Dalam suatu seminar, saya yang saat itu bicara tentang pekerjaan ‘field biologist’ pernah mendapat pertanyaan. “Saya pernah melakukan survey sejenis katak yang cukup langka. Sudah berhari-hari cari sana-sini dengan segala cara dan berbagai teknik survey. Akhirnya kami menggunakan jasa paranormal karena sudah putus asa. Bagaimana menurut Ibu?” Nah lho!

sains2.jpg

Beberapa minggu kemudian, saya mendapat pertanyaan yang kurang lebih sama dari kolega yang sedang melakukan survey sejenis burung langka di Sumatra. “Mbak, saya sudah coba segala teknik dan gak lupa juga tahajud nih tapi tetap aja gak ketemu si burung ini. Usaha apa lagi ya?”

Selama ini saya memang belum pernah melakukan dan belum pernah mendengar ada biologist melakukan survey dengan pertolongan paranormal. Nasihat apa yang seharusnya saya berikan? Pikir-pikir sana sini, rasanya kok gak etis. Lah, kita ini kan melakukan observasi untuk menggambarkan situasi yang ada. Mau binatangnya ada atau tidak, mau dilihat sama kita atau tidak, ya sudah begitu hasilnya. Kalau pakai jasa paranormal, nanti malah binatang jadi-jadian yang muncul. Salah lagi dong hasilnya.

Dari terawangan saya tentang binatang jadi-jadian, pada akhirnya balik lagi ke biologist’s conscience. Kok jauh-jauh mikirnya, apa sudah dieksplore semua kemungkinan teknik survey? Tiap satwa punya detection cue (tanda-tanda deteksi) yang berbeda. Misalnya, ada burung seperti rangkong yang mudah dideteksi karena ukuran tubuh yang besar, warna yang relatif mencolok, dan suara yang keras. Tapi jenis burung lain seperti ayam hutan atau merak, mungkin sensitive banget sama suara manusia. Langsung sembunyi atau menjauh saat mendengar daun-daun kering atau ranting terinjak. Jadi teknik survey pun harus disesuaikan dengan sifat deteksi ini. Singkatnya, teknik survey yang tepat dapat meningkatkan kemungkinan deteksi.

Dari perkembangan analisa pun sudah ada yang membahas jenis-jenis yang punya kemungkinan deteksi yang kecil. Daripada menghitung populasinya, yang dihitung adalah occupancy rate nya yang konsepnya mirip dengan Mark recapture. Tapi kalau soal yang ini temen saya mungkin lebih tahu.

Jadi saya cuma bilang ke kolega saya itu. Tahajud sih tetap perlu. Kalau perlu puasa senin-kamis. Tapi tujuannya adalah mendapat kemudahan dari Nya dalam survey dari semua usaha yang patut dilakukan (secara biologist’s conscience tadi). Hehe, tapi mungkin jasa paranormal perlu juga buat cari harimau Jawa. Maksudnya untuk membedakan mana yang jadi-jadian, mana yang bukan….. Duh, lebih baik saya gak ngomong lagi deh. Nanti menerawang lagi ke jadi-jadian…