dsc01724_bunderanhi.jpgDalam 2 hari di akhir minggu, dengan tim yang berbeda, dengan modal yang sama KRL—busway, kaki saya ini menjalani rute yang sama tetapi mengunjungi lokasi yang berbeda. Berbeda tetapi serupa, serupa tetapi tak sama. Rute kota—bunderan HI ternyata menawarkan banyak hal yang menarik bagi wisata yang tak direncanakan secara khusus ini.

Tim pertama yang turun di hari Sabtu adalah dua orang yang mencari sesuatu yang berbeda dari kesibukan atas angka-angka, data, dan analisa yang tiap hari digeluti. Bekal sebuah buku Lonely Planet terbitan lama membawa kami ke rute Pecinan di belakang Pasar Glodok dan mengunjungi 2 vihara, pasar Petak Sembilan dan deretan toko-toko yang menjual segala jenis manisan serta gula-gula masa lalu. Keisengan bahkan hampir membawa kami ke peramalan nasib yang tentu saja gagal dilakukan gara-gara harus memohon ke Dewi Kwan Im sambil memasang hio.

kumpulan_wisata_museumbank.jpg

Tim kedua terjun di hari Minggu terdiri dari 3 orang (satu model kambuhan dari Minahasa, satu fotografer amatir banget, satu pengalih perhatian atau yang siap gak ngaku temen kalau yang dua orang dah mulai malu-maluin) yang benar-benar berniat mengikuti kemana kaki melangkah dengan hanya menentukan tujuan awal bunderan HI. Tepian Plaza Indonesia adalah tempat duduk-duduk yang cukup menyenangkan di hari minggu saat lalu-lintas relatif sepi. Makan di jalan Sabang, lanjut lagi dengan Busway ke kota. Dua gedung di Jl. Lapangan Stasiun, seakan-akan memanggil kami untuk masuk. Keduanya museum perbankan dan menawarkan lebih dari sekedar sejarah uang dan bank. Tahukah bahwa seorang seniman (baca di sini beritanya) yang baru saja meninggal kira-kira 100 hari yang lalu ternyata menjadikan museum Bank Mandiri (baca postingan sebelumnya di sini) sebagai rumah? Sketsa-sketsanya tentang kota tua Jakarta seakan bercerita lebih banyak daripada apa yang kita lihat sehari-hari. Sketsanya adalah catatannya (yang mungkin seharusnya menjadi kekuatan wisata kota tua ini).

Kekuatan hati yang mengatur kaki melangkah ternyata kali ini lebih besar dari rasa lelah dan keinginan atas aliran air yang sejuk di kerongkongan. Museum Bank Indonesia terlalu menarik untuk dilewatkan. Pintu putar (turnstile) yang besar dan kokoh mengantarkan ke kamar-kamar kecil yang ternyata berfungsi sebagai loket sehingga setiap transaksi dihargai sebagai privacy. Sebuah replika peta masa lalu saat para pelaut mulai menjelajahi dunia terpampang dan menggambarkan minimnya pengetahuan penjelajahan di masa lalu. Banyaknya pedagang yang singgah di Pulau Jawa mungkin menggugah ide para pelaut tentang pulau ini yang digambarkan terlalu besar. Atau juga Pulau Celebes yang tergambar tanpa juluran-juluran tangannya yang terkenal (yang membuat sedih model kita dari Minahasa ini karena Menado digambarkan terpisah dari Pulau Celebes).

dsc01812_peta-tua.jpg

dsc01814_dewi-galak.jpg

Begitulah sekelumit perjalanan sepasang kaki selama 2 hari, yang berawal dari suatu rencana tentatif namun terbuka terhadap apapun yang menarik hati. Jadi, kemanakah kaki ini akan melangkah selanjutnya?

PS: maaf foto-foto sang model kambuhan dari Minahasa tidak dapat diperlihatkan karena belum ada kontrak😛