Pulau yang satu ini selalu membuat saya kembali dan kembali lagi. Bukan saja untuk kembali mendatanginya (seperti yang pernah saya tulis di sini), tetapi juga kembali untuk membahasnya. Coba lihat peta ini (yang saya ambil dari Museum Bank Indonesia).

Ini peta gambaran para penjelajah samudera jaman dahulu, rekaan tentang bentuk Sulawesi yang amat jauh berbeda dari yang kita tahu di masa sekarang.

Pulau Sulawesi sih tetap bentuknya paling aneh. Tapi mengapa bagian barat pulau ini yang mendekati bentuk saat ini? Perkembangan pengetahuan memang sepertinya beriring dengan penjelajahan (dan penjajahan) di masa lalu. Tetapi jangan pula dilupa bahwa beberapa kerajaan seperti Bone, Wajo, Soppeng, dan Gowa juga telah berkembang pada abad ke 13. Alfred Russel Wallace mendarat pertama kali tahun 1856 di pulau ini lewat pelabuhan Makasar. Beberapa bagian di kepulauan Sulawesi yang telah menjadi tempat persinggahan di masa lalu selain di Makasar di antaranya adalah Buton, dan bagian ujung utara yang disebut ‘Punta de Celebres’ yang menjadi asal kata Celebes (oleh sejarawan Portugis Tome Pires). Barangkali sejarah itu juga yang membuat saya tidak merasa terasing saat pertama kali mendarat di pulau Buton tahun 2005.

Dan setiap kali saya ke sini untuk masuk hutan, saya selalu kepayahan dengan gejala kaki pegal-pegal dan napas tersengal-sengal. Bentuk aneh yang dimiliki Sulawesi konon membuat jarak ke pantai dari semua tempat yang ada tidak lebih dari 100 km. Jarak terjauh ke pantai paling dimiliki oleh Sulawesi Tengah. Padahal sebagian besar kawasan ini bergunung-gunung. Akibatnya, perubahan pantai ke pegunungan menjadi lebih singkat sehingga dataran rendahnya menjadi sempit dan gunung-gunung menjadi lebih terjal. Pada suatu tempat di hutan Lambusango di Buton, misalnya, dalam setengah hari perjalanan dari desa yang tak begitu jauh dari pantai, dapat mencapai ketinggian hingga 600 m dpl. Ketinggian ini memang masih dikategorikan sebagai dataran rendah. Burung-burungnya pun tak terlalu banyak memperlihatkan perubahan ketinggian. Namun perubahan tumbuhan cukup dapat terlihat. Semakin tinggi, jenis pohon kelihatan berbeda dan pohonnya juga lebih kecil dan pendek. Pada beberapa tempat bahkan mulai diselimuti lumut, suatu kondisi yang menyerupai hutan pegunungan tinggi. Menurut Whitten dkk. (baca Ecology of Sulawesi), ini disebabkan karena diterimanya efek yang sama seperti tajamnya kemiringan topografi, angin yang kuat,dan rendahnya awan.

Di Lambusango, lokasi seperti ini biasanya terdapat di punggungan bukit. Tempat yang pas untuk melepas lelah tetapi tak begitu baik untuk melihat satwa karena angin yang terlalu kuat dan tumbuhan yang terlalu seragam. Kupu-kupu, misalnya, menghindari tempat ini karena anginnya. Burung pun jarang kecuali kawanan burung paruh bengkok berekor seperti raket (Prionithurus platurus) yang kadang-kadang singgah jika pohon sedang berbuah.

Jadi bukan mustahil jika naik gunung di Sulawesi dimulai dari pantai hingga ke atas bukit ditempuh dalam sehari. Seperti seorang teman pernah bercerita tentang pengalamannya ‘membelah Gunung Tangkoko’ yang nyaris saja dilakukannya dalam waktu sehari semalam kalau saja tak ada seorang yang menahan mereka untuk bermalam. Kalau saya? Ah, lebih baik santai saja daripada gejala tadi kambuh lagi……😀