dsc01776_patri2.jpgTiga pasang kaki-kaki lelah terhenyak berdiri di sebelah gerobak es potong, menatap sebuah gedung tua yang megah dan kokoh berdiri di belakangnya. Satpam dengan ramah mempersilakan pemilik ketiga pasang kaki ini untuk masuk ke dalamnya. Tatapan mata terbelalak melihat ruangan luas dari sebuah gedung yang dibangun pada tahun 1929 ini…

Ya.. kunjungan ke Museum Bank Mandiri di seberang stasiun BEOS, yang dahulu dimiliki Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) benar-benar suatu eksplorasi sejarah perbankan. Menurut Wikipedia, NHM didirikan oleh Raja Willem I pada tahun 1824 untuk memperbaiki urusan perdagangan antara Netherland dan Hindia-Belanda yang memburuk setelah jatuhnya VOC meskipun keberhasilannya sendiri baru dirasakan pada tahun 1830. Apalagi kalau bukan karena sistem tanam paksanya Van den Bosch, meskipun belakangan sistem ini ditentang oleh warganya sendiri.

Cikal bakal ABN-AMRO ini telah berkantor di Batavia sejak 1826. Sebuah poster pengumuman yang masih terpampang di dindingnya menjadi bukti bahwa NHM juga mendirikan kantor cabang di Jeddah pada tahun 1926 untuk mengatur kebutuhan jemaah haji Indonesia di Saudi. Selayang pemikiran meloncat ke masa lalu membayangkan calon jemaah haji diberi kesempatan membeli wesel untuk kemudahan selama di tanah Haram.

dsc01733_posterhaj.jpg

Dan kunjungan spontan ini menjadi sebuah eksplorasi ruang dan waktu. Karena setiap pintu tak terkunci dan setiap ruang memiliki ceritanya masing-masing. Setiap tangga menuntun kami menuju ruang lain dengan cerita yang lain pula. Mesin-mesin pencetak brosur, bukti-bukti kliring di masa lalu, serta mesin-mesin tik tua yang tersusun rapi (meski tak satu pun dari kami mengerti mengapa sekuntum bunga plastik terpasang di tiap mesin tik). Sederetan sepeda onthel bahkan sisa-sisa cont block yang terbuat dari kayu jati asli dari tahun-tahun awal berdirinya gedung ini pun masih ada. Ruang operasional bank, ruang rapat, bahka ruang direksi, serasa tak enggan disapa, dikunjungi, dan disentuh. Kaca patri yang cantik namun megah menjadi ornamen yang tak boleh dilewatkan, biarpun sepotong gambarannya serasa menceritakan beratnya Cultuurstelsel yang dialami bangsa ini.

dsc01740_old-typewriter.jpg

dsc01799_patri.jpg

Ketiga pasang kaki yang makin lelah dan kaku-kaku dengan enggan namun puas melangkah keluar, dan menembus ruang waktu kembali ke bagian kota tua yang hiruk pikuk. Abang dan gerobak es potongnya masih juga berdiri di depan gedung ini, yang tak juga dibeli pemilik ketiga pasang kaki yang lelah…….