Kualat itu kata dari bahasa Jawa. Entah arti tepatnya. Tapi sering dipahami sebagai kena tulah, bad karma, atau accursed. Dari jaman masih kecil dulu, eyang-eyang, ortu, sampe pembantu sering mengingatkan kalau kita berbuat jelek, hati-hati, nanti kualat. Ini biasanya kalau menyangkut berbuat tidak sopan terhadap ortu, misalnya dari mulai bicara dengan volume lebih keras dari ortu, atau marah-marah kepada ortu.

Di jaman sekarang ini, menurut saya lebih pas diartikan sebagai ‘ganjaran’. Dengan begini, sifatnya tidak hanya negatif tetapi dapat juga positif. Semua perbuatan, perlakuan, bahkan perkataan kita pasti ada ganjarannya. Saya percaya banget sama yang ini. Tetapi namanya manusia, susah banget mengontrol perbuatan apalagi kata-kata. Apalagi kalau sudah disakiti. Kepingin banget rasanya ngomong terhadap hal-hal yang menyakiti kita, I wish ……….. Tetapi itu tentu saja dapat berbalik arah ke kita sendiri, kualat lagi nantinya.

Jadi, berdasarkan pengalaman kualat, saya coba bikin aturan buat diri saya sendiri:

  1. Selalu minta ijin sama ortu (terutama kalau masih di bawah tanggungan mereka). Pernah nih jaman mahasiswa dulu mau pergi camping. Udah ngomong tapi ijin resmi belum keluar. Perjalanannya jadi penuh dinamika, dari mulai jatuh ke sungai, sepatu hilang dicuri orang, sampai tersesat di dalam hutan. Sejak saat itu, saya selalu menunggu perkataan “ya, boleh” itu keluar dari mulut ibu (untungnya ibu saya punya tingkat toleransi yang tinggi).
  2. Hati-hati dengan perkataan kita sebab kata-kata adalah doa. Sampai sekarang ini masih bener. Kejadiannya cuma setahun terakhir ini. Kegiatan penelitian yang harus bolak-balik selama 3 tahun ke hutannya Buton yang gak rata itu pastinya bikin kelelahan fisik dan mental sehingga kadang-kadang terucap “duh, coba gue gak perlu balik lagi ke sini..” Beneran kan, di tahun ketiga kegiatan ini terganjal ijin. Emang jadinya waktu survey lebih pendek tapi itu juga berarti harus siap dengan ganjaran menanti yaitu kepusingan dalam analisa data yang hilang, dan pertanggung jawaban thesis.
  3. Gak ada salahnya berbuat baik. Soalnya kalau kita berbuat baik sama orang, yang membalas belum tentu orang tersebut, tetapi justeru lewat orang yang lain lagi karena “tangan Tuhan” bisa lewat siapapun. Saya beberapa kali tinggal di tempat-tempat baru, di lingkungan baru yang beda budaya, dan beda segalanya. Saya gak pernah bertemu dengan orang-orang ini. Jadi kalau mereka berbuat baik pada saya, I must have done something good in the past.

Hal-hal seperti ini memang bisa juga gak dipikirin. Yang terjadi, terjadilah. That’s the dynamic of life. Tapi gimana kalau ada orang yang menyakiti kita? I am just an ordinary girl who makes common mistakes. Gak bisa dipungkiri kalau ada rasa marah, kesal, dan sejuta I wish tadi berkecamuk di otak ini. Tetapi rasa itu ya harus ditahan. Sebab saya masih takut kualat, masih takut akan ganjaranNya. I can only say, “God bless all the people who hurt me”.