Sebuah keluarga yang selama ini stabil ternyata mengalami gonjang-ganjing. Berkurangnya seorang anggota keluarga, tak bisa dipungkiri cukup menjungkir balikkan suatu tatanan hierarki yang telah ada berikut dengan kegalauan pikiran dan perasaan. Semua yang tertinggal berusaha menyesuaikan dan menempatkan diri pada posisi baru dengan tanggung jawab baru. Bukan proses yang mudah…. Jika semua ini bisa terjadi pada suatu keluarga, maka bayangkan pergolakan yang terjadi pada suatu komunitas.

Jadi, jika saya lama tak menampakkan diri di sini untuk sementara waktu, ini pun akibat proses jungkir balik tadi ditambah dengan kepusingan saya menghadapi ilmu ekologi komunitas untuk thesis saya. Dua hal yang berbeda tetapi nyatanya berlatar belakang sama: adanya gangguan yang menyebabkan bergolaknya suatu sistem. Ilmu ‘multi-spesies’ ini ternyata gampang-gampang susah, dan susah-susah njelimet (yang jelas lebih kompleks dari suatu sistem keluarga). Intinya memang menyangkut kekayaan spesies (species richness) dan keragaman (diversity). Tetapi pada kenyataannya tidak sesederhana ini.

Ilmu satu ini ternyata tak mandeg di seputaran kekayaan dan keragaman saja. Komunitas yang tersusun dari spesies berbeda dengan perannya masing-masing bersifat sangat dinamis. Seperti kepusingan saya menyimpulkan apa yang terjadi pada komunitas burung 10 tahun pasca kebakaran hutan di Sumatra di satu pihak dan menyimpulkan perubahan yang terjadi pada komunitas burung di Buton pada skala waktu yang lebih singkat, 3 tahun, akibat gangguan dengan peringkat yang jauh lebih kecil. Berbagai komponen dalam ekosistem turut berperan merubah tatanan struktur suatu komunitas. Gangguan tak hanya menyebabkan populasi dari sebagian jenis bereaksi, tetapi bahkan mengganggu keseluruhan struktur. Jadi, bicara indeks keragaman dan kekayaan jenis tak ada artinya tanpa membedah lebih dalam tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Benarkah hanya burung-burung insektivora penghuni lantai hutan yang terpengaruh oleh gangguan? Benarkah burung-burung frugivora menunggu sambil melihat keadaan, menunggu kesempatan yang lebih baik? Di jaman sekarang yang tingkat gangguannya telah menciptakan habitat yang tak lagi menyatu dan terpecah-pecah menjadi petak-petak habitat, ekologi komunitas menjadi berurusan dengan metapopulasi dan teori biogeografi pulau. Dengan kondisi petak habitat yang berbeda-beda, maka yang dicari tidak sekedar indeks keragaman, namun seberapa besar laju kolonisasi dan kepunahan komunitas di habitat tersebut. Bagaimana suatu komunitas bereaksi terhadap gangguan yang terjadi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali stabil?

Studi yang satu ini seringkali berangkat dari daftar jenis. Apa saja dan dapat apa?

  1. Pergi ke beberapa daerah, lakukan pengamatan burung, dapat daftar jenisnya dan buat perbandingan. Dari sini diperoleh estimasi kekayaan jenis, keragaman, dan tingkat kesamaan (similarity) komunitas antar daerah.
  2. Ulangi pengamatan di beberapa tahun berikut pada tempat pengamatan yang sama. Dari perbandingan perubahan komunitas per tahun dapat diperkirakan laju kolonisasi, laju kepunahan lokal, dan laju perubahan kekayaan jenis.
  3. Lakukan analisis struktur vegetasi pada tempat pengamatan yang sama dan dapat diamati efek struktur vegetasi terhadap komunitas dan spesies tertentu.

Hal utama yang mempengaruhi kompleksitas suatu komunitas sebenarnya adalah spesies yang menjadi anggota komunitas dengan variasi karakter dan kebutuhannya, serta gradien variasi lingkungan. Nah, tapi kedua hal tersebut juga saling terkait. Hutan yang terbakar, misalnya, menyebabkan burung-burung yang menempati tajuk bawah hutan menyingkir. Namun, hutan yang terbakar juga menyebabkan burung-burung tertentu menjadi lebih mudah terlihat dibanding hutan yang tak terganggu. Dengan kata lain, kondisi habitat mempengaruhi tingkat deteksi suatu spesies. Daftar jenis menjadi perlu dicermati jika besarnya usaha pengamatan tak sama. Ini menyebabkan penghitungan kekayaan jenis dan keragaman haruslah memperhitungkan faktor deteksi karena burung yang tidak kita lihat belum tentu memang raib di lokasi itu.

Bagaimana cerita akhir saya tentang dua komunitas burung di dua tempat berbeda ini? Ya belum tahu, sebab saya masih gonjang-ganjing memahami dua software untuk menganalisanya. Kalau suatu keluarga perlu waktu beberapa bulan untuk menjadi stabil kembali, maka pastinya perlu waktu yang lebih lama untuk memahami perubahan yang terjadi pada suatu komunitas burung. Jadi, jangan harap cerita ini berakhir di sini ya…….