Ah ya Supri, mengapa dikau begitu jauh sementara diriku membutuhkan dirimu? Beruntunglah yang akang, mbakyu, bapak, ibu Supri-nya tinggal sekota.  Baru kutahu bahwa hubungan jarak jauh ini nyata-nyata tak mudah.

Oh Supri, dimanakah dikau ?

Hehehe, Supri ini adalah nama lain Supervisor/advisor/pembimbing skripsi/tesis/disertasi atau apapun sebutannya (mohon maaf buat teman-teman saya atas penggunaan istilah ini secara terbuka). Jaman sekarang gini, Supri jarak jauh sudah tidak aneh lagi apalagi ada fasilitas internet atau sms. Dan tidak terbatas pada mahasiswa post-graduate, S1 pun bisa. Seperti saya ini yang merangkap mbak Supri jarak jauh tetapi juga punya Supri nun jauh di tanah Inggris sana. Tetapi ternyata dalam arti apapun long-distance relationship atau hubungan jarak jauh ini tetap saja tidak mudah.

Apa saja yang bikin macetnya hubungan jarak jauh ini?

  1. Psychological boundary. Biar bagaimanapun dekatnya hubungan kita dengan Supri, tetap saja ada rasa keengganan untuk berkomunikasi. Padahal salah satu konsekuensi menjadi Supri yang andal ya salah satunya harus siap mendengarkan keluh kesah sang mahasiswa (termasuk persoalan pribadi kadang-kadang). Sebagai mahasiswa jarak jauh, sulit memang memahami situasi yang sedang dialami Supri yang super sibuk yang mungkin ada masalah keluarga, dsb.
  2. Hubungan maya alias tak saling melihat ternyata sangat berpengaruh. Meskipun email-email berseliweran, ada banyak hal yang memacetkan pemahaman kedua belah pihak seperti kendala bahasa (bahasa tersirat dan tersurat beda lho….). Kadang biar sudah diterangkan panjang lebar, tetap saja tidak dimengerti. Jadi, kalau saya sedang berperan menjadi Supri, rasanya diri ini ingin langsung berada di samping mahasiswa, bersama laptop, kertas dan pinsil saya menerangkan keingingan saya tentang cara analisa atau bentuk grafik. Sementara, saya sebagai mahasiswa pun rasanya tak jauh beda. Oh Supri, help me!

Jadi, bagaimana menyikapi hubungan ini? Saya juga masih tetap tidak tau jawaban tepatnya (maklum, masih mahasiswa juga soalnya). Tetapi barangkali begini:

  1. Jaga hubungan dengan teman sependeritaan. Biarpun suprinya berbeda, minimal curhat di antara teman dapat menolong suasana hati termasuk juga menyamakan situasi. Hubungan dengan teman sependeritaan juga bagus untuk belajar dari yang sederhana seperti cara penulisan skripsi/tesis, hingga yang rumit-rumit seperti analisa.
  2. Tetap berkontak ria. Biar bagaimanapun, di mana pun, Supri selalu menuntut kecepatan dan kesempurnaan hasil. Terima aja, tetapi tetap tak henti bertanya jika tidak mengerti dan jangan pernah menunggu. Jangan lupa kasih waktu cukup untuk memeriksa skripsi/tesis anda. Supri, juga biar bagaimanapun, di mana pun tetap menyerahkan bola di tangan mahasiswa. Dan jangan lupa, tetaplah menggunakan bahasa yang santun dalam berkomunikasi. Biar sedekat apapun, tetaplah posisikan Supri sebagai seorang yang dihormati (kalau gak, ngapain juga dijadiin Supri… ya gak?).

Berhubung Supri saya yang jauh di mata belum juga memberikan revisinya, jadi saya juga belum tahu kiat-kiat lainnya supaya para Supri itu makin dekat di hati.