Mencari buku biologi konservasi di Indonesia itu tergolong sulit bagi mahasiswa. Lha, ingatan jadul saya tentang kuliah ekologi perilaku pada masa itu, para mahasiswanya mendapat pinjaman buku dari dosen saya. Internet belum ada, sementara perpustakaan yang ada juga tak terlalu mendukung ilmu yang satu ini. Jangan tanya buku teks berbahasa Indonesia. Lebih minim lagi…..

Biologi Konservasi

Buku Biologi Konservasi berbahasa Indonesia adaptasi dari bukunya Richard Primack memang sudah pernah diterbitkan tahun 1998. Namun, edisi revisinya baru saja terbit kembali. Belajar biologi konservasi dari negeri sendiri. Tampaknya itulah yang menjadi kekhasan dari edisi yang ditulis oleh M. Indrawan, R. Primack, dan J. Supriatna, yang berbeda dengan edisi sebelumnya. Para penulisnya mengajak 38 kontributor penulis lainnya dalam mengangkat cerita, masalah, dan pengalaman konservasi di negeri sendiri.

Indonesia bisa dikatakan menjadi penentu sejarah biologi flora dan fauna tropis. Masing ingat film Master and Commander-nya Russell Crowe? Di dalam film itu, salah satu awak kapalnya adalah seorang dokter (diperankan oleh Paul Bettany) yang juga naturalist, menaruh minat dan mengkoleksi serangga yang baru ia lihat. Ya, begitulah kira-kira ilmu botani dan zoologi di daerah tropis ini berangkat, bersamaan dengan penjelajahan-penjelahan kapal di dunia lama pada sekitar abad ke 17.

Mengapa pula ke Indonesia? Penjelajahan fauna dan flora di masa itu memang sangat terkait dengan perdagangan (ingat, Indonesia Timur gudangnya rempah-rempah) dan tentu saja ekspansi wilayah. Dari situ, ketertarikan pada wilayah kita ini menjadi meningkat karena kekayaan jenis dan keunikan flora-faunanya. Inilah yang akhirnya menjadi daya tarik bagi para naturalist untuk melakukan eksplorasinya. Salah satu perwira VOC Belanda, Georg Eberhard Rumpf, yang mengunjungi Kepulauan Maluku, bahkan sempat membuat sistematika flora dan fauna Amboina meski akhirnya didera kebutaan dan kehilangan anak-istri akibat gempa. Naturalist terkenal tentu saja Alfred Russell Wallace yang mendapat sponsor dari the Royal Geographical Society untuk perjalanannya ke Malay Archipelago. Bayangkan, perjalanannya selama 8 tahun berhasil mengumpulkan 125.660 spesimen satwa! Dari perjalanan ini pulalah berkembang teori pembagian daerah zoogeografi dan kita jadi mengenal kawasan Wallacea yang faunanya merupakan kombinasi pengaruh kawasan Oriental dan Australasia. Krakatau yang meletus tahun 1883 pun juga menjadi salah satu dasar teori biogeografi pulau yang dikembangkan MacArthur tahun 1963.

Ya, tapi itu dari pengalaman masa lalu. Bagaimana dengan saat ini dengan berbagai masalah konservasi yang dihadapi? Masih bisakah Indonesia menjadi penentu dalam mengangkat ilmu biologi konservasi dan melakukan swa-konservasi dari kekuatannya dan pengalamannya? Bisakah orang Indonesia belajar dari orang Indonesia lainnya? Jawabannya, temukan dan baca sendiri!

PS: Mengapa saya repot-repot menulis postingan ini? Hehe, tentu saja karena ada sedikit tulisan saya hasil pembelajaran saya (promosi sedikit ah….)