya Bogor (KRB) memang selama ini acap menjadi tempat latihan pengamatan burung. Langkah awal, misalnya, cukup berdiri di tepi danau dan mengamati burung-burung koak malam (Nycticorax nyticorax) di pulau kecilnya. Baru kemudian mulai mencari si burung kepodang atau kutilang. Di saat Kebun Raya ini makin terisolasi dari hutan terdekat, KRB juga menjadi tempat belajar efek fragmentasi, metapopulasi, dan teori biogeografi pulau. Memang, saat ini KRB tak ubahnya seperti pulau di tengah lautan hunian manusia. Beberapa riset telah mendalami, bagaimana KRB berfungsi sebagai ‘refugia’ tetapi sekaligus mengalami kepunahan lokal. Ada jenis-jenis burung yang tak dapat bertahan dan menghilang dari ‘pulau’ ini.

Bagaimana dengan kupu-kupu? Entahlah. Saya masih bertemu dengan beberapa teman lama seperti si Papilio memnon, si mungil Leptosia nina atau Ypthima baldus yang menyambangi bunga-bunga rumput. Namun, jalan-jalan santai saya hanya dengan bekal kamera menangkap ada jenis-jenis yang berbeda dengan kupu-kupu yang bertandang ke halaman rumah. Coba cek Junonia orithya (Blue pansy) yang cantik ini. Bersama dengan Junonia erigone (Nothern argus), keduanya jinak-jinak merpati. Di tengah sinar mentari yang terik, keduanyanya suka berjemur di bebatuan jalan setapak yang bila didekati akan terbang tapi tak pernah jauh. Sementara Junonia erigone bermain-main di sepatu saya tapi tak berkehendak pula untuk didekati dengan kamera, Junonia orithya kelihatan lebih suka menutup sayapnya di terik matahari. Kedua sayapnya akan membuka pada saat sinar mataharinya saya halangi.

Blue pansy

Kelompok Junonia adalah penghuni tepi hutan, daerah-daerah terbuka, termasuk sekitar hunian manusia. Tetapi mengapa kedua jenis di atas tidak pernah mampir di halaman rumah saya? Konon kabarnya, KRB adalah hutan buatan yang telah ada jaman Prabu Siliwangi (1474-1513) dulu. Yang kemudian dimantapkan statusnya menjadi Kebun Raya Buitenzorg oleh Prof. Dr. C. G. L. Reindwardt tahun 1817 dan tetap dipreservasi dalam bentuk Kebun Raya Bogor sekarang ini. Jadi, kalau dari umur sudah lebih dari 180 tahun. Koleksinya mencapai 15.000 tanaman hasil pencariannya ahli botani masa lalu hingga sekarang ini dan barangkali beberapa teman saya telah pula berkontribusi.

Northern argus

Mari kembali ke halaman rumah saya di Depok yang umur pepohonannya baru sekitar 15 tahunan paling lama. Barangkali di tahun 1500-an dulu juga hutan. Tetapi tentu saja alih fungsi Depok menjadi pemukiman juga telah lama berlangsung sejak jaman Belanda dulu. Sejak Cornelius Chastelein (seorang pemuka VOC) membeli kawasan ini di tahun 1696 dan menjadikannya perkebunan, Depok berkembang menjadi karesidenan tersendiri. Bahkan, konon sebelum itupun telah ada dusun terpencil. Para penghuni asli yang tentunya orang Betawi membuat Depok cukup banyak ditanami jenis-jenis pohon berbuah yang saat ini preservasinya pastinya diserahkan ke masing-masing penghuninya. Meskipun masih tertinggal berbagai pepohonan buah di sekitar pemukiman asli, dibanding KRB, Depok terlalu jauh jaraknya dari Gunung Gede-Pangrango, sumber kekayaan jenis satwa tertinggi terdekat bagi Bogor dan sekitarnya. Ini artinya Depok tak bisa berharap mendapat limpahan jenis kupu-kupu dari Gunung Gede-Pangrango, bahkan dari KRB sekalipun.

‘Jalan-jalan kupu-kupu’ saya selama 4,5 jam berbuah 18 jenis kupu-kupu. Suatu jumlah yang tertatih-tatih dicapai dari halaman rumah saya. Beberapa faktor tentunya berpengaruh: 1. Jarak dari sumber satwa, 2. Lamanya terisolasi, 3. Kondisi habitat. Pada komunitas burung, KRB sendiri mengalami kepunahan lokal untuk jenis-jenis yang terkait dengan pepohonan. Ini di antaranya disebabkan karena kurangnya habitat sejenis di sekitar KRB. KRB yang luasnya 87 ha, ternyata tak cukup melindungi jenis burung-burung tadi dan tetap masih perlu didukung dengan koridor dan ‘pulau-pulau’ habitat kecil di sekitarnya.

Bagaimana dengan kupu-kupu? Kemampuan kupu-kupu menyambangi ‘pulau-pulau’ tadi barangkali tidak sekuat burung meski kupu-kupu biasa bermain di jalur bawah dan terkait variasi tanaman yang jauh lebih besar. Pada saat pepohonan nyaris tak ada, kupu-kupu masih dapat memanfaatkan tumbuhan berbunga lainnya seperti yang saya lihat di sekitar lingkungan rumah. Sayangnya tidak sesederhana ini. Jika variasi jenis dengan KRB saja sudah berbeda, faktor-faktor tadi pasti berperan juga. Terlalu dini untuk menyimpulkan apa yang terjadi pada komunitas kupu-kupu. Untuk saat ini, setidaknya saya cukup puas mengagumi hasil ‘jalan-jalan kupu-kupu’ saya………😉

Mau ikutan?