Dalam suatu kesempatan, mantan bos saya yang anthropologist pernah ngeliatin ayam-ayam di kampung. “I have no respect to chicken”. Begitu katanya. Ya, soalnya kalau salah seekor ayam menemukan makanan, ayam-ayam lainnya pasti ikutan. Oportunis? Mungkin. Gara-gara ini, saya jadi memikirkan relasi terdekat ayam-ayam ini. Coba lihat gambar ini.

bulu_kuau_p9140143.jpg

Mungkinkah berkaitan dengan kawin-mawin?

Ayam hutan sebagai pendahulunya para ayam kampung misalnya. Perilakunya gak jauh beda dengan yang sudah urbanisasi dari hutan ke kampung. Satu jantan diikuti banyak betina. Pernah di salah satu hutan di Sulawesi Tengah, saya melihat sekelompok ayam menuruni bukit kecil. Menariknya, si jantan mendahului turun bukit dan menanti 7 ekor betina menuruni bukit itu satu persatu. Seakan-akan memastikan para betinanya dapat turun dengan selamat. Ini sih gak ada hubungannya sama gambar tadi.

Lain lagi pada relasi yang lain. Kuau raja atau Great argus misalnya. Burung ini hampir mirip merak tetapi beredarnya di Sumatra dan Kalimantan. Burung jantannya lebih suka sendirian, membuka lapangan kecil di tengah hutan untuk narsis dengan menari. Mungkin memang pas juga dibilang narsis. Setiap pagi, si Kuau jantan suka sekali memperdengarkan suaranya untuk memastikan bahwa he’s there and don’t bother me kepada tetangganya. Dia juga seringkali melatih tariannya (dengan sayap dan ekornya) dan yakin banget kalau bakal ada betina yang tertarik. Corak pada sayapnya diduga memang berperan penting dalam tariannya (lihat gambar tadi). Mmungkin juga punya efek hypnosis bagi betina (tapi yang ini asumsi pribadi lho). Kuau raja juga gak suka berlama-lama dengan betinanya. Setelah masa bertelur selesai, ditinggalkanlah si betina dengan piyiknya. Kalau mau lihat narsisnya, klik di sini.

Ada lagi relasi lain yang sedikit jauh. Puyuh sengayan atau Crested wood-partridge. Lebih besar sedikit dari burung puyuh (klik di sini untuk lihat gambarnya). Burung yang ini juga gak jauh beda dengan ayam hutan. Berkelompok satu-dua ekor jantan dengan betina yang banyak. Pernah perangkap modifikasi saya (ini untuk kepentingan penelitian lho..) menjerat seekor betina Puyuh sengayan. Tampaknya baru saja terjerat pada saat saya datang mengecek sebab teman-teman sekelompoknya masih beredar di situ. Kedatangan saya tentu saja mengusik rombongan ini dan segera menjauh kecuali jantannya. Setia betul menunggui betinanya dilepaskan dari jerat. Sampai-sampai justeru saya yang berkeringat resah karena ditunggui sang jantan yang tidak sabaran seperti berkata, “cepetan lepasin dong cewe’ gue”.

Ketiga relasi ini memang masih satu family, judulnya Phasianidae (pheasant). Bayangin nih, masih satu family aja urusan kawin-mawin beda-beda. Sayangnya family ini susahnya bukan main diamati langsung di habitatnya. Sensitif abis. Jadi saya juga belum menemukan info kalau-kalau ada anggota family ini yang monogami seumur hidup. Lagian, urusan kawin-mawin pada burung ada hubungannya dengan strategi menghadapi stabilitas lingkungan. Tapi ini burung lho ya……..