Ini cuma sekedar oleh-oleh dari acara kenduriannya Jalansutra di Gedung Arsip. Saya cuma mau komentar satu, lontong kupang, makanan khasnya Surabaya…mmmmm…. Itu tuh, rebusan kupang dengan kuah petis yang dimakan dengan lontong. Soalnya jadi teringat perjalanan ke Surabaya sekitar pertengahan 80-an dengan Ayah saya. Beliau yang sekitar tahun 40 an pernah sekolah di Surabaya tentu saja berusaha mencari makanan favoritnya. Dari perjalanan itu, yang saya ingat ya cuma satu ini. Malam-malam cari makan ke arah Sidoarjo dan pesan lontong kupang. Saya sih ikut saja, tetapi sebagai penggemar lurjuk yang banyak dijual di Pantai Kenjeran Surabaya, ternyata lontong kupang ini cukup berkesan dan nempel banget di otak.

kupang.jpg

Ha, buktinya… lontong kupanglah yang paling tertinggal di benak. Begitu makan, rencana berikut langsung nempel di otak, harus bawa pulang lontong kupang. Bukan anggota tim kudaber bio UI kalo makan gak sambil ngebahas. Sambil makan semangkok berdua (taktik jitu untuk ikutan acara makan-makan kaya gini) dengan MDP (inisial menunggu persetujuan yang punya nama), kita ngebahas benda apakah kupang itu. Bivalvia atau gastropoda? Maksudnye… jenis kerang atau keong2an. Maklum deh, bukan orang Surabaya sih. Soalnya kupang itu kan kecil2 banget. Kebayang gak sih, kalau dia termasuk kerang2an, gimana tuh ngupasnya satu-satu. Jaman kuliah dulu aja kalo lagi iseng ngumpulin remis di Pulau Semak Daun, ngupasnya aja bikin bosen. Jadi sampai lontong kupangnya habis, kita tidak berhasil menarik kesimpulan apapun selain persetujuan atas mantapnya rasa petis dan bawang putih goreng.

Anyway, rencana yang udah nempel di otak tentunya berhasil dilaksanakan dan survive menempuh perjalanan dari kota ke Depok dalam berjubelnya penumpang di KRL. Dan, Ayah saya suprise banget mendengar kata2 “lontong kupang”. Jadi, mana tahan tunggu waktu makan malam (apalagi beliau kan bapaknya anggota tim kudaber….). “Rasanya sama…” Itu kata beliau. Btw, diskusi berlanjut membahas si kupang ini yang sering menjadi bahan petis. Kali ini info bertambah sedikit, kupang ini sejenis hewan laut bivalvia (iya..kerang). Menurut beliau ada 3 jenis kupang yang beliau kenal, kupang beras, kupang ekor, dan kupang tawon. Yang paling sering ya kupang beras ini. Nah, lontong petis yang beliau kenal sendiri biasanya murah jeruk nipis. Namun kesan asam dari murahnya perasan jeruk tadi ternyata dinetralkan dengan sifat alkali dari petis sehingga menjadi rasa yang …mmm…. pas.

My scientific curiousity sebenernya masih belum terjawab seluruhnya. Speciesnya apa ya? Cari-cari di google ternyata tetap gak terjawab. Padahal ingin tau juga bentuk aslinya, di laut bagian mana beredarnya, apakah masih sustainable buat konsumsi penduduk Surabaya dan sekitarnya (termasuk yang udah di’ekspor’ ke Jakarta macam begini). Emangnya so what gitu loh kalau tau… Lah, makanan enak begini kalau sumbernya gak sustainable, gimana nasib kudaber2 macam kita…. Jangan sampai makanan khas macam lontong kupang punah dan cuma jadi remembrance of the past.

Powered by ScribeFire.