Dapatkah kupu-kupu dikejar? Tentu dapat, tetapi tentu saja akan segera terbang jika kita mengejar sambil berlari. Foto adalah cara terbaik ‘mengejar dan menghentikan’ kupu-kupu.

Pengamatan kupu-kupu atau butterfly watching tak sepopuler pengamatan burung karena kurangnya informasi. Bahkan nama lokalnya pun tak dikenal. Di negara tetangga kita Singapore, pengamatan kupu-kupu punya peminat tersendiri. Mau coba mengejar kupu-kupu? Tips untuk memotret kupu-kupu dalam bahasa Inggris telah dijelaskan dengan cukup detil di sini (dengan peralatan cukup lengkap) atau di sini. Sedikit pengalaman amatir saya barangkali dapat ditambahkan.

Kupu-kupu, sama dengan hewan liar lainnya, sensitif terhadap manusia. Sedikit berbeda dengan burung, kupu-kupu masih dapat didekati sampai jarak tertentu yang cukup dekat, bahkan pada beberapa jenis dapat hampir bersentuhan dengan kita. Ingat kupu-kupu, adalah ingat matahari. Di hari yang cerah, banyak kupu-kupu memanfaatkan sinar matahari pagi untuk berjemur (basking) dan tentu saja terbang mencari makan. Pada saat berjemur, kupu-kupu akan membuka sayapnya secara perlahan dan menyerap panas matahari untuk kekuatan terbangnya. Banyak kupu-kupu juga tertarik pada gulma seperti sesemakan bunga tahi ayam (Lantana camara) dan Chromolaena odorata yang banyak di tepi-tepi hutan atau lahan-lahan non-produktif. Kupu-kupu juga kadang-kadang mencari genangan air asin atau tempat yang lembab seperti bebatuan di tepi sungai untuk menyerap mineral (puddling).

PAPILIONIDAE

Ini kelompok kupu-kupu swallowtails yang rata-rata berukuran besar dan paling cantik. Biarpun besar ukurannya, ternyata mengambil fotonya tidak mudah. Papilionidae biasa terbang tinggi dengan sesekali terbang rendah biasanya untuk mencari tempat untuk bertelur atau mencari bunga. Banyak jenis Papilionidae bertelur di pohon jeruk. Jadi, jika ada pohon jeruk (Citrus spp.), coba cek apakah daunnya dimakan ulat (jika berminat memotret ulatnya). Saat kupu-kupu ini mencari tempat untuk bertelur atau berjemur diri adalah saat yang tepat karena minimnya pergerakan. Papilio gigon di Sulawesi, misalnya seringkali beristirahat dalam posisi sayap terbuka di dedaunan. Hal yang sama juga saya temukan pada Papilio polytes dan Papilio memnon di Jawa yang cukup umum di daerah perumahan. Bunga soka (Ixora spp.) adalah bunga yang diminati kupu-kupu kelompok ini.

Tidak semua kupu-kupu Papilionidae memberi cukup kesempatan bagi lensa-lensa mata dan kamera kita. Graphium agamemnon, misalnya, adalah kupu-kupu dengan kepakan sayap yang cepat dan berhenti dengan waktu sangat singkat pada bunga. Tentu saja, masih ada yang berhasil memfotonya dengan sangat baik.

Papilio memnon

Picture 1. Papilio memnon (Great mormon)

PIERIDAE

Inilah kelompok kupu-kupu berwarna putih dan kuning. Bagi saya, inilah kelompok paling sulit dan paling tidak menarik difoto. Kebanyakan selalu beristirahat dalam bentuk sayap tertutup padahal banyak juga yang dibedakan dari pola bagian sayap atasnya. Sementara warnanya yang kebanyakan putih menyebabkan refleksi cahaya yang berlebihan. Kupu-kupu Pieridae juga sangat..sangat sensitif terhadap gerakan.

Appias lyncida

Picture 2. Appias lyncida (Chocolate albatross) di rerumputan

NYMPHALIDAE

Banyak jenis Nymphalidae dikenal sebagai kupu-kupu pemakan buah. Jadi, tentunya pohon dengan buah yang masak adalah magnet bagi mereka. Pohon jambu air saya yang biasa berbuah di bulan-bulan April telah beberapa kali menjadi tongkrongan saya menunggui kedatangan mereka. Jenis yang sering tertarik jambu misalnya adalah Euthalia aconthea, Hypolimnas bolina dan Melanitis ieda. Di Buton, pepohonan enau yang buahnya sedang matang-matangnya juga kerap didatangi kupu-kupu.

Hypolimnas bolina

Picture 3. Hypolimnas bolina (Great egg-fly) di atas buah jambu yang jatuh di rumput

Variasi jenis Nymphalidae sangat banyak dengan perilaku yang cukup berbeda. Ada jenis Cyrestis spp. yang biasanya beristirahat di balik daun dalam posisi sayap terbuka. Elymnias hypermnestra, misalnya tidak banyak terbang jauh dan kerap berpindah dan berhenti dalam posisi sayap tertutup di dedaunan. Jenis-jenis seperti Amathusia phidippus, Amathuxidia plateni (di Sulawesi), dan Discophora spp, kerap luput dari pengamatan karena sangat mirip daun kering dan ditemukan di batang-batang pohon. Dalam situasi lain di Sulawesi, Faunis menado menghuni lantai hutan dan banyak berhenti pada serasah atau pohon roboh yang membusuk, sementara Vindula erota biasa berada dekat sumber air. Rata-rata kupu-kupu ini sangat sulit didekati.

Cyrestis strigata

Picture 4. Cyrestis strigata, menclok di bagian bawah daun

Faunis menado

Picture 5. Faunis menado (Sulawesi faun) di atas serasah hutan

LYCAENIDAE

Ini adalah golongan kupu-kupu terkecil yang identifikasinya cukup sulit. Jika pola sayap bagian bawah (underside) kelihatan mirip antar beberapa jenis, pola sayap bagian atas (upperside) dapat berbeda sama sekali. Banyak Lycaenidae juga tertarik pada daerah-daerah yang terbuka dengan banyak bunga-bunga liar (weeds). Ukuran yang kecil tentu saja membuat penampakannya tidak tampil penuh dalam bingkai kamera meski dengan lensa zoom yang cukup baik. Saya sendiri lebih suka memakai super macro pada kamera digital saya yang cukup mungil. Dengan ukuran kamera yang mungil ini, jenis-jenis Lycaenidae biasanya dapat didekati perlahan dengan jarak sangat dekat.

Lycaenidae

Picture 6. Beberapa jenis Lycaenidae

Semoga pengalaman amatiran ini ada gunanya……🙂

Beberapa kamera yang pernah atau sedang saya pakai:

  • Olympus C770UZ
  • Sony DSC T-100
  • Panasonic Lumix LZ18