Ini adalah kandang kambing biasa. Tetapi menjadi tidak biasa jika letaknya di kebun yang dekat dengan hutan. Tambah menjadi tidak biasa karena ada cap cakaran harimau Sumatra….


Ini sedikit cerita dari kunjungan saya atas undangan teman-teman dari Wildlife Conservation Society—Indonesia Program di desa Talang Sebelas di akhir minggu yang lalu. Ketika rombongan kami tiba, telah terpancang layar tancap di lapangan kecil, sisa dari pemutaran film layar tancap dari malam sebelumnya. Ini pemutaran film layar tancap perdana di desa Talang Sebelas sejak berdirinya tahun 1987. Pemutaran film selama 2 malam ini, rupanya juga tidak sekedar sampai malam, tetapi bahkan hingga pagi hari. Penontonnya datang membawa bantal masing-masing dari rumah dan menuntut pemutaran film hingga Subuh.

Desa Talang sebelas menurut asal namanya, berasal dari 11 orang dari kota Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, yang membangun pemukiman di perbatasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Namanya juga tinggal berbatasan dengan hutan, satwa liar yang berkeliaran di kebun bahkan di luar rumah bukan hal aneh di desa ini. Memasuki kawasan pedesaan yang satu ini terasa berbeda dengan pedesaan umumnya (paling tidak dari yang pernah saya kunjungi). Sekelompok siamang menyambut kami dengan panggilannya dari atas pepohonan damar. Sementara, babi hutan dan rusa meninggalkan jejaknya di kebun kelapa sawit. Beruang madu, musang, dan landak sesekali berkeliaran di malam hari. Jarak antar rumah cukup jauh dan jalan-jalan pedesaan bertepian dengan kelapa sawit, kebun damar, sesemakan atau alang-alang yang setinggi manusianya. Jika kambing di desa lain mungkin terancam penyakit, atau dicuri orang, di sini ancaman utama bagi kambing-kambing adalah menjadi mangsa harimau. Tak heran, para penonton layar tancap tadi menuntut pemutaran film hingga subuh karena tak berani pulang ke rumah saat gelap gulita.

Ya, manusia memasuki suatu zona kehidupan liar. Kambing-kambingnya juga memasuki kawasan yang tidak aman. Sementara, sang harimau dapat pergi ke manapun dan tak pernah mengenal demarkasi suatu kawasan. Bayangan akan harimau yang mengintai mangsa dari sesemakan dan alang-alang yang rapat rasanya sangat melekat di pikiran-pikiran kami. Ini adalah suatu contoh nyata bertumpang tindihnya dua lansekap yang berbeda, lansekap manusia (beserta seluruh kebutuhannya) dan lansekap biologi. Menghilangkan salah satu lansekap tidak mudah dan belum tentu menjadi jawaban yang tepat.

Jadi, tinggal di desa ini memang ada kiat-kiat tertentu. Kandang kambing biasa dengan sedikit utak-atik menjadi kandang yang tiger-proof alias anti harimau. Sudah cukup untuk melemahkan niat sang harimau mengganggu kambing-kambing penduduk. “Life will find a way“. Itu kata Dr Ian Malcolm di Jurassic Park. Jadi daripada menunggu alam mencari keseimbangannya, kenapa tidak kita, manusia, yang membantu alam mencapai keseimbangannya? Manusia sebagai khalifah di muka bumi mempunyai kekuatan untuk mengubah dan alangkah baiknya jika mengubah untuk suatu kebaikan. Babi-babi hutan mungkin mengintai panen tetapi dengan sedikit pengawasan, harimau tak akan kekurangan mangsa utamanya si babi hutan.

Beternak bijak, 3-4 kehidupan saling berbagi……

PS: Postingan serupa dalam bahasa Inggris ada di sini