Field outfitBertahun-tahun lalu saat mulai terjun ke dunia kerja, bersama teman pernah berdiskusi tentang apa yang membuat kita memilih jurusan dan pekerjaan. Satu hal, kerja dalam bidang konservasi terutama blusak-blusuk hutan bukanlah jenis pekerjaan umum di negara ini. Jadi, pengaruh untuk kerja di bidang ini pastinya tidak begitu saja muncul atau diturunkan dari tetua kita. Konsep kerja di bidang ini terutama yang di lapangan, tidak mengenal jam kerja formal, tak kenal pakaian kantor berdasi atau blazer, bahkan diwajibkan mengenakan pakaian lapangan jika masuk hutan dengan warna dominan khaki.

Di negara-negara berkembang, bidang keilmuan telah berkembang baik dari jaman dahulu. Coba lihat Dr. Henry Jones Jr. alias si ‘Indiana Jones’, seorang profesor arkeolog yang mendapat pengaruh dari sang ayah, dan yang juga menurunkan minatnya pada sang anak. Itu yang fiksi. Yang nyatapun cukup banyak kok. Di Indonesia? Boleh dihitung dengan jari para pekerja konservasi yang orang tuanya juga bergelut di bidang yang kurang lebih sama.

Modal untuk orang-orang seperti saya dan teman-teman saya barangkali cuma buku dan film. Orang tua tentu saja punya peran penting dalam mendukung atau menyediakan sarananya. Jaman dulu di rumah saya ada sebuah buku berbahasa Inggris tentang fauna dunia (sudah lupa judulnya). Pada saat buku itu masih dalam kondisi layak baca, saya malah belum dapat membaca dan hanya suka melihat gambarnya. Namun, bertahun-tahun sesudahnya bahkan hingga sekarang, gambaran burung sekretaris (Sagittarius serpentarius) yang berjambul atau paus biru (Balaenoptera musculus) yang sangat besar tetapi hanya makan krill tetap melekat di otak saya.

Jaman SD dulu, pernah pula bersama seorang teman berkongsi membuat perpustakaan kecil. Judulnya juga ada yaitu perpustakaan ‘Baden-Powell’, gara-gara kami berdua dulu lagi semangatnya ikutan pramuka (Lord Baden-Powell itu bapaknya ‘kepanduan’ dunia). Buku-bukunya adalah gabungan koleksi kami. Perpus kecil kami ini lumayan juga mendapat pengunjung dari teman sekelas dan lingkungan RT yang kebanyakan anak-anak dan remaja. Pengunjung bebas baca di tempat atau dibebankan hanya Rp. 10—25 perak jika meminjam buku untuk dibawa pulang. Jaman segitu, Rp 25 perak sudah dapat tahu goreng sebungkus…. Saya masih ingat, koleksi buku saya kebanyakan adalah seri kancil dan seri elangnya Gramedia yang banyak menerbitkan cerita-ceritanya William Shakespeare, Jane Austen, Charles Dickens dalam bentuk ringan. Sementara koleksi teman saya adalah seri komik bergambar ‘album cerita ternama‘ yang kebanyakan bercerita tentang tokoh-tokoh dan kisah petualangan seperti Old Shatterhand, Rob Roy, Davy Crockett, dll. Jadi, sedikitnya kami berdua tentunya bertukar pengetahuan.

Kalau orang bilang bahwa pengaruh televisi bagi anak sangat besar, saya sih setuju-setuju saja. Film-film dokumenter flora dan fauna terus terang jaman dulu selalu membuat saya ngantuk, hahaha…. Tapi coba dalam bentuk film cerita…. Teman saya, Diah, kalau tidak salah pernah bercerita tentang film serial ‘Bring’em back alive‘ (diputar tahun 80-an) yang mengkisahkan petualangan Frank Buck, seorang naturalis dan kolektor hewan bagi beberapa kebun binatang di Amerika di tahun 30-an. Petualangan Frank Buck di seputaran Sumatra, Singapore, dan semenanjung Malaya konon berpengaruh besar terhadap dirinya. Sementara idealisme kebebasan di alam dan gambaran kerja di lapangan saya peroleh dari film serial ‘Born Free‘ yang diangkat dari pengalaman Joy Adamson dan suaminya membesarkan Elsa, sang singa gunung di Kenya. Jadi gambaran pekerja berpakaian khaki dan berjalan jauh lengkap dengan teropongnya ternyata masih tersimpan baik di memori saya. Dan belakangan saya pun pernah bekerja pada pasangan peneliti yang kerjanya pun di hutan…..

Buku dan film memang lebih banyak memberikan gambaran ideal meskipun kenyataannya banyak yang jauh lebih rumit. Tapi, dipikir-pikir, terlalu banyak baca dan terlalu banyak nonton gak salah-salah amat, paling tidak dalam memperkaya isi otak. Setidaknya beberapa buku seperti ‘Little house’ nya Laura Ingalls Wilder masih bertahan sekitar 25 tahun di rumah dan menjadi bacaan hingga generasi di bawah saya meski kertasnya telah berubah warna. Ada juga film-film yang bahkan dijadikan film ‘wajib’ di rumah seperti Jurassic Park trilogy, the Sound of Music, dan Pirates of Caribbean trilogy. Saking berulangnya menonton film ini, keponakan saya Nisa di suatu saat di SD adalah satu-satunya di kelasnya yang menjawab dengan tepat proses rekayasa genetik yang dilakukan pada dinosaurus di Jurassic Park.

Beruntunglah, bahwa ilmu tidak ekslusif. Seekor anak burung belajar bernyanyi tak hanya dari sang ayah tetapi juga individu sejenisnya. Burung jalak bahkan belajar pula dari lain jenis. Proses merekam, memilih dan menjaga apa yang direkam, itu masalah lain…..😛