Tiap kali browsing foto atau gambar kupu-kupu Indonesia untuk kebutuhan identifikasi, mentoknya pasti ke situs-situs penjualan specimen kupu-kupu atau ke situs koleksi foto. Sementara situs yang lebih bersifat scientific justeru hanya menghadirkan list panjang berisi nama species (bahkan sampai subspecies). Jangan pula berharap ada situs Indonesia yang punya informasi tentang kupu-kupu negerinya sendiri. Kenapa ya begitu?

Keinginan manusia untuk memiliki rupanya cukup besar untuk seekor kupu-kupu mati. Seekor Idea blanchardi (Black-trimmed rice paper butterfly) dari Sulawesi dijual sudah bersama bingkainya minimal dipatok $ 29. Sementara seekor Cethosia myrina (seperti tampak di foto) yang dilindungi UU dijual dengan harga $ 50. Ingat, ini kupu-kupu mati lho… Bahkan ada juga yang menjual anting-anting sayap kupu-kupu yang di laminating. Rasanya miris juga. Tiap kali search untuk jenis yang distribusinya cukup luas, saya bisa dapat informasinya dari beberapa situs menarik seperti misalnya Hongkong urban park, lengkap dengan informasi host plant, klasifikasi, dan tempat-tempat untuk butterfly watching. Sementara tiap search untuk kupu-kupu berdistribusi sempit apalagi endemic, jatuhnya malah ke situs trade tadi (search sendiri deh di google).

Jadi, apakah kupu-kupu Indonesia hanya mendapat tempat di dalam frame kaca? Padahal mahluk satu ini punya kehidupan yang sedikit ribet. Metamorfosa, betul. Tapi juga kebutuhan hidupnya pun gak sederhana. Tumbuhan yang dikunjungi kupu-kupu dewasa lain dengan tumbuhan tempat ia meletakkan telurnya. Jadi, kasihan lah kalau salah satu kebutuhan hidup itu diputus. Tapi ya lebih kasihan kalau dijadikan pajangan. Dan lebih menyedihkan jika informasi yang ada justeru dari situs luar padahal saya percaya pasti ada someone in this country yang punya info lengkapnya. Sayangnya, saya pun baru bisa segini. Saya pun tetap mencari, kupu-kupu…kemana engkau terbang?