Sepatu… alas kaki… apa sih repotnya? Ya jadi repot kalau harus kerja di hutan apalagi hutan hujan tropisnya Indonesia. Sering hujan, banyak sungai kecil dan besar, gampang becek. Di stasiun penelitian Canguk aja, proses pencarian sepatu yang pas perlu beberapa tahun. Dari mulai sepatu kanvas berleher tinggi hingga sepatu tentara pernah dicoba. Hasilnya… yang kutu air lah, kaki lecet, pecah-pecah, belum termasuk berubahnya sepatu jadi seperti kerupuk akibat tanah dan lumpur yang sulit dibersihkan. Para perempuan penghuni awal stasiun ini gak pernah melewati masa coba-coba ini, hanya karena sepatu-sepatu ini masih cukup ‘rasis’ terhadap orang-orang berkaki Asia mungil. Masa coba-coba ini berakhir saat salah seorang mahasiswa yang sempat jadi penghuni stasiun penelitian ini menggunakan sepatu boot karet (rubber boots).

Meskipun sepatu jenis ini juga masih ‘rasis’ soal ukuran, tapi para perempuan berkaki mungil ikutan jadi pemakai setianya. Ukuran yang berlebih diatasi dengan berbagai cara seperti menggunakan 2 lapis kaos kaki, kaos kaki biasa dan kaos kaki pacet (pembungkus kaki home made yang dibuat dari kain belacu untuk melindungi kaki dari serangan pacet) atau menambahkan lapisan tambahan di bagian dasarnya. Ada juga yang kakinya super mungil sampai harus mendatangkan sepatu boot dari Inggris. Kalau gak salah sepatu terakhir yang dipakai adalah generasi ketiga yang diimpor (betul gak Di?). Maklum, keselamatan dan kenyamanan kerja adalah penting.

Apa aja keistimewaannya? Sepatu produksi lokal (dengan merek bervariasi) berkisaran harga Rp 40-60 ribu ini kalau dipukul rata dapat tahan hingga 2 tahun dengan tingkat pemakaian cukup intensif (wah, kok jadi promosi nih). Boot karet juga tahan becek, dapat melewati genangan serta sungai kecil yang tidak dalam, tahan duri rotan, dan tidak terlalu panas juga di musim kering (asal pakai kaos kaki). Sepatu impor juga tersedia di toko serba ada lisensi asing, namun beberapa pengguna mengeluh karena makin lama justru semakin sempit.

Lalu, apa ada kesusahannya? Ada juga. Hujan yang terlalu deras hingga tubuh basah kuyup mengalirkan tetesan air hujan dari tubuh dan pakaian kita ke dalam sepatu. Itu sama saja dengan berjalan membawa 2 ember berisi air dengan kaki. Tapi tentunya ini masih dihindari dengan cari tempat berteduh dulu.

Satu hal aja yang musti diingat. Pada saat hendak dipakai, jangan lupa balikkan sepatu ini dulu untuk mengeluarkan benda-benda yang tidak diinginkan. Gak kepingin kan kalau menginjak seekor laba-laba yang tengah mencari kehangatan di dalamnya.