Ada pertanyaan yang muncul baru-baru ini di salah satu milis yang saya ikuti. Apakah metode untuk mengamati perilaku burung? Nah lho! Burung punya sayap, terbang lebih cepat daripada kita manusia yang paling banter hanya berlari, kok niat-niatnya diikuti?

Pada satwa, beberapa metode mengamati perilaku sudah cukup lama dikembangkan. Salah satu literatur resminya dikeluarkan oleh Altman (1974). Dua metode yang paling umum diterapkan adalah focal animal sampling dan scan sampling. Kedua metode ini sebenarnya cukup mirip karena kedua-duanya sama-sama mengikuti suatu individu dari spesies tertentu. Jika focal animal sampling hanya mengikuti satu individu saja (yang mewakili grup atau pasangan) pada waktu tertentu, maka scan sampling dilakukan dengan mengikuti setiap individu dalam suatu kelompok atau pasangan pada setiap interval waktu tertentu. Hasilnya akan diperoleh suatu frekuensi perilaku dari jantan atau betina, atau juga frekuensi perilaku dari dua spesies yang masih berdekatan.

Dua metode tersebut, biasanya diterapkan pada primata. Perilakunya dibedakan menjadi beberapa aktivitas seperti makan, grooming, istirahat, tidur, dsb. Tidak mudah memang mengikuti tiap individu monyet atau siamang. Namanya juga satwa, tentunya menghindar dari manusia. Siamang yang masih takut biasanya berpindah dengan cepat di antara pepohonan atau menyembunyikan diri dalam rerimbunan tajuk pohon. Percaya atau tidak, bahkan membuka payung secara tiba-tiba di waktu hujan saja dapat membuat suatu kelompok siamang tiba-tiba melarikan diri. Namun, pembiasaan terhadap kehadiran manusia (habituasi) masih cukup mungkin dilakukan. Caranya? Ya tentu dengan bangun lebih pagi dari kelompok siamang tersebut, cari atau tunggu di bawah pohon tidurnya dan ikuti terus hingga sang kelompok kembali ke peraduannya (yang sangat mungkin pindah ke lain pohon). Usaha ini harus dilakukan setiap hari hingga kelompok siamang tersebut menjadi terbiasa dengan hadirnya beberapa orang untuk mengikuti kemana mereka pergi. Pada siamang, usaha habituasi ini bervariasi lamanya. Ada yang 2 minggu sudah takluk, namun ada yang 2 bulan baru mulai menyerah (dan belum sepenuhnya pula).

Nah, mungkinkah kondisi yang sama diterapkan pada burung? Sebenarnya perkembangan teknologi menyediakan alat penjejak dengan menitipkan sebuah transmitter pada burung sehingga ke mana pun ia pergi dapat dideteksi. Pilihan transmitter juga cukup variatif, termasuk pilihan untuk mengetahui posisi tubuh burung. Posisi istirahat (dalam keadaan tegak) akan dideteksi berbeda dengan posisi menunduk (biasanya sedang makan). Namun, tentu saja pilihan ini adalah pilihan yang mahal.

Focal animal sampling dan scan sampling tentunya juga pernah diterapkan pada burung. Salah seorang mahasiswa saya pernah mengorbankan dirinya sendiri untuk mengikuti beberapa kelompok burung enggang klihingan (Anorrhinus galeritus). Burung ini adalah enggang bertubuh kecil (dalam satu kelompok dapat berjumlah 7-9 ekor) bersifat territorial yang lebih banyak menempati ruang antar tajuk di dalam hutan. Alasan inilah yang menjadi dasar pengorbanan diri sang mahasiswa. Alasan yang cukup jitu namun tetap mengundang resiko.

Apa perlu disebut lagi? Burung punya sayap, terbang lebih cepat daripada kita manusia yang paling banter hanya berlari. Ini belum ditambah kondisi alam yang tidak mudah, hutan yang rapat, serta topografi yang tidak rata. Kemampuan mendengar dan mengenali suara burung juga harus ditingkatkan. Banyak kejadian para pengamat tiba lebih lambat di tempat bertengger si burung sehingga perilaku sebenarnya mungkin tak tercatat. Jadi, mau tidak mau, teknik ini harus dimodifikasi. Frekuensi perilaku tentunya sulit diperoleh, kecuali terbang dan bertengger. Namun, teknik modifikasi dengan memetakan ke mana burung bertengger, paling tidak berhasil menggambarkan penggunaan habitatnya, komposisi kelompok, dan perkiraan luas daerah jelajahnya. Pernah juga saya baca, bahwa burung kuau raja (Argusianus argus) dapat dihabituasi. Studi ini berhasil mencatat jenis makanan yang dipatuki si Kuau. Usaha habituasinya tentu jauh lebih sulit karena burung ini memang sangat sensitif terhadap apapun yang berada di dekatnya. Salah satu cara modifikasi barangkali dengan memenggal waktu pengamatan misalnya hanya di sarangnya. Tentunya ini akan menghasilkan suatu gambaran proses penjagaan, pencarian dan pemberian makanan ke anak burung yang baru menetas.

Jadi, masih mau mengikuti burung? Silakan, dan jangan keburu mundur karena sulitnya tetapi barangkali cari tahu dulu segala info tentang burungnya untuk melihat kemungkinan dapat diikuti atau tidak. Perjelas juga tujuan penelitian kita agar modifikasi teknik dapat disesuaikan dengan jenis burungnya. Selamat berkorban …. Hehehe…