Under the fig treeSiapa sangka di masa kecil saya main-main dan berfoto di bawah pohon beringin? Ini beringin tua yang hidup di rumah nenek moyang saya di suatu tempat di jawa Timur. Tiga puluh tahun kemudian, saat saya mampir di rumah ini, saya baru tahu bahwa beringin satu ini punya arti khusus bagi penduduk desa di sini. Beberapa penduduk datang membawa berbagai masakan kedurian. Rupanya telah menjadi mitos bahwa setiap kali akan kenduri harus sowan ke pohon ini membawa semua masakan yang akan disajikan. Setelah ‘doa-doa’ dilantunkan, maka masakan tadi boleh dibawa pulang. Konon jika tidak dilakukan maka masakan akan terasa hambar. Entah kapan berlakunya mitos ini. Lucunya, yang punya beringin ini alias pengelola rumah nenek moyang saya ini malah tak pernah melakukan upacara seperti ini. Kenduri..ya kenduri. Makan..ya makan.

Sekitar tiga puluh tahunan kemudian, ternyata saya juga masih main-main di bawah pohon beringin. Cuma kali ini di hutan dan kali ini berhubungan dengan pekerjaan. Keangkeran beringin sudah lama saya dengar. Saya juga bukan orang yang berani-berani amat kalau sudah berurusan dengan supranatural. Tetapi, sama seperti saat saya berfoto di bawah beringin tiga puluh tahun lalu, saya tak punya perasaan was-was tiap kali saya melewati beringin raksasa dengan juluran akar-akar yang saling membelit hingga menguasai lebih dari 0.5 ha lahan di suatu tempat di hutan Sumatra ini.

Pohon beringin yang sering ditengarai angker ini adalah beringin pencekik (strangling fig). Hidupnya dimulai dari biji beringin yang tumbuh di pohon inang yang kemudian dengan akar-akarnya tumbuh menjulur dan mencekik inangnya. Di Cagar Alam Tangkoko di Sulawesi Utara, dikenal sebatang ‘beringin lubang’ yang memang berlubang di tengah karena pohon inangnya telah mati. Obyek wisata cukup terkenal di tempat ini karena menjadi sarang Tarsius si binatang hantu.

Fig

Jadi, di antara gelapnya perakaran di beringin yang malang melintang dan menjadi tempat bersarang Tarsius atau kelelawar pemakan serangga, bagian tajuknya justru menghadirkan kesegaran dan dinamika tersendiri. Daun-daun mudanya menjadi makanan siamang atau kera pemakan daun (Presbytis). Sementara saat berbuah yang tak kenal musim ini, tajuknya mendadak menjadi pasar yang ramai bagi para burung dari mulai rangkong yang bertubuh besar hingga burung-burung cabean yang kecil mungil, serta segala jenis mamalia datang berkunjung, siamang, owa, bahkan bajing terbang. Tak selesai sampai di sini, buahnya yang berjatuhan masih pula diminati babi, si burung kuau atau kupu-kupu. Buah beringin atau Ficus memang mengandung kalsium yang tinggi.

Masa kecil saya hingga saat ini rasanya cukup sarat dengan mitos dan hal-hal supranatural. Tapi di lain hal, orang tua juga tak pernah melarang saya bermain pasar-pasaran di bawah pohon apapun selama tak melakukan hal-hal destruktif. Percaya atau tidak memang urusan masing-masing, tapi rasa-rasanya beringin sebesar apapun cukup untuk tempat bermain siapapun asal tak saling mengganggu. Tiga beringin besar berdekatan di suatu tempat di hutan Sumatra ini juga tetap menjadi tempat favorit menyaksikan penggalan kisah interaksi antar satwa… Plus tempat paling dramatis untuk berfoto 🙂