Perjalanan ke Canguk kali ini saya pikir akan menjadi biasa2 saja. Apalagi kalau dibandingkan dengan perjalanan2 sebelumnya yang sarat muatan, target, dan kerjaan. Eh, nyatanya biar cuma 5 hari, tetap saja bermunculan ide-ide dan pemikiran2 baru. Terus terang, kecuali nonton Batman begins, sebelumnya saya masih gak ngeh juga dengan kelelawar biarpun sudah hampir 5 tahunan ikutan melirik riset-riset kelelawar. Bagi saya, mereka itu tampangnya sama semua (coba liat aja foto di bawah). Kalau dibandingkan dengan burung yang penuh warna dan kicauan, kelelawar sih gak ada apa2nya (mohon maaf nih buat para batman dan batgirl alias para peneliti kelelawar). Udah gitu, penelitian kelelawar buat saya yang termasuk manusia pagi hari termasuk paling repot karena harus keluar malam, gelap gulita di tengah hutan.

Apa betul begitu? Obrolan ringan di café Canguk sambil menghirup teh dan memandangi sungai Canguk bersama Pak manajer yang juga batman, ternyata membuka konteks baru bagi pemikiran saya tentang mahluk satu ini. Kuliah dari Pak manajer menjelaskan bahwa stasiun penelitian Canguk yang luas lahan penelitiannya sekitar 900 ha ternyata dihuni paling sedikit 46 jenis kelelawar. Jumlah ini sekitar 40% dari total jenis hewan Mamalia yang sudah tercatat di tempat ini. Ya, jangan sampai keliru. Kelelawar itu termasuk jenis mamalia dan satu-satunya mamalia yang bisa terbang.

Nah, yang jadi pemikiran saya bukan banyaknya jenis di sini, namun lebih kepada melimpahnya kelelawar di tempat ini. Bayangin aja, dalam semalam memasang harp trap (perangkap khusus untuk kelelawar insectivores) bisa diperoleh hingga 100 individu dalam satu harp trap. Penelitinya sampai kewalahan menangani ratusan kelelawar karena harp trap yang dipasang lebih dari satu. Kalau dibandingkan dengan beberapa lokasi yang jadi pusat para batman beraksi, jumlah ini cukup menghebohkan. So what gi tu loh? Oh iya, dengan banyaknya pemakan serangga artinya jumlah yang bisa dimakan juga banyak (ya serangganya itu). Serangga di dunia memang jumlah jenisnya buaaanyyaak banget. Itupun masih memungkinkan bertambahnya jenis yang hingga saat ini belum dapat diidentifikasi. Terus kenapa pula serangga perlu ada hingga sebanyak itu? Penentu keseimbangan ekosistem? Bisa jadi. Rusa hilang, hutan mungkin masih ada. Serangga hilang entah kekacauan apa yang terjadi. Hutan mungkin bakal kehilangan dinamikanya. Tak ada yang menyerbuki bunga, buahpun tak jadi, hewan pemakan buah kehilangan makanan. Tak ada yang membantu melapukkan dan membusukkan kayu-kayu tua. Apalagi bagi hewan yang makan serangga. Proses alam menjadi macet.

Nah, tapi membiarkan serangga melimpah tanpa terkontrol juga sama buruknya, apalagi buat manusia. Cicak makan nyamuk. Burung makan ulat. Utak-atik beberapa buku tentang kelelawar yang ada di Canguk, ternyata kelelawar pemakan serangga rata-rata harus makan serangga hingga setengah dari berat tubuhnya. Padahal besarnya tak lebih dari sekepalan tangan orang. Dalam konteks kecil, saya sendiri cuma membayangkan jika Canguk kehilangan kelelawarnya. Canguk ini lokasinya tak lebih dari 6 km dari kebun atau ladang terdekat. Jadi, kalau hutan Canguk sudah tak mampu mendukung hidupnya para serangga, pergi ke mana mereka? Bukan tak mungkin jika ladang-ladang menjadi lebih sering diserang hama.

Kelelawar sendiri selain terdiri dari jenis pemakan serangga (Microchiroptera), juga ada yang melahap buah dan nectar (Megachiroptera). Dari namanya juga sudah terlihat bahwa yang Micro tubuhnya rata-rata jauh lebih kecil dan yang Mega punya tubuh lebih besar. Pernahkan terpikir kalau durian yang kita makan adalah hasil penyerbukan kelelawar? Begitu juga dengan petai, mangga, pisang, dan papaya. Karena kemampuan terbang dan jelajah yang cukup jauh (dapat lebih dari 20 km), secara otomatis kelelawar juga ikut menyebarkan biji dari buah yang dimakannya, seperti jambu biji, sawo, dan kenari. Jadi, bayangkan sendiri deh kalau dunia ini tanpa kelelawar.