Suatu saat saya sedang mengepak barang untuk tinggal cukup lama di luar negeri. Pada masa-masa ini biasanya tingkat stress saya meningkat. Paling parahnya terjadi jika saya lupa menghentikan angkot atau salah naik angkot (padahal tahu betul angkot mana dan jurusan mana yang dituju). Ibu saya berkata bahwa pindah rumah memang tekanan yang cukup berat bagi perempuan.

Masuk akal juga jika dilihat dari sisi evolusi mamalia. Tingkat dispersal sering dikatakan lebih tinggi pada jantan dibanding betina. Kompetisi yang tinggi di tempat asal kadang membuat jantan menghindarinya dengan pindah ke daerah baru (dan mencari betina yang oke di sana). Coba bandingkan dengan burung Kuau raja (Argusianus argus) jantan yang santai-santai saja menari di panggungnya sambil memanggil-manggil betina untuk datang. Hehe, kalau soal kenyataannya pada manusia mungkin harus ditanyakan pada para lelaki. Tapi bukan soal evolusi ini yang saya mau bicarakan (musti banyak baca soalnya).

Hitungan saya mencatat paling tidak saya pernah mempunyai 3 tempat tinggal lain selain rumah ortu yang saya tinggali saat ini. Inilah rumah ‘hutan’ saya, mulai dari pondok sederhana, bangunan kayu permanen, hingga tenda.

Terlepas dari lokasi yang sebagian butuh beberapa jam perjalanan perahu serta 3-7 jam perjalanan kaki tergantung lokasinya dari kota terdekat, atau 4 jam terombang ambing dalam kapal cepat, ketiganya memang ‘home’ bagi saya, menyediakan habitat dan keamanan bagi penghuninya. Jadi, saya mencoba mereka-reka kenapa 3 lokasi ini layak dianggap sebagai habitat:

  1. Di manapun saya tinggal ternyata saya selalu mengatur rumah saya. Dinding kulit kayu pada pondok kecil saya di Morowali, Sulawesi Tengah, penuh dengan kartu-kartu kiriman kakak atau teman. Kamar saya bersama para perempuan mungil di Way Canguk mempunyai cermin bergambar Goofy, 2 bantal kursi, dan sebuah alas tenun. Rumah berpindah saya dan Diah (alias tenda) di Buton pun cukup diatur sehingga masing-masing penghuninya punya cukup ruang untuk bersolek sebelum ke lapangan, shalat, serta menyimpan barang-barang ‘lapangan’nya (bahkan masing-masing punya tempat menggantung sepatu boot yang basah)
  2. Turun ke dapur. Buktinya ya kumpulan resep ‘memasak di lapangan’ jilid 1, 2, dan 3 dengan resep sederhana telur dadar isi hingga pizza. Kalau saya belum turun ke dapur artinya….
  3. Selalu ada keriaannya. Ini tentu mengacu ke nomor 2 (ya, memasak di lapangan termasuk keriaan). Keriaan lainnya adalah kemauan bereksplorasi. Ini juga artinya akan ada banyak foto.
  4. Mengenal dan mempertahankan teritorinya dengan cukup baik. Ini mudah dilihat dari kondisi ‘rumah’ setelah pulang dari lapangan karena sentuhan dari orang yang bukan penghuni jelas terlihat. Dan biasanya selalu diikuti dengan laporan dari orang tersebut misalnya jemuran yang diangkat karena hujan, atau tenda yang perlu ditutup karena penghuninya lupa. Pendatang yang ingin menginap di ‘rumah’ juga biasanya harus melewati ‘screening’ dan tak boleh mengganggu jadwal dan kebiasaan penghuni.

Perpindahan memang penuh tekanan karena harus berhitung – keuangan, jumlah pakaian memadai, serta suasana baru yang harus dihadapi. Barangkali sama seperti hewan yang dilepas di daerah yang bukan asalnya. Kompetisi atau kesempatan masuk ke dalam suatu kelompok baru tidak bisa diatasi dalam sehari. Barangkali teman-teman saya yang sering mengamati perilaku siamang punya lebih banyak pengalaman lewat siamangnya.

Tentu saja saya bukan siamang. Manusia diberi kekuatan akal dan nurani. Intinya sih, rumah bagi saya adalah tempat di mana saya bisa tenang, damai, dan bahagia. Dan kebahagiaan mungkin memang harus ditemukan sendiri. Oh ya, satu lagi kesenangan saya dengan ‘rumah hutan’ saya adalah bebas gossip, dan cenderung bebas dari konflik dan intrik yang seringkali tercipta dalam pekerjaan. Tinggal di hutan adalah memasuki suatu kehidupan yang sebenarnya telah berjalan alami. Sehingga kita dituntut untuk menjaga kondisi itu. Barangkali ini yang seharusnya diterapkan pada ‘rumah-rumah’ kita di manapun kita berada…….